Home / BISNIS / Pabrik PT Unilever di KEK Sei Mangkei Resmi Beroperasi

Pabrik PT Unilever di KEK Sei Mangkei Resmi Beroperasi


Menko Perekonomian Darmin Nasution, Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Duta Besar Belanda, Mr Rob Swartbol, Presiden Direktur Unilever Herman Daksi dan sejumlah pejabat lainnya memukul gong menandai peresmian beroperasinya Pabrik PT Unilever Oleochemical Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Simalungun, Kamis (26/11/2015).

SIMALUNGUN, EDISIMEDAN| Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution meresmikan beroperasinya Pabrik PT Unilever Oleochemical Indonesia (UOI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Simalungun.

Peresmian operasional pabrik PT Unilever Oleochemical Indonesia ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemukulan gong pada , Kamis (26/11/2015).

Hadir dalam peresmian tersebut Presiden Direktur Unilever Herman Daksi, Duta Besar Belanda, Mr Rob Swartbol, Pelaksana Tugas Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Ketua TP PKK Sumut Evi Diana Erry, Sesmenko Perekonomian Lukita Dinarsyah Tuwo dan tamu undangan lainnya.

Unilever merupakan perusahaan swasta pertama melakukan penanaman modal di KEK Sei Mangkei dengan nilai investasi sampai saat ini sebesar 2 triliun.

Operasional perusahaan ini akan menyerap sekurangnya 600 tenaga kerja langsung dan 2.000 tenga kerja tidak langsung.

Di KEK Sei Mankei, pabrik Unilever akan memproduksi fatty acid, surfactant, soap noodle dan glycerine berbahan baku sabun.

Setidaknya 80% produksinya akan disupply untuk kebutuhan unilever seluruh dunia dan 15-20% ke pasar dalam negeri.

Dalam kesempatan itu, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengakui, Provinsi Sumatera Utara memiliki aset dan akses atas berbagai sumber daya yang nilainya berskala dunia.

Danau Toba misalnya, merupakan danau terbesar di Asia, memiliki sumberdaya air berkelanjutan yang mencapai 3,5 milyar meter kubik setiap tahunnya.

Belum lagi aliran Sungai Asahan yang berpeluang membangun pembangkit listrik hingga 1,100 Megawatt, yang baru termanfaatkan sekitar 700 Megawatt.

Selain itu, di sekitar kawasan Sei Mangkei, di pesisir Pantai Timur Sumatera Utara juga ada 6 wilayah sungai, termasuk Sei Bah Bolon yang menjadi sumber daya penting bagi keberlanjutan KEK Sei Mangkei, Kuala Tanjung dan aktivitas sosial-ekonomi lain.

Keunggulan Sumut yang lain yakni Bandara Internasional Kualanamu yang telah menjadi hub internasional Indonesia di kawasan Barat.

“Keunggulan lain Sumut adalah posisi geo-ekonominya yang sangat strategis terhadap Selat Malaka yang merupakan jalur lalu lintas perdagangan tersibuk dunia. KEK Sei Mangkei memiliki akses ke Selat Malaka yang juga akan terkoneksi langsung dengan Pelabuhan Kuala Tanjung, Batubara,”jelas Darmin.

Dengan segala sumber daya itu, sebut Darmin Nasution, Sumut berpotensi menjadi pemain ekonomi dunia.

Baca Juga:  Pengelola Donasi Konsumen Alfamidi kucurkan 11.200 Paket Sembako Peduli Covid-19

“Keunggulan lain Sumut adalah posisi geo-ekonominya yang sangat strategis terhadap Selat Malaka yang merupakan jalur lalu lintas perdagangan tersibuk dunia. KEK Sei Mangkei memiliki akses ke Selat Malaka yang juga akan terkoneksi langsung dengan Pelabuhan Kuala Tanjung, Batubara,” jelas Darmin.

Setiap tahun, tidak kurang dari 120 ribu lalu lintas kapal melalui Selat Malaka yang mengangkut 45-50 persen perdagangan dunia. Artinya setiap hari lebih dari 300 kapal melalui jalur ini. Kapal-kapal tersebut mengangkut berbagai barang melayani perdagangan ke Asia Timur (China, Jepang, Korea), ke Asia Selatan (India, Pakistan), ke Timur Tengah-Afrika dan ke Eropa.

Darmin Nasution menegaskan, bangsa Indonesia telah berketetapan untuk memanfaatkan keunggulan geostrategis ini sebagai bagian konektivitas logistik nasional, membangun daya saing, dan mengurangi ketergantungan pelayanan jasa logistik kita terhadap jasa yang diberikan negara tetangga.

Ketergantungan terus menerus ini telah mengurangi daya saing ekonomi dan melemahkan kemandirian ekonomi bangsa selama puluhan tahun. Diperkirakan setiap tahunnya kita mengeluarkan 5-6 persen (US$ 14 miliar pada 2010) dari nilai ekspor kita untuk membayar jasa kepelabuhanan (port services) dan angkutan laut (feeder shipping) asing.

Ini akibat kondisi 25 pelabuhan utama nasional mempunyai keterbatasan kedalaman, sempitnya alur pelabuhan, sehingga hanya mampu melayani bongkar muat kapal bertonase kecil.

“Karena itu pembangunan Terminal Multi Purpose Kuala Tanjung oleh PT Pelindo I memiliki arti penting terhadap pengembangan KEK Sei Mangkei. Pelabuhan Kuala Tanjung harus didorong menjadi pelabuhan hub internasional.Peletakan batu pertama pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung ini dilakukan Presiden Joko Widodo pada Januari 2015,” papar Darmin.

Menko Perekonomian Darmin Nasution juga menyebut keunggulan Sumut yang lain yakni Bandara Internasional Kualanamu yang telah menjadi hub internasional Indonesia di kawasan Barat.

Bandara ini berkembang pesat dan saat ini telah melayani lebih dari 8 juta penumpang per tahun. Bandara ini juga menjadi bandara pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan moda transportasi Keretaapi.

“Melalui hadirnya Pelabuhan Kuala Tanjung dan Bandara Kualanamu, berbagai kegiatan ekonomi yang kita miliki, khususnya yang ada di Sumatera Utara akan memiliki akses pada sistem logistik nasional dan global. Saat ini pemerintah tengah membangun akses jalan, jalur kereta api, sarana pelabuhan, pasokan listrik, gas dan air bersih yang terintegrasi di wilayah ini,” jelas Darmin.

Baca Juga:  Makam Raja-raja Simalungun Jadi Destinasi Wisata Sejarah Danau Toba

Darmin juga mengatakan, Kementerian Perindustrian juga membangun dan mengembangkan Pusat Inovasi Kelapa Sawit, dan penyediaan infrastruktur dalam kawasan yang meliputi pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan jaringan jalur kereta api Sumatera Utara, pembangunan dry port untuk memperlancar kegiatan ekspor dan impor, penyediaan tangki timbun, serta pembangunan jalan poros dalam kawasan yang semuanya ditargetkan selesai pada akhir 2015.

Sedang Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tengah membangun jalur kereta api ke Pelabuhan Kuala Tanjung dan penanganan jalan untuk mendukung aksesibilitas KEK Sei Mangkei.

“Infrastruktur tersebut diharapkan dapat terintegrasi dengan beroperasinya Pelabuhan Multipurpose Kuala Tanjung yang ditargetkan selesai awal 2017. Sedangkan mengenai masalah perizinan, Kepala BKPM juga telah melimpahkan kewenangan perizinan penanaman modal kepada Administrator KEK Sei Mangkei,” harap Darmin.

Guna mendukung peningkatan daya saing di Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia, Pemerintah pun meluncurkan Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 6, yang salah satunya bertujuan untuk menggerakkan perekonomian di Wilayah Pinggiran melalui Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Paket ini memfasilitasi kemudahan investasi di KEK di bidang perpajakan, kepabeanan dan cukai, kemudahan di bidang keimigrasian, pertanahan, keimigrasian, dan penanaman modal. Menurut Darmin, Rancangan Peraturan Pemerintah ini telah disampaikan kepada Menteri Sekretaris Negara,” ujar Darmin.

Sementara Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi menyatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan KEK Sei Mangkei yang merupakan konsep startegis dalam menyediakan ruang bagi industri-industri yang nantinya akan terintegrasi dengan pengembangan industri hilir kelapa sawit.

“Pemerintah Provinsi Sumut berterimakasih atas kepercayaan Unilever yang mau berinvetasi di KEK Sei Mangke, yang diharapkan dapat mengundang investor lainnya untuk datang ke Sumut,” ujar Erry.

Dalam tatanan perekonomian nasional, Sumut memiliki peranan strategis yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian Indonesia dari tahun ke tahun. Kontribusi perekonomian yang disumbangkan Sumut antara lain dari sektor pertanian, perdagangan, jasa dan industri pengolahan.

Baca Juga:  Begini Cara Simalungun Jalankan Amanah Presiden Jaga Kerukunan Beragama

Dengan adanya dukungan infrastruktur Bandara Internasional Kualanamu, Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Kuala Tanjung dan Pembangunan Pelabuhan Hub Internasional Kuala Tanjung di Kecamatan Perupuk Kabupaten Batubara, Sumut berpeluang besar menjadi hubungan perdagangan domestik dan internasional. Untuk wilayah barat Indonesia, karena letak posisi Sumuut merupakan pintu gerbang wilayah Barat Indonesia.

Kontribusi lainnya adalah melalui hasil perkebunan, di mana pembangunan sub sektor perkebunan di Sumut yang dilaksanakan selama ini menunjukan perkembangan signifikan yang ditunjukan dengan meningkatnya PDRB Sub Sektor Perkebunan Sumut sebesar 70%.

“Bagi Sumut, perkebunan bukan saja sebagai salah satu pilar penyangga devisa negara dan kekuatan ekonomi nasional, tetapi juga berperan langsung dalam mengurangi jumlah penduduk miskin, pengangguran dan pengembangan daerah,” sebut Erry.

Diketahui, Kawasan Industri KEK Sei Mangke memang dipersiapkan untuk menjadi kawasan ekonomi khusus pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagai kawasan ekonomi khusus, KEK Sei Mangkei berkonsep kawasan industri yang tertata rapi, nyaman, asri dan berwawasan lingkungan. Tujuannya tidak lain untuk menarik minat investasi industri dengan mengintegrasikan kegiatan pengolahan hulu hingga hilir produk turunan berbasis kelapa sawit.

Infrastruktur kawasan tahap I dan fasilitas pendukungnya, 90% telah selesai dibangun dan siap beroperasi, meliputi jalan kawasan, sistem drainase, sistem dan fasilitas persampahan, penyediaan air bersih, instalasi jaringan listrik dan pasokan lsitrik sebesar 5,68 MVA, pintu gerbang dan batas kawasan, sarana pemadam kebakaran serta administraor.

“Ke depan Kei Sei Mangke membutuhkan pasokan listrik sebesar 450 MV, oleh karena diperlukan perhatian dan dukungan dari Pusat agar kebutuhan listrik itu terpenuhi,” harap Tengku Erry.

Perlu diketahui, sebut Erry, penyusunan rencana peraturan pemerintah tentang fasilitas fiskal tersebut sudah berjalan lima tahun, namun hingga kini belum selesai. Padahal, insentif fiskal tersebut merupakan amanat UU nomor 39 tahun 2009 tentang fasilitas fiskal yang tujuannya, memberikan kepastian dan kemudahan berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus. [ded]

Terkait


Berita Terbaru