Home / NEWS / Fasilitas Minim, Dokter Nanda Sulit Mengontrol Kesehatannya

Fasilitas Minim, Dokter Nanda Sulit Mengontrol Kesehatannya


MEDAN, EDISIMEDAN| Minimnya fasilitas kesehatan diduga ikut memicu penyakit diabetes yang diidap Afrianda Naufan, dokter muda yang meninggal dunia saat menjalan tugas Internship di kawasan terpencil Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku.

Menurut dr Erta Priadi Wirawijaya SpJP, dokter yang memposting kabar duka itu di facebooknya Selasa (15/12/2015), kasus kematian dokter Nanda memiliki kemiripan dengan kejadian yang menimpa dr Andra yang meninggal akibat penanganan tak optimal saat bertugas di kawasan daerah terpencil.

BERITA TERKAIT:
Lagi, Dokter Muda Asal Aceh, Meninggal Saat Bertugas di Daerah Terpencil

“Kemungkinan ngga ketahuan atau tidak terkontrol baik penyakit diabetesnya karena tugas di daerah terpencil. Lantas beliau kena infeksi. Dari situ keadaan memburuk cepat,” kata dr Erta Priadi Wirawijaya SpJP dalam pesan singkatnya kepada EdisiMedan.Com Selasa malam.

Baca Juga:  Pemkab Karo Buka Posko Kepedulian Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Tongging

Informasi kematian dr Nanda dia peroleh dari rekan sejawatnya yang juga dari komunitas dokter.

“Saya juga dapatnya (informasi kematian dr Nanda) dari teman. Kita ada jaringan dokter, jadi beritanya cepat tersebar,” tambah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Karisma Cimareme, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat itu.

Dia bilang, kemungkinan dokter muda tersebut mengidap penyakit diabetes ini diketahui karena saat meninggal kadar gulanya tinggi sekali.

“Entah sudah ketahuan sebelumnya atau belum. Tampaknya belum, soalnya kadar gulanya tinggi sekali,” ujar dr Erta.

BERITA TERKAIT:
Kemungkinan Inilah yang Sebabkan Dokter Nanda Meninggal Dunia

Erta Priadi Wirawijaya SpJP, dikenal sebagai dokter yang memperjuangkan dihapusnya Internship, pola penempatan dokter di daerah. Dasar penolakannya karena internship hanya program outsourching dokter Indonesia ke tempat terpencil tanpa jaminan yang layak.

Baca Juga:  24 Ikan Paus yang Terdampar Akhirnya Berhasil Dikembalikan ke Laut

Apalagi dalam kasus ini, banyak dokter muda yang meninggal dunia saat menjalankan tugas di daerah terpencil. Sebelum dr Nanda, publik juga terhentak dengan meninggalnya dokter Andra, dimana kedua dokter muda ini wafat di wilayah tugas yang sama.

Sebagai bentuk simpatinya, dr Erta Priadi Wirawijaya mengganti foto profil facebook dengan gambar almarhum dokter Andra dan dokter Nanda. Foto tersebut berjudul “Turut Berduka Saudaraku.”

Dijelaskannya, dr Nanda merupakan putra dr Hj Cut Diah Adivar MM, Direktur RS PTP Langsa Aceh. Beliau datang dari Aceh ke daerah perifer Maluku untuk menuntaskan kewajiban internshipnya.

Dalam posting lengkapnya Selasa sore, dia menjelaskan bahwa dokter Internship adalah dokter yang telah diangkat sumpah sehingga mereka bukan lagi mahasiswa kedokteran seperti apa yang diutarakan Menteri Kesehatan sebelumnya. Mereka ditugaskan di daerah terpencil dengan pesangon (bantuan hidup dasar) sebesar Rp 2,5 juta rupiah/bulan sebelum dipotong pajak.

Baca Juga:  Tim Relawan Djoss Kecewa Debat Kandidat Pilgub Sumut dengan Mahasiswa Batal Digelar

BACA JUGA
Jenazah Dokter Nanda Akan Dimakamkan di Medan Rabu Siang

Di luar itu mereka harus membayar sendiri sejumlah uang untuk turut serta dalam BPJS kesehatan. Jika mereka meninggal saat tugas, keluarga hanya akan mendapatkan piagam & santunan sebesar 6x gajinya. Sekitar 15 juta (mungkin sebelum dipotong pajak).

“Semoga pemerintah dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki fasilitas pelayanan kesehatan di daerah tersebut sehingga kasusnya tidak terus terulang kembali,” demikian dr Erta Priadi Wirawijaya SpJP. [ded]

Terkait


Berita Terbaru