Home / POLITIK / Eldin Ditaksir PDIP, Sastra Bagaimana?

Eldin Ditaksir PDIP, Sastra Bagaimana?


Eldin vs Sastra

MEDAN| Nama Dzulmi Eldin mencuat sebagai salah satu bakal calon (balon) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang akan maju sebagai calon Walikota Medan 2015-2020. Lalu, bagaimana nasib Sastra, “anak kandung” DPC PDIP Medan? 

Munculnya nama Eldin di DPP PDIP, disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Krisianto kepada Sumut Posdi Jakarta, Selasa (7/7/2015). Meskipun, DPP PDI Perjuangan hingga saat ini belum menerbitkan surat rekomendasi dukungan. “Kami belum keluarkan rekomendasi untuk Medan (calon Wali Kota,red),” ujar Hasto.

Sebelumnya, nama Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Medan, Sastra, SH, MKn juga santer disebut-sebut sebagai salah satu bakal calon (balon) Walikota dari PDIP. Meskipun kepastiannya masih harus menunggu keputusan DPP PDI Perjuangan yang akan keluar dalam waktu dekat.

Ditanya mengenai kesiapannya, lelaki berpenampilan kalem yang menjabat Sekretaris DPC PDIPerjuangan Kota Medan ini mengaku optimis. “Saya tidak ambisius, tapi tetap optimis memiliki peluang besar untuk memperoleh dukungan dari masyarakat Kota Medan,” ujarnya ketika ditemui di kediamannya, Jalan Bunga Sakura Perumahan Taman Alamanda Blok D No 15 Medan.

Bagi dia, menjadi Walikota Medan itu tidak sulit. Kuncinya keteladanan, kejujuran dan keberanian. Sedang untuk urusan teknis, diserahkan pada ahlinya. Rasa optimisnya itu terbangun dari adanya peluang yang diberikan partai, serta dukungan dari berbagai pihak yang terus mengalir hingga hari ini.

Baca Juga:  Membandel Gunakan Pukat Trawl, KM Piana Surya Diamankan

Toh begitu, ia tetap tunduk pada apapun hasil yang diputuskan partai tempatnya bernaung. “Sebagai kader partai, saya tunduk dan patuh,” tegasnya.

Alumnus Fakultas Hukum USU tahun 2005 itu merintis karir berorganisasinya dari bawah sebagai Ketua Ranting Pemuda Pancasila Glugur Darat I dan Ketua PAC Pemuda Pancasila Kecamatan Medan Timur medio tahun 1990.

Saat ini, selain sebagai Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Medan, ia juga menjabat sebagai Ketua DPC Banteng Muda Indonesia Kota Medan, Ketua DPC Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kota Medan dan Ketua DPD Forum Pribumi Indonesia Bersatu Sumatera Utara.

“Saya memang hobi berorganisasi dan juga membela kaum tertindas. Bagi saya, membela orang-orang lemah yang diperlakukan semena-mena oleh pihak lain itu adalah sebuah kewajiban,” tegasnya.

Hal itu beberapa kali dibuktikannya langsung di jalanan, ketika melihat seseorang diperlakukan tidak pantas, ia tak segan turun di tengah jalan untuk membela orang tersebut. “Mungkin itu sudah panggilan jiwa saya,” katanya dengan mimik serius.

Dalam kesehariannya, lelaki yang lahir di Medan pada tanggal 1 September 1966 itu, adalah pribadi yang perfeksionis dan pekerja keras. Hal itu sejalan dengan filosofi hidup yang dianutnya, yakni berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam hidup dan pantang menyerah. Ia ingin segala sesuatu dikerjakan dengan sepenuh hati dan sempurna.

Baca Juga:  Peringati Hari Bumi, Sihar Camping Bersama Komunitas Pecinta Alam

Sehingga tidak jarang, ketika dihadapkan pada batas kemampuan fisik dan psikis, ia jatuh sakit. “Kalau sudah terlalu lelah bekerja dan kurang istirahat, ya menyerah juga tubuh ini,” katanya sambil tertawa.

Namun, meskipun perfeksionis dalam pekerjaan, Sastra mengaku dirinya penganut hidup jujur dan sederhana. Dan itu semua sudah dilakoninya sejak muda. Prinsip kesederhanaan tersebut juga terlihat dari tampilan fasad kediamannya yang tak banyak ornamen dan cenderung minimalis. Juga tak dibatasi oleh pagar.

“Hidup jujur dan sederhana itu membuat kita nyaman. Tidak ada sekat dalam berteman dan tidak tertekan oleh berbagai tuntutan kemajuan zaman. Untuk anak-anak saya pun menanamkan prinsip yang sama. Selain itu saya juga memberikan kebebasan bagi mereka untuk berkreasi dan membuat pilihan. Namun saya tetap mengawasi dan memberikan bimbingan,” ungkap bapak dari dua orang putri yang memfavoritkan kemeja warna putih celana jean dan sepatu sport ini.

Untuk mengisi waktu luangnya, alumni Magister Kenotariatan USU tahun 2009 yang juga menjabat sebagai Direktur CV Alam Indonesia dan Ketua Koperasi Laras Mulia ini, memilih berenang dan naik motor sebagai hobi pribadinya.

Baca Juga:  KPU Sumut Terima Hasil Pemeriksaan Kesehatan Bacagub/Cawagubsu

Untuk hobi yang terakhir, ia tergabung dalam komunitas motor trail Gaspol dan sering menghabiskan waktu bersama memasuki hutan dengan motor trail.

“Kalau sudah naik motor, rasanya beban pikiran saya hilang semua. Nyaman rasanya menelusuri hutan-hutan dan daerah-daerah terpencil. Hutan di Pulau Jawa, Bali dan Kalimantan hampir seluruhnya sudah pernah saya jelajahi naik motor trail,” ujar suami dari Marlita Siregar, yang pada tahun 2011 silam mengalami kecelakaan fatal jatuh dari motor di hutan Kabupaten Negara Pulau Bali dan akhirnya gagal finish di hari kedua.

“Bahaya tapi soor,” kenangnya sambil tertawa.

Anak kedua dari sembilan bersaudara yang terbiasa hidup mandiri ini memiliki kebiasaan khusus untuk pola makannya. “Saya cenderung tidak rewel untuk urusan selera. Tapi saya suka makanan yang akan saya santap itu dalam kondisi segar dan baru dimasak. Kalau sudah dihangatkan lagi saya kurang suka. Kalau lauk apa saja masuk. Telur dadar dan bayam rebus pun bisa membuat selera makan saya naik asalkan baru dimasak,” kata pengagum Bung Karno itu sembari tertawa. [ril|ded]

Terkait


Berita Terbaru