Home / NEWS / Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tempe di Tebingtinggi Menjerit

Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tempe di Tebingtinggi Menjerit


TEBINGTINGGI. Dampak kenaikan kacang kedelai berimbas kepada pengrajin tempe di kota Tebingtinggi. Kenaikan harga kacang kedelai impor ini disebabkan faktor fluktuasi nilai tukar mata uang Dollar Amerika dengan rupiah terus mengalami kenaikan. Sebelumnya harga kacang kedelai menurut pengrajin tempe hanya Rp 7.000 per-kg saat ini menjadi Rp 8.000 per-kg.

Alhasil, banyak pengrajin tempe mengalami rugi, karena pembelian bahan baku tempe terus merangkak naik. Salah seorang pengrajin tempe, Jupriana (42) warga Jalan Ihklas Kelurahan Persiakan Kota Tebingtinggi kepada wartawan, Rabu (26/8/2015), mengaku kegiatan usahanya terpaksa merugi.

“Harga jual masih tetap, perbatang ada yang Rp 3.000 dan Rp 4.000. Penjualan menurun dan terus merugi, tidak punya jalan lain selain mempertahankan usaha ini terus, kami terpaksa mengurangi ukurannya,” keluh Jupriana.

Baca Juga:  Mahkamah Kehormatan Dewan Temui Erry Nuradi

Jupriana yang berencana menaikan harga penjualan tempe serta mengurangi ukuran takaran, mengaku takut pelanggan kabur, karena sejumlah pengerajin tempe yang ada di Kota Tebingtinggi masih mempertahankan harga biasa. “Kalau harganya dinaikkan takut pelanggan pada lari, sementara saat ini biarlah bertahan meski kondisinya lesu,” katanya.

Jupriana berharap pemerintah dapat melakukan upaya penekanan harga kacang kedelai impor agar usahanya stabil kembali, sebab kalau tidak, kemungkinan pengerajin tempe dan tahu yang ada di Tebingtinggi akan gulung tikar. “Produksi menurun, biasa satu hari bisa menghabiskan 4 kwintal kacang kedelai, kini hanya habis 2 kwintal saja,” jelasnya.

Baca Juga:  Sidang Ditunda, Ahok Dituntut Usai Pilgub, Pengunjung: Sandiwara!!

Sementara Kabag Perekonomian Kota Tebingtinggi Joko Susilo, mengatakan pihaknya belum mendapatkan laporan kenaikan harga kacang kedelai, karena monitoring itu seharusnya dilakukan pihak Dinas Kouperidag, tetapi masalah ini akan menjadi pembahasan di Tim Pemantauan Inflasi Daerah (TPID) Tebingtinggi bulan depan.

“Sebenarnya kenaikan harga kedelai impor karena nilai tukar rupiah turun dan nilai tukar dolar naik. Harga kacang kedelai lokal sebenarnya masih normal, tetapi pengrajin tempe dan tahu enggan memakai bahan ini, mutunya kurang bagus,” jelas Joko. [met]

Terkait


Berita Terbaru