Home / CITYLIFEMEDAN TODAY / Pengusaha di Medan Tidak Siap Hadapi Masa Pensiun

Pengusaha di Medan Tidak Siap Hadapi Masa Pensiun


MEDAN| Kalangan pengusaha di Medan cenderung memilih mempertahankan gaya hidup mewah daripada memikirkan masa depannya di masa tua nanti.

Demikian hasil survei Manulife Investor Sentiment Index (MISI) dari Manulife Indonesia gelombang keempat. Riset yang dilakukan medio November-Desember 2014 ini melibatkan 500 responden di Medan dimana sebagian besar diantaranya adalah para bisnis owner. Sementara sebagian responden lainnya karyawan dengan pendapatan di atas 2 juta/bulan.

Hasil temuan terakhir MISI menunjukkan, sebanyak 61 persen pengusaha di Medan sama sekali belum merencanakan masa pensiun. Sedangkan 39 persen lainnya sudah memikirkan, sayangnya optimisme ini tidak didukung aksi nyata.

Baca Juga:  Forum Bisnis dan Ekspo Rempah Indonesia Diharapkan dapat Untungkan Petani Sumut

“Hasil survei menunjukkan bahwa, 61 persen para bisnis owner cenderung untuk mempertahankan gaya hidup (24 persen), membeli barang mewah seperti mobil atau liburan ke luar negeri (17 persen) dan pendidikan anak (17 persen),” ujar Chief Employee Benefits PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Nur Hasan Kurniawan dalam forum diskusi dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa di Medan, Kamis (18/3/2014).

Pertemuan tersebut langsung dihadiri Vice President and CEO Communications & Media Relations Manulife Kanada, Graeme Harris, Chief Clients Officer Novita J Rumngangun dan External Commication Manager Ruthania Martinelly.

Diakui Nur Hasan, secara statistik ketidaksiapan para pengusaha di Medan terhadap persiapan masa pensiun lebih tinggi daripada rata-rata pengusaha Jakarta dan Surabaya.

Baca Juga:  Eksekutif Muda Terancam Miskin di Hari Tua

“Ini terjadi mungkin karena ketidaktahuan mereka, kurang paham dan atau tidak tertarik membeli program pensiun tambahan sebagai alternatif. Mereka terlalu mengandalkan tabungan untuk membiayai hidup mereka di hari tua,” kata Hasan.

Padahal, sambung Nur Hasan, uang simpanan akan habis karena tergerus inflasi secara perlahan. Apalagi hanya mengandalkan warisan bukan hal tepat sebab ada unsur ketidakpastian, jelasnya. [ded]

Terkait


Berita Terbaru