Home / PSMSPORT / Sejarah Duel Akbar PSMS vs PERSIB

Sejarah Duel Akbar PSMS vs PERSIB


Pada masanya, duel PSMS vs PERSIB merupakan pertandiangan yang paling menyedot perhatian, seperti El Clasico Barcelona vs Real Madrid di Spanyol, Manchester United vs Liverpool (Inggris) serta Milan vs Juventus (Italia).

EDISIMEDAN.com, MEDAN – PSMS vs PERSIB! Inilah laga paling ditunggu para penggemar sepakbola Tanah Air. Di era perserikatan, kedua tim merupakan musuh bebuyutan. Dan partai final bersejarah yang terjadi tahun 1985 di era perserikatan, bakal tersaji kembali pada 4 dan 7 November mandatang.

Ya, Tim Ayam Kinantan yang berstatus jawara Piala Kemerdekaan akan dipertemukan dengan Maung Bandung jawara Piala Presiden.

Rencana tersebut diungkapkan manajer PSMS, Andry Mahyar Matondang. “Rencananya 4 November main di Medan. Kemudian, 7 November gantian main di Bandung. Tapi kepastian laga itu akan didapat dua sampai tiga hari lagi,” kata Andry.

Menurutnya, laga itu diprakarsai oleh salah satu pihak sponsor bersama Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Jika laga ini benar terealisasi, maka akan mengulang partai final bersejarah kompetisi Perserikatan pada 1985.

Selain itu, laga ini juga akan menjadi ajang pemanasan sebelum turun di Piala Jenderal Soedirman. Turnamen tersebut rencananya akan digelar pada 14 November 2015 hingga 24 Januari 2016 mendatang.

Sementara pelatih PERSIB Bandung, Djadjang Nurdjaman mengaku belum mengetahui laga yang diprakarsai oleh BOPI itu.

“Belum. Saya belum dapat kabar apa-apa soal itu (laga melawan PSMS Medan). Jadi tidak usah dikomentarin dulu. Nanti saja kalau sudah resmi dan dipastikan digelar, baru saya komentar,” ujar Djanur saat dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (30/10/2015).

Baca Juga:  Kompetisi Offline First Warriors Digelar, Medan Diharapkan Masuk First Riders

Namun, bila memang laga tersebut menjadi sebuah kaharusan dan perlu dilakukan pasukannya, maka pelatih asal Majalengka ini tak mengaku akan segera mengumpulkan pemainnya. “Kalau dari sebuah keharusan dan dipastikan jalan. Ya sudah tidak apa-apa,” tegasnya.

EL CLASICO INDONESIA
Skuad PSMSPada era Perserikataan, PSMS dan PERSIB adalah musuh bebuyutan. Pertemuan keduanya seperti sebuah laga yang paling ditunggu, seperti El Clasico Barcelona vs Real Madrid di Spanyol, Manchester United vs Liverpool di Inggris serta Milan vs Juventus (Italia).

Bisa dipastikan, adrenalin pemain dan pendukung akan membuncah jelang maupun sesudah laga. Bahkan tak jarang, diwarnai kerusuhan antar masing-masing supporter.

Bagi masyarakat Medan, partai paling dikenang para pendukung PSMS adalah saat menjuarai Piala Perserikatan tahun 1985 silam. PSMS menang dramatis lewat adu pinalti 4-3 setelah dalam waktu normal skor imbang 2-2.

Tangis haru bercampur suka cita Musimin Sidik, pencetak 2 gol ke gawang PERSIB. Bertolak belakang tangisan sedih para pemain PERSIB, setelah 2 kali masuk final kalah dramatis lewat adu penalti dari Ponirin Mekka dkk. [Foto: zidhanxsana.blogspot.co.id]
Tangis haru bercampur suka cita Musimin Sidik, pencetak 2 gol ke gawang PERSIB. Bertolak belakang tangisan sedih para pemain PERSIB, setelah 2 kali masuk final kalah dramatis lewat adu penalti dari Ponirin Mekka dkk. [Foto: Internet]
Laga yang digelar pada 24 Februari 1985 itu, bahkan menciptakan rekor jumlah penonton di Stadion Senayan Jakarta. Dari kapasitas 120.000 penonton yang tersedia, jumlah penonton yang hadir saat itu mencapai 140.000 yang mayoritas pendukung Persib.

Penonton meluber hingga pinggir lapangan, tetapi wasit Djafar Umar bisa menyelesaikan tugasnya dan tidak ada kericuhan. PSMS menang 4-3 melalui drama adu penalti setelah skor sama kuat 2-2. Bravo PSMS!!

Baca Juga:  Buka Kompetisi Liga Mini Soccer Tingkat SMP, Bobby Nasution Ingatkan Generasi Muda Jauhi Kegiatan Negatif

DIWARNAI GUGATAN dan PERSAHABATAN
Dikutip dari blogspot penggemar Persib Bandung, zidhanxsana.blogspot.co.id, disebutkan, pasca pertandingan  PSMSvs PERSIB ini, perseteruan di lapangan berlanjut ke persahabatan di luar lapangan.

Pemain-pemain PERSIB diundang untuk memperkuat PSMS memenuhi undangan Singapura untuk turnamen Piala Merlion. Maka Adjat Sudradjat, Kosasih, Robby Darwis, Sukowiyono dan Iwan Sunarya beberapa minggu mencicipi latihan bersama Ponirin Mekka dan kapten Sunardi A dkk di stadion Teladan, Medan.

Penonton Medan mengelu-ngelukan Adjat Sudradjat sebagai “Soetjipto Soentoro Baru”.

Selain itu, Persib juga pernah menggugat hasil pertandingan final tersebut. Surat protes resmi hasil rapat pengurus tertanggal 25 Februari 1985 itu dikirim ke PSSI dengan disertai bukti video rekaman pertandingan.

“Kami tidak menggugat PSMS sebagai Juara, tapi sekadar bertanya kepada PSSI. Memangnya tak boleh, Kami yakin, wasit merugikan kami, Ini bukan protes, tapi koreksi atas wasit Djafar Umar yang memimpin pertandingan final itu”, kata Solihin GP, menejer persib kala itu.

Dalam surat protesnya, PERSIB melihat ada tiga kekeliruan yang dilakukan Djafar Umar. Pertama ketika Medan unggul 2-1, di menit 77, Persib mendapat sepak pojok. Bola yang terlepas dari perebutan antara kiper Ponirin Mekka dan Bambang Sukowiyono disundul Robby Darwis dan masuk. Wasit tak menunjuk titik putih, sebagai tanda gol telah terjadi.

Baca Juga:  PS Kwarta Ajak 2 Mantan Pemain Timnas ke Bangkok

Kedua, pada menit ke-10 babak perpanjangan waktu, lagi-lagi terjadi kemelut di gawang Ponirin oleh sebuah sepak pojok. Gol yang masuk lewat Dede Rosadi, juga tak dipedulikan wasit.

Yang ketiga, ketika adu penalti, saat giliran eksekutor ketiga Persib, Adeng Hudaya, konon Ponirin sudah lebih dulu bergerak ke arah kiri, sebelum eksekusi dilakukan. Ini juga tak dianggap pelanggaran.

Akhirnya, gugatan Persib itu menguap begitu saja. Ketua Komisi Wasit PSSI, Syamsudin Hadade justru sempat memeluk Djafar Umar usai pertandingan. “Pertandingan berjalan baik, semua keputusan wasit sesuai dengan peraturan,” katanya.

Soal 2 gol yang dianulir, Hadade juga mengatakan, sebelum gol terjadi, wasit sudah meniup peluit untuk pelanggaran pemain PERSIB terhadap kiper Ponirin. Begitu juga tentang tuduhan Ponirin bergerak lebih dulu di dalam adu penalti, menurutnya, yang bergerak cuma tubuh Ponirin, hal yang dibolehkan peraturan, asal kaki tak turut melangkah.

PSMS vs Persib Setelah dibahas oleh komisi khusus bentukan PSSI, protes PERSIB itu tak menghasilkan apa-apa, meski sudah dibuktikan video rekaman. Hadade mengatakan, rekaman itu tak bisa dijadikan barang bukti. “Pengambilan gambarnya tidak dari berbagai sudut,” tegas Syamsudin Hadade, Ketua Komisi Wasit PSSI. [ded]

BACA JUGA:
PSMS: Negeri Kami Negeri Penipu
Akhirnya PSMS Terima Rp 1,5 M Hadiah Juara Piala Kemerdekaan
Piala Kemerdekaan Diarak Keliling Kota Medan

Terkait


Berita Terbaru