Home / BISNIS / TPL Temukan Teknologi Kupas Kulit Ekaliptus

TPL Temukan Teknologi Kupas Kulit Ekaliptus


Sistem kerja “JUSPAKU” di sektor HTI TobaPulp Aek Nauli Kabupaten Simalungun

AEKNAULI| TPL menemukan teknologi pengupas kulit ekaliptus dengan konstruksi sangat sederhana hingga memungkinkan bahan baku kayu yang diangkut dari HTI ke pabrik sudah dalam keadaan terkupas, dan secara sigifikan menghasilkan penghematan.

Teknologi itu berupa bangunan segi empat. Bahannya terbuat dari besi bulat berdiameter 80 mm dan 60 mm. Ukurannya, panjang 4,5 m, lebar 2,4 m, dan tinggi 1,5 m. Spesifikasinya terdiri atas kerangka besi berbentuk trapesium terbuka, didisain sedemikian rupa sehingga bisa menampung sekaligus  sekitar 40 batang kayu bergaris tengah rata-rata 15 cm, setara 3,5 meter kubik atau 3,5 ton.

Cara kerjanya sederhana. Kayu gelondongan ekaliptus (Ecalyptus sp) dipotong-potong dengan gergaji mesin (chainsaw) sepanjang 4,2 m. Lalu dimasukkan ke dalam trapesium ini. Kubikasinya lebih kurang 3,5 meter kubik. Alat berat excavator kemudian menjepit sebatang kayu lain yang keras, atau dapat juga berupa besi sepajang 3 meter berdiameter 40 cm yang berfungsi  sebagai tongkat (stick).

Melalui gerakan tertentu excavator  secara keras menekan-nekan atau menumbukkan tongkat ke tumpukan kayu. Melalui energi kinetik itu kayu-kayu  pun saling menghantam, saling bergesekan sambil berputar. Gerakan unik itu dimungkinkan terjadi karena postur kayu relatif seragam (panjang dan bulat).

Baca Juga:  Gelar Buka Puasa Bersama, Direktur PT TPL Curhat ke Wartawan

Kulitnya yang masih basah –karena baru dipanen– memudahkannya terkelupas. Maka, hanya dalam tempo lebih-kurang 3,5 menit semua kulit sudah terlepas dari kayunya. Dengan kemampuan kupas 25-30 meter kubik per jam, dan waktu operasional sehari mencapai 10 jam, maka kapasitas kupasnya mencapai 250 hingga 300 meter kubik per hari.

Penyempurnaan alat serta cara pengoperasiannya memungkikan kapasitas kupas ditingkatkan mencapai 50 ton per jam.

Alat ini dirakit dengan modal sekitar Rp50 juta, dan mudah dipindah-pindahkan dengan menggunakan alat berat excavator sesuai kebutuhan.

Selama ini, kebanyakan kayu bahan baku pabrik diangkut ke pabrik bersama kulitnya. Kulit baru dikupas di debarking drum, di pabrik, sebelum dicacah menjadi serpihan (chips). Pengupasan kulit di HTI (hutan tanaman industri) dengan sendirinya meringankan timbangan setiap batang ekaliptus yang diangkut.

Selain itu, kulit kayu yang tertinggal di HTI pun menjadi pupuk alam untuk tanaman daur selanjutnya.

Sejak Agustus 2014, pengupasan kulit ekaliptus sebenarnya sudah dimulai melalui dua cara. Tetapi produktivitasnya terbatas.  Pertama, pengulitan secara manual dengan memakai parang pengupas. Untuk mengupas kayu setara kapasitas trapesium diatas 250 hingga 300 meter kubik per hari, diperlukan tenaga lebih kurang 350 orang.

Baca Juga:  Insiden Kebakaran Area Kerja BEI Tak Terdampak pada Data Center dan Operasional Perdagangan

Cara lain ialah dengan mengoperasikan mesin pengupas (harvester). Harga per unitnya cukup mahal, sekitar Rp3 miliar. Kapasitasnya pun terbatas, hanya sekitar 8 meter kubik per jam atau 80 meter kubik per hari. Mengingat pekerjaan kupas kulit merupakan bagian dari paket kontrak pemanenan (mulai dari tebang hingga angkut) yang ditangani oleh para rekanan (mitra-usaha) lokal, maka inovasi alat pengupas trapesium dipandang sebagai hal yang fenomenal. Sebab, pengadaan mesin pengupas masih terasa cukup memberatkan.

JUSPAKU  TOBA
Alat kupas trapesium itu merupakan temuan Julius Simbolon, alumni IPB (Institut Pertanian Bogor) jurusan Teknologi Hasil Hutan, yang sehari-hari menjabat Askep wood supply di HTI  sektor Aeknauli.

Mengadopsi nama penemunya, alat kupas trapesium itu pun dilabeli JUSPAKU TOBA  (Julius Simbolon Penemu Alat KUpas kayu di TOBA Pulp Lestari).

Baca Juga:  TPL Dukung Pemerintah Bebaskan Tanah Adat di Areal Konsesi

Manajer HTI sektor Aeknauli, Asep Nugraha Budiawan, menguraikan sejumlah nilai berkaitan dengan penemuan JUSPAKU TOBA.

Pertama, sangat  membanggakan karena kesederhanaan teknologinya, keekonomisan modalnya, serta efektivitas kerjanya. Kedua, teknologi ini diciptakan sendiri oleh awak TPL di kawasan Toba dan karena itu nama penemunya diabadikan sebagai nama produk.

Ketiga, penemuan ternyata mengundang perhatian dari “pemain” HTI lain yang sudah memiliki reputasi global seperti RAPP, Dumai Fiber, dan PechTech. Perusahaan-perusahaan itu mengirim wakil-wakilnya untuk mempelajari cara kerja trapesium JUSPAKU ke HTI TPL di sektor Aeknauli, serta memperoleh penjelasan langsung dari penemunya, Julius Simbolon, berserta asistennya Pario dan Maiden Sianturi.

Julius Simbolon sendiri mengemukakan, hal paling menarik minat para pengunjung ialah efisiensi dan efektivitas kerja trapesium dengan output-nya penghematan cost operational  secara signifikan. Keempat, penamaannya sebagai JUSPAKU melambangkan upaya keras dan tak pernah henti memungkinkan kemustahilan menjadi nyata.

“TPL baru merakit 20 unit, tetapi perusahaan lain sudah ada yang membuat 100 unit,” kata Asep. [ded]

Terkait


Berita Terbaru