Home / SUMUT / Anak Gajah Sumut Bernama Aras Jadi Maskot Uni Eropa

Anak Gajah Sumut Bernama Aras Jadi Maskot Uni Eropa


Ibu dan anak gajah (ilustrasi)

JAKARTA| Delegasi Uni Eropa di Jakarta mengadopsi Aras, anak gajah dari Kawasan Ekosistem Leuser, sebagai maskot untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian tersebut berkontribusi terhadap penanganan perubahan iklim.

Kepala Bagian Kerjasama dari Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Franck Viault dalam siaran persnya, Rabu (17/6/2015) menilai, dengan masalah perubahan iklim yang semakin memprihatinkan, upaya menjaga keutuhan Kawasan Ekosistem Leuser menjadi semakin penting dan menjadi tanggung jawab masyarakat dunia.

Dan mengadopsi Aras, ujar Viault, merupakan sebuah simbol dari komitmen dan harapan dari Uni Eropa agar Unit Patroli Gajah (UPG) Aras Napal di Leuser berhasil, sekaligus dalam rangka European Climate Diplomacy Day (Hari Diplomasi Iklim) yang jatuh pada 17 Juni 2015.

“Aras kecil yang kami adopsi kurang dari 2 minggu sebelum ulang tahunnya yang ke 7 melambangkan upaya para pemangku kepentingan yang berkomitmen membuat UPG (Unit Patroli Gajah-red) Aras Napal sebuah kisah yang sukses,” kata Franck Viault.

Baca Juga:  Pengelolaan Lemah, Banyak Aset Pemkab Berpotensi Hilang

“Ini adalah sebuah pengakuan tentang pentingnya proyek yang sekalipun telah lama berakhir masih mampu untuk menghasilkan harapan baru dan keyakinan bahwa investasi yang dikeluarkan dengan baik dan kerja keras dari berbagai pihak, termasuk pawang UPG yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjaga dan bekerja dengan satu gajah, dapat menjadi warisan positif untuk generasi mendatang ditengah-tengah kegiatan destruktif dan kepentingan pribadi,” ujar Viault.

Dalam rangka Hari Diplomasi Iklim 2015, Uni Eropa juga ingin menyampaikan pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam Indonesia secara berkelanjutan adalah sebuah investasi sosial ekonomi jangka panjang untuk generasi mendatang.

Baca Juga:  KPK RI Lakukan Monitoring di Labuhanbatu

Salah satu upaya Uni Eropa untuk mendukung pelestarian jangka panjang ekosistem dan pembangunan berkelanjutan dari kawasan sekitar Leuser adalah Program Pembangunan Leuser (LDP) yang berlangsung pada tahun 199-2004.

Program Pembangunan Leuser membentuk Unit Patroli Gajah (UPG) pada 2000 dengan mendatangkan gajah-gajah terlatih dari selatan Sumatra dan dengan tujuan untuk mengawasi dan melindungi bagian timur Kawasan Ekosistem Leuser serta kawasan sekitar hutan Aras Napal.

Saat ini UPG memiliki tiga gajah dewasa, yakni Aini, Tanti dan Dion. Tanti melahirkan bayi gajah bernama Aras pada 29 Juni 2008 yang kini diadopsi Uni Eropa.

Leuser yang mencakup areal seluas 2,6 juta hektar hutan hujan tropis Aceh dan Sumatra Utara merupakan satu dari ekosistem dunia yang kritis. Padahal kawasan itu memiliki keanekaragaman hayati yang penting.

Baca Juga:  Eks Sentra Padi, Kini Membeli Beras

Kawasan itu merupakan satu-satunya tempat di bumi dengan areal yang cukup luas untuk menjamin kelangsungan hidup jangka panjang populasi spesies-spesies langka, termasuk orangutan, harimau, gajah dan badak.

Kawasan Ekosistem Leuser juga menyerap karbondioksida dalam jumlah besar sehingga membuatnya menjadi modulator yang kuat untuk iklim kawasan dan sebuah tempat penyerapan karbon yang penting untuk menangani perubahan iklim global.

Jumlah gajah liar Sumatra telah berkurang pula menjadi hanya 2500 ekor dengan meningkatnya konflik antara satwa ini dan komunitas pertanian. Akibatnya, gajah Sumatra yang merupakan subspesies gajah Asia, kini masuk dalam daftar spesies yang terancam punah. [khi]

Terkait


Berita Terbaru