Home / MEDAN TODAY / Hindari Kekerasan, Guru Bimbel Juga Harus Jalani Tes Psikologi

Hindari Kekerasan, Guru Bimbel Juga Harus Jalani Tes Psikologi


MEDAN| Psikolog Kota Medan, Lodiana Ayu menyayangkan dugaan kasus kekerasan yang dilakukan Miss Vivi, guru bimbingan belajar Tinkerbell kepada muridnya SM (7), siswi kelas II SD Sutomo.

Lodiana menilai, tidak selayaknya seorang guru bimbingan belajar Tinkerbell yang beralamat di Jalan Krakatau, Gang Mandor, Kecamatan Medan Timur itu memperlakukan anak muridnya dengan cara kekerasan.

Mendidik lewat kekerasan, bilang Lidoana, akan berdampak buruk terhadap psikologi anak. Anak akan mengalami trauma sehingga menyebabkan ketakutan dalam belajar. “Tugas guru adalah membimbing anak agar mau belajar, bukan sebagai sosok yang menakutkan dan musuh bagi anak didiknya,” kata Lodiana.

Dikatakan Lodiana, guru pengajar seharusnya tahu tentang kemampuan dari anak didiknya, apalagi anak didiknya baru berusia 7 tahun. “Belajar di usia dini sebenarnya harus dibarengi dengan bermain. Orang tua mempercayakan anaknya kepada guru untuk memberi tambahan pelajaran kepada guru bimbel. Artinya guru bimbel tersebut harus tahu kondisi anak,” katanya.

Baca Juga:  Tatan Dirsan Atmaja Jabat Kabid Humas Poldasu, Kapolrestabes Ucap Selamat

Lodiana menjelaskan, menjadi guru bukan hanya bisa mengajar saja, tapi harus peka dengan kondisi anak didiknya, dan punya jiwa dalam mendidik. “Guru adalah pengajar bukan  penghajar. Artinya jika anak tersebut nakal atau kurang dari teman-temannya, bukan berarti guru harus menghajarnya,” ungkapnya.

Lodiana menilai, menjadi guru bukanlah orang yang asal-asalan, tapi juga harus dites psikologinya. “Tidak semua orang dapat menjadi guru pendidik,” jelasnya.

Saat disinggung mengenai orang tua yang melaporkan kejadian ini ke kantor polisi, Lodiana menjelaskan, seharusnya orang tua dapat membicarakan hal itu dengan guru yang bersangkutan.

“Jika memang tidak ditemukan jalan keluar, apalagi perbuatan guru tersebut juga dilakukan terhadap kakak korban, silahkan aja lapor polisi. Artinya hal itu sudah menunjukkan hal yang tidak baik yang dilakukan oleh sang guru,” jelasnya.

Baca Juga:  Dua Kandidat Ketua Asosiasi GM Hotel DPD IHGMA Sumut Miliki Kemampuan Perhotelan Mumpuni

Ketika ditanya  apakah sang guru juga mengalami trauma diwaktu kecil sehingga sesudah dewasa melakukan pemukulan terhadap anak didiknya, Lodiana Ayu belum dapat memastikannya.

“Saya belum dapat mengatakan trauma masa lalu guru yang membuat dia seperti itu,  bisa jadi iya bisa jadi juga tidak. Kita butuh data lagi untuk mengetahui latar belakangannya,” pungkasnya.

Diberitakan, Melia Fitriana  (30) warga Komplek Graha Metropolitan Helvetia, Jalan Kapten Sumarsono, Kecamatan Medan Helvetia,  melaporkan Vivi (30) ke Polresta Medan.

Vivi yang merupakan guru bimbingan belajar Tinkerbell di Jalan Krakatau, Gang Mandor, Kecamatan Medan Timur dilaporkan karena telah melakukan kekerasan terhadap anaknya bernama  SM (6), siswi kelas II SD Sutomo.

Baca Juga:  Puluhan Wartawan Demo di Polresta Medan

Kejadian ini berawal saat korban dan kakaknya RC (9) berada di dalam ruangan belajar bimbingan bersama Vivi, sembari menunggu jemputan pada Jumat (28/8) lalu.

Di dalam ruangan bimbel, Vivi menyuruh korban untuk mengerjakan tugas. Entah bagaimana, tiba- tiba Vivi emosi dan menjewer kuping kiri korban hingga berdarah di depan kakaknya RC. Tak hanya itu, kaki kiri korban juga dipukul pakai rotan. Hasil visum mengatakan ada bekas pukulan sebanyak tujuh kali.

Mendapat laporan itu, ia lalu melaporkan kejadian yang dialami anaknya ke SPKT Polresta Medan sesuai dengan laporan  polisi Nomor 2329/VIII/SPKT/ Resta Medan pertanggal 28 Agustus 2015. [ded]

Terkait


Berita Terbaru