Home / NEWS / Turut Ditahan KPK, Evy Menangis. Kirim Surat untuk OC Kaligis

Turut Ditahan KPK, Evy Menangis. Kirim Surat untuk OC Kaligis


JAKARTA| Selain menahan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugoro, KPK juga menahan istri mudanya, Evy Susanti. Saat keluar dari gedung KPK, raut wajahnya tak sanggup menahan kesedihan. Evy menahan tangis saat petugas membawanya ke dalam mobil tahanan.

Pasangan suami istri tersebut Senin (3/8/2015) malam, ditahan oleh KPK dalam kasus dugaan suap hakim PTUN Medan. Keduanya didampingi pengacara Razman Arif Nasution.

Evy keluar dari gedung KPK dengan mengenakan rompi berwarna oranye hanya beberapa menit setelah Gatot Pujo Nugroho.  [Baca Juga: Gatot Pujo Nugroho Ditahan KPK]

Sekadar diketahui, Gatot dan Evy hari ini menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka. Setelah lebih dari 9 jam diperiksa, keduanya keluar dari gedung KPK sekitar pukul 21.15 WIB dengan mengenakan rompi berwarna oranye.

Baca Juga:  Ini Tanggapan Ketua DPRD Sumut Soal Penetapan Tersangka Baru Kasus Suap Gatot

Menurut Pengacara Gatot dan Evy, Razman Arif Nasution, untuk sementara keduaya akan ditahan selama dua puluh hari di tempat terpisah. Gatot akan ditahan di rumah tahanan Cipinang sementara istri mudanya di rumah tahanan KPK yang berada di baseman gedung KPK.

“Ibu Evy menitipkan satu surat kepada OC Kaligis. Tentang kroologis tentang masalah PTUN. Berikut kronologis. Besok saya akan berikan kepada pengacara OC Kaligis, sekaligus berharap kasus ini akan dibuka duduk persoalannya,” ujar Razman.
Sebelum dutahan, Gatot sudah dua kali diperiksa KPK yakni, pada Rabu 22 Juli dan Senin 27 Juli untuk tersangka M. Yagari Bhastara alias Gerry. Sementara istrinya baru diperiksa Senin 27 Juli untuk tersangka yang sama. Namun, keduanya sudah dicegah keluar negeri sebelumnya.

Baca Juga:  Victor Simanjuntak Cetuskan Slogan Baru Sumut: Semua Urusan Mudah dan Transparan

Gatot dan Evy dijerat Pasal 6 Ayat 1 huruf a dan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b dan atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU 20 Tahun 2010 jo Pasal 64 ayat 1 jo Pasal 55 ayat 1 KUHP.

Terbongkarnya suap di PTUN Medan dimulai dari kasus Dana Bantuan Sosial dan Bantuan Daerah Bawahan (BDB) Sumatera Utara tahun anggaran 2012 dan 2013 menyeret mantan Kabiro Keuangan Sumut Ahmad Fuad Lubis. Kasus itu disidik Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara.

Kasus ini sudah diputus bebas di Pengadilan Tinggi Sumatera Utara. Berbekal putusan PT Sumut, Ahmad Fuad Lubis balik memperkarakan Kepala Kejaksaan Tinggi atas kasus yang menyeretnya melalui Pengacara M. Yagari Bhastara alias Gerry dari kantor pengacara O.C. Kaligis.

Baca Juga:  KPK: Kebakaran Kantor Dispenda Tak Pengaruhi Penyidikan Kasus Suap Gatot

Ahmad menggugat kewenangan penyelidikan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dalam perkara tersebut ke PTUN. Perkara ini dipegang Ketua PTUN Tripeni Irianto Putro dan Hakim Amir Fauzi, dan Hakim Dermawan Ginting. Ahmad Fuad Lubis pun diputus menang dalam gugatan di PTUN.

Rupa-rupanya, putusan Tripeni berbau amis. Usai membacakan putusan, Tripeni dan dua hakim, Gerry, serta panitera Syamsir Yusfan yang juga menjabat Sekretaris PTUN Medan, dicokok KPK pada Kamis 9 Juli lalu.

Saat penangkapan, penyidik KPK mengamankan USD15 ribu dan SGD5 ribu dari Ruangan Ketua PTUN Medan. Diduga kuat, mereka menerima uang suap yang diantarkan Gerry, pengacara Ahmad Fuad. [ded]

Terkait


Berita Terbaru