10 Kabupaten/Kota di Sumut Dikepung Banjir di Penghujung 2017

Gubsu Tengku Erry Tinjau Banjir Tebingtinggi

1
59
BANJIR SUMUT. Sebanyak 10 kabupaten/kota di Sumatera Utara terkena dampak banjir. Penyebab banjir akibat curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan debit air sungai meluap dan menggenangi ribuan pemukiman warga. Foto suasana banjir di salah satu kawasan di Medan yang sempat menjadi viral di sosial media. [edisimedan.com/istimewa]

EDISIMEDAN.com, MEDAN – Di penghujung tahun 2017 ini, sebanyak 10 kabupaten/kota di Sumatera Utara terkena dampak banjir. Penyebab banjir akibat curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan debit air sungai meluap dan menggenangi ribuan pemukiman warga.

Banjir terjadi di Kota Medan, Tebingtinggi, Langkat, Simalungun, Sergai, Nias, Madina, Tapsel dan sejumlah daerah lainnya.

BACA JUGA

Gubsu Tengku Erry Nuradi, saat meninjau korban banjir di Tebingtinggi dan Serdangbedagai, Minggu (3/12/2017), menyampaikan keprihatinannya atas bencana banjir yang terjadi di sejumlah wilayah itu.

Tengku Erry Nuradi didampingi Walikota Tebingtinggi, Umar Zunaidi Hasibuan dan Bupati Serdangbedagai Soekirman

BACA JUGA

“Memang belakangan ini, intensitas hujan cukup tinggi di hampir seluruh daerah di Sumatera Utara. Sehingga Tebingtinggi menjadi kawasan yang paling parah terkena dampak banjir,” ujar Erry.

Warga yang ditemui Tengku Erry juga mengatakan walaupun banjir sudah mulai surut, namun warga masih trauma. Mereka takut banjir susulan akibat hujan yang terus di sekitar pegunungan.

Gubsu Tengku Erry Nuradi, saat meninjau korban banjir di Tebingtinggi dan Serdangbedagai, Minggu (3/12/2017), menyampaikan keprihatinannya atas bencana banjir yang terjadi di sejumlah wilayah itu.

“Warga masih trauma dan takut. Banyak yang gak tidur karena ada kabar hujan di Sinda Raya,” terangnya.

Sebab itu, Tengku Erry berharap bencana banjir bisa segera selesai dan masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa. Sebab dengan kejadian ini, perekonomian warga terganggu.

“Ada tiga hal yang harus kita siapkan jika terjadi bencana. Pertama pencarian dan penyelamatan kepada korban, khususnya jika ada warga yang hilang. Kedua tanggap darurat, seperti mendirikan tenda, posko keamanan dan posko kesehatan dan sebagainya yang diperlukan untuk menangani korban,” sebut Erry.

Sementara langkah ketiga yakni pasca bencana. Berbagai kerugian fisik biasanya muncul seperti kerusakan bangunan dan infrastruktur lainnya. Terutama fasilitas umum, apakah sekolah, rumah ibadah dan sebagainya. Selain bangunan, tentu terpenting juga adalah perbaikan jalan dan jembatan yang rusak, sebagai akses sosial ekonomi masyarakat.

BACA JUGA

“Begitu juga dengan masyarakat yang masih tinggal di bantaran sungai (DAS), kita harapkan untuk bisa pindah, karena bisa membahayakan penduduk itu sendiri. Untuk kepindahan, pemerintah mendorong adanya relokasi ke tempat yang lebih baik seperti rumah susun,” ucap Erry. [ded]

Apa Pendapat Anda?