Home / SUMUT / Eks Sentra Padi, Kini Membeli Beras

Eks Sentra Padi, Kini Membeli Beras


LABUHANBATU | Alih fungsi lahan pertanian sawah ke perkebunan kelapa sawit terjadi secara besar-besaran di kecamatan Panai Hulu dan Panai Tengah, Labuhanbatu. Alhasil, status sentra pertanian padi hilang dari daerah itu.Peralihan terbesar fungsi lahan di sana, diperkirakan sepanjang tahun 2000-2008. Pengalihan lokasi persawahan padi terjadi secara massal."Selama 8 tahun itu terbesar peralihan fungsi sawah ke kebun sawit," ungkap Ahmad R dan Iwan, warga Dusun Sidomakmur Desa Sijawi-jawi, Panai Tengah, Labuhanbatu, Senin (18/8/2014).Dahulu, kata Ahmad, dari Desa itu setiap hari dipastikan sedikitnya 700-an karung padi dikirim ke luar daerah itu.Padi-padi tersebut dihasilkan dari ratusan hektar persawahan di Kecamatan Panai Tengah, Labuhanbatu dan dari Desa Kampung Mesjid, Kecamatan Kualuh Leidong, Labuhanbatu Utara.Tujuan pengirimannya, antara Tanjung Balai dan Asahan. Transportasi ketika itu via muara sungai ke laut. "Dulu setidaknya 700 goni masing-masing berat 100 kilogram padi dijual dari Desa kami," katanya.Varietas padi yang dominan ketika itu jenis varietas lokal, yakni Kuku Balam dan Ramos. "Juga jenis IR 64," tambahnya.Saat ini, kata mereka, kondisi justru sebaliknya. Daerah penghasil padi justru membeli beras. "Sekarang kami mesti mendatangkan dan membeli beras dari luar," imbuhnya.Mereka mengaku tergiur dengan alih profesi petani kebun sawit yang seakan lebih menjanjikan. Sebab, budidaya padi dipandang tidak memberi harapan, ditambah lagi rendahnya perhatian pemerintah terhadap pembinaan para petani. [jar]

LABUHANBATU | Alih fungsi lahan pertanian sawah ke perkebunan kelapa sawit terjadi secara besar-besaran di kecamatan Panai Hulu dan Panai Tengah, Labuhanbatu. Alhasil, status sentra pertanian padi hilang dari daerah itu.

Peralihan terbesar fungsi lahan di sana, diperkirakan sepanjang tahun 2000-2008. Pengalihan lokasi persawahan padi terjadi secara massal.

“Selama 8 tahun itu terbesar peralihan fungsi sawah ke kebun sawit,” ungkap Ahmad R dan Iwan, warga Dusun Sidomakmur Desa Sijawi-jawi, Panai Tengah, Labuhanbatu, Senin (18/8/2014).

Dahulu, kata Ahmad, dari Desa itu setiap hari dipastikan sedikitnya 700-an karung padi dikirim ke luar daerah itu.

Padi-padi tersebut dihasilkan dari ratusan hektar persawahan di Kecamatan Panai Tengah, Labuhanbatu dan dari Desa Kampung Mesjid, Kecamatan Kualuh Leidong, Labuhanbatu Utara.

Baca Juga:  Terkelin : Pejabat OPD Pemkab Karo Harus Berpikir Kreatif dan Konstruktif

Tujuan pengirimannya, antara Tanjung Balai dan Asahan. Transportasi ketika itu via muara sungai ke laut. “Dulu setidaknya 700 goni masing-masing berat 100 kilogram padi dijual dari Desa kami,” katanya.

Varietas padi yang dominan ketika itu jenis varietas lokal, yakni Kuku Balam dan Ramos. “Juga jenis IR 64,” tambahnya.

Saat ini, kata mereka, kondisi justru sebaliknya. Daerah penghasil padi justru membeli beras. “Sekarang kami mesti mendatangkan dan membeli beras dari luar,” imbuhnya.

Mereka mengaku tergiur dengan alih profesi petani kebun sawit yang seakan lebih menjanjikan. Sebab, budidaya padi dipandang tidak memberi harapan, ditambah lagi rendahnya perhatian pemerintah terhadap pembinaan para petani. [jar]

Terkait


Berita Terbaru