Home / MEDAN TODAY / Pemilihan Walikota Medan Diprediksi Diramaikan Figur Orang Muda

Pemilihan Walikota Medan Diprediksi Diramaikan Figur Orang Muda


[caption id="attachment_530" align="alignleft" width="263"]dadang darmawan dadang darmawan[/caption]MEDAN| Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Medan 2015 mendatang merupakan momentum bagi kaum muda untuk unjuk diri dan bersaing dengan para politisi senior.Munculnya figur-figur muda yang meramaikan bursa Pilkada 2015 dalam pemberitaan di media massa ini dinilainya adalah sebuah fenomena yang menarik untuk dicatat."Padahal kita lihat lima tahun lalu pasangan yang muncul adalah figur-figur yang tidak asing dan sudah muncul dalam panggung politik daerah. Nah kali ini orang berani memunculkan figur-figur muda, ini menggembirakan sekaligus tantangan bagi orang-orang muda untuk merebutnya," ujar pengamat politik Dadang Dharmawan seperti dilansir MedanBisnis hari ini, Rabu (3/9/2014).Hal ini, kata Dadang didasarkan atas munculnya figur-figur muda dalam pemberitaan di media massa yang mulai meramaikan bursa Pilkada Walikota Medan. "Ya mereka memang yang berhasrat untuk meramaikan pilkada, mau tak mau harus masuk ke media dan mempersiapkan diri membangun komunikasi," jelasnya.Pengamat politik Shohibul Anshor Siregar, menilai, meski sudah muncul banyak nama yang meramaikan bursa Pilkada Medan, sejauh ini menurutnya belum muncul solidarity maker (figur pemersatu) yang bisa diandalkan. Ia contohkan simpul politik Islam misalnya. "Tidak akan bisa Muhammadiyah memenangkan calonnya sendiri, begitu juga NU, Al-Washliyah. Makanya perlu sosok pemersatu, itu yang belum muncul," katanya.Karena itu, kata dia, perlu ada komunikasi politik yang intens dilakukan partai politik (parpol) khususnya kepada masyarakat untuk menjaring masukan-masukan. "Belum ada komunikasi politik yang lancar dari parpol, sehingga muncul mutual understanding antara mereka dan masyarakat, dan juga pentingnya evaluasi diri oleh parpol," ungkapnya.Evaluasi yang dimaksudkannya adalah evaluasi diri parpol terhadap pola-pola kepemimpinan yang belum memberikan manfaat kepada masyarakat secara menyeluruh."Evaluasi dirilah parpol, sehingga masyarakat merasa terwakili. Ubahlah dari kampanye sekali lima tahun menjadi advokasi rakyat selama lima tahun," tandasnya. [ray]
dadang darmawan
dadang darmawan

MEDAN| Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Medan 2015 mendatang merupakan momentum bagi kaum muda untuk unjuk diri dan bersaing dengan para politisi senior.

Munculnya figur-figur muda yang meramaikan bursa Pilkada 2015 dalam pemberitaan di media massa ini dinilainya adalah sebuah fenomena yang menarik untuk dicatat.

“Padahal kita lihat lima tahun lalu pasangan yang muncul adalah figur-figur yang tidak asing dan sudah muncul dalam panggung politik daerah. Nah kali ini orang berani memunculkan figur-figur muda, ini menggembirakan sekaligus tantangan bagi orang-orang muda untuk merebutnya,” ujar pengamat politik Dadang Dharmawan seperti dilansir MedanBisnis hari ini, Rabu (3/9/2014).

Baca Juga:  Akhyar: Terima Kasih Brigjen Dadang Hartanto, Selamat Datang & Bertugas Kombes Johnny Edison

Hal ini, kata Dadang didasarkan atas munculnya figur-figur muda dalam pemberitaan di media massa yang mulai meramaikan bursa Pilkada Walikota Medan. “Ya mereka memang yang berhasrat untuk meramaikan pilkada, mau tak mau harus masuk ke media dan mempersiapkan diri membangun komunikasi,” jelasnya.

Pengamat politik Shohibul Anshor Siregar, menilai, meski sudah muncul banyak nama yang meramaikan bursa Pilkada Medan, sejauh ini menurutnya belum muncul solidarity maker (figur pemersatu) yang bisa diandalkan. Ia contohkan simpul politik Islam misalnya. “Tidak akan bisa Muhammadiyah memenangkan calonnya sendiri, begitu juga NU, Al-Washliyah. Makanya perlu sosok pemersatu, itu yang belum muncul,” katanya.

Baca Juga:  Bagi Warga Muhammadiyah, Akhyar Nasution Sudah Berbuat untuk Medan

Karena itu, kata dia, perlu ada komunikasi politik yang intens dilakukan partai politik (parpol) khususnya kepada masyarakat untuk menjaring masukan-masukan. “Belum ada komunikasi politik yang lancar dari parpol, sehingga muncul mutual understanding antara mereka dan masyarakat, dan juga pentingnya evaluasi diri oleh parpol,” ungkapnya.

Evaluasi yang dimaksudkannya adalah evaluasi diri parpol terhadap pola-pola kepemimpinan yang belum memberikan manfaat kepada masyarakat secara menyeluruh.

“Evaluasi dirilah parpol, sehingga masyarakat merasa terwakili. Ubahlah dari kampanye sekali lima tahun menjadi advokasi rakyat selama lima tahun,” tandasnya. [ray]

Terkait


Berita Terbaru