Home / BISNIS / Kementerian Pertanian Diminta Genjot Swasembada Kedelai

Kementerian Pertanian Diminta Genjot Swasembada Kedelai


JAKARTA| Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), menemukan Kementerian Pertanian tidak berhasil mencapai target pertumbuhan produksi kedelai sebesar 20,05 persen per tahun dan target swasembada kedelai tahun 2014 sebanyak 2,70 juta ton tidak tercapai.

Ini diketahui dari laporan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) dan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) selama semester II-2014. Dari LHP ini, anggota DPR Komisi IV Rofi Munawar, meminta agar Kementerian Pertanian memperhatikan LHP BPK tersebut sebagai pijakan dalam realiasai pencapaian swasembada kedelai di tahun 2017.

“Perlu disadari bahwa kebutuhan kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun, namun ironisnya produksi kedelai domestik tidak dapat mengimbanginya, sehingga untuk mencukupinya masih harus impor. Produksi kedelai dalam negeri terus menurun secara tajam sejalan dengan penurunan areal tanam,” ujarnya.

Pemerintah menargetkan swasembada pangan untuk padi, jagung termasuk kedelai terealisasi dalam 1 hingga 3 tahun ke depan. Secara lebih teknis, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menggariskan target untuk masing-masing komoditas tersebut, seperti padi, pada tahun 2015 ini ditargetkan 73 juta ton, sedangkan untuk jagung 20 juta ton pada 2016 dan terakhir kedelai sebanyak 2,2 juta ton.

Baca Juga:  Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tempe di Tebingtinggi Menjerit

Legislator dari Jawa Timur ini menambahkan, laporan BPK memberikan gambaran nyata bagi Kementerian Pertanian bahwa target swasembada kedelai tahun 2017 harus dilakukan dengan
perencanaan yang matang, inftrastruktur pertanian yang memadai dan tata niaga yang sehat.

Mengingat selama ini, beragam masalah produksi salah satu alasannya karena menurunnya areal tanam kedelai dan rendahnya harga jual di tingkat petani sebagai akibat rendahnya partisipasi petani dalam menanam, karena secara nyata budidaya kedelai yang diusahakan tidak memberi keuntungan yang layak kepada petani. Hal tersebut terjadi, karena terbatasnya ketersediaan teknologi dan rendahnya adopsi teknologi di tingkat petani serta rendahnya tingkat harga yang diterima, sehingga menurunnya nilai tukar petani.

Baca Juga:  KPPU Prediksi Maret Harga Bawang Putih Berpotensi Naik

“Produksi kedelai dalam negeri senantiasa mengalami fluktuasi produksi dari tahun ke tahun. Karena produksi kedelai yang tak stabil tersebut, dalam beberapa tahun terakhir berdampak langsung pada lonjakan harga di tingkat konsumen. Gejolak harga yang kerap terjadi tidak lepas karena industri berbahan baku kedelai di dalam negeri sangat tergantung dari pasokan impor,” tegasnya.

Rofi mencatat setiap tahun industri tahu-tempe membutuhkan 1,85 juta ton kedelai, industri kecap dan tauco sekitar 325.220 ton, benih 25.843 ton dan untuk pakan sekitar 8.319 ton. Kebutuhan kedelai yang sangat tinggi tersebut, belum dapat diimbangi dengan produksi kedelai nasional.

Pada akhirnya seringkali kebijakan Pemerintah untuk menekan gejolak harga di pasaran dengan melakukan importasi kedelai. BPS mencatat sejak tahun 1990-2001 lajunya terus meningkat. Dari 541 ribu ton (1990) naik cukup drastis hingga 1,5 juta ton pada tahun 2011. Impor kedelai tersebar dari Amerika Serikat (AS) sebanyak 1,85 juta ton, Malaysia 120 ribu ton, Argentina 73 ribu ton, Uruguay sekitar 16.824 ton dan Brasil sebanyak 13.550 ton.

Baca Juga:  Bank Sumut Salurkan Zakat kepada BAZNAS dan Bagi Sembako

“Kementerian Pertanina harus melakukan kerja kolektif dengan berbagai pemangku kepentingan untuk dapat merealisasikan pencapaian target swasembada kedelai tahun 2017.

Diantaranya memastikan harga produksi di tingkat petani yang kompetitif, ekstensifikasi lahan dan penerapan teknologi baru,”pungkasnya.

Dengan kebutuhan kedelai sekitar 2,4 juta ton per tahun, ternyata produksi dalam negeri tak lebih dari 1 juta ton. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi kedelai tahun 2012 sebanyak 843.153 ton, tahun 2013 turun menjadi 779.992 dan tahun 2014 naik lagi menjadi 953.956. [khi]

Terkait


Berita Terbaru