Home / SUMUT / Kisah Haru Pengungsi Sinabung Jalani Ibadah Puasa

Kisah Haru Pengungsi Sinabung Jalani Ibadah Puasa


Warga korban erupsi Sinabung saat berada di pengungsian. [Ilustrai-Foto: Metrotvnews]

KARO| Suasana haru dirasakan oleh warga sekitar Gunung Sinabung yang terpaksa mengungsi. Namun mereka tetap santap sahur di posko pengungsian. Ibadah tak berarti berhenti karena bencana.

Dini hari saat ramadan pertama, terlihat aktivitas sebagian ibu-ibu memanaskan makanan untuk para pengungsi. Sebagian lagi membangunkan para anak dan kaum bapak untuk sahur bersama.

Menikmati menu makanan seadanya di bawah atap posko pengungsian sungguh sangat menyedihkan. Reporter MetroTV melaporkan, air mata dari kaum ibu tampak menitik melihat anak-anak mereka harus mengantre makanan di dinginnya udara pagi.

Seperti dilansir metrotvnews, Badan Penanggulangan Bencana Daeraha (BPBD) Karo terkesan tak tanggap dengan kondisi ini. Walau sudah tiga hari dievakuasi, pengungsi jauh dari kelayakan. Posko jauh dari kesan cukup. Selain itu pengungsi beragama Islam juga tidak diberi kebutuhan untuk menyambut bulan puasa.

Baca Juga:  Gunung Sinabung Kembali Muntahkan Awan Panas

Di sisi lain, pemerintah Kabupaten Karo juga belum menyiapkan fasilitas dan sarana ibadah memadai bagi pengungsi erupsi Sinabung yang beragama Islam. Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Karo, Susanto Ginting mengaku, ketiadaan sarana ibadah ini terjadi di Jambur Lau Buah Batu Karang dan Gudang Jeruk Surbakti.

“Sarana ibadah belum ada di Lau Buah Batu Karang dan Gudang Jeruk Berastagi. Padahal di gereja seharusnya juga dapat dijadikan tempat ibadah. Apalagi ini kan bulan puasa,” katanya.

Susanto prihatin dengan keadaan pengungsi yang ditempatkan di 10 titik penampungan.

“Bukan hanya tempat ibadah, tempat untuk beristirahat pun sangat minim. Saat malam hari pengungsi tidur berdesakan. Pengungsian jadi padat karena kaum lelaki sudah pulang dari rumah dan ladangnya yang ada di zona bahaya,” katanya.

Baca Juga:  Pemkab Labuhanbatu Lemah dalam Pengelolaan Aset

Susanto menjelaskan, seharusnya Pemkab memikirkan pengungsi yang berpuasa, bagaimana sahur, bagaimana salat di pengungsian.

“Ini pemerintah tahunya cuma logistik-logistik saja, tapi kehidupan sosial pengungsi diabaikan. Buktinya banyak posko pengungsi tidak difasilitasi tempat ibadah, padahal saat ini Ramadan,” ucapnya.

Sementara pihak Pemkab Karo belum bisa dikonfirmasi terkait persoalan ini. Sekretaris Satgas Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Sinabung yang juga Kepala BPBD Karo, Subur Tambun, tidak menjawab saat dihubungi. Begitu juga dengan Sekretaris BPBD Karo Jhonson Tarigan.

Diketahui, aktivitas seismik gunung juga masih tercatat tinggi. Saat ini gunung api tersebut ditetapkan dalam status Awas. Gunung Sinabung memuntahkan lava pijar dan awan panas sejak dini hari hingga Kamis pagi, (18/6/2015). Terjadi 32 kali guguran lava pijar dengan jarak hingga 1,5 km ke arah Tenggara. [rez|bbs]

Terkait


Berita Terbaru