Home / NEWS / Puluhan Ton Bawang dan Ratusan Balpres Pakaian Bekas Dimusnahkan

Puluhan Ton Bawang dan Ratusan Balpres Pakaian Bekas Dimusnahkan


176 Ton bawang ilegal dimusnakan oleh Kantor Wilayah Direktur Jenderal Bea Cukai (Kanwil DJBC) Sumut dan Aceh, beserta tangkapan pihak TNI AL dan Polair Polda Sumut, Kamis (28/7/2016) di dermaga DJBC Sumut Jalan Karo Belawan. [

EDISIMEDAN.com, BELAWAN – Sebanyak 72,2 ton bawang merah dan 780 balpres atau pakaian bekas dimusnahkan Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Sumut, Rabu (8/2/2017) pagi. Pemusnahan berlangsung di Dermaga DJBC, Jalan Karo, Kecamatan Medan Belawan dihadiri sejumlah pejabat dari DJBC Sumut, DJBC Teluk Nibung, Polda Sumut dan Karantina serta pejabat lainnya.

Bawang ilegal sebanyak 72,2 ton itu merupakan hasil tangkapan DJBC Sumut, DJBC Teluk Nibung dan Kuala Tanjung. Puluhan ton bawang ilegal itu dimusnahkan dengan cara digiling menggunakan alat berat. Sedangkan 780 bal pakaian bekas hasil tangkapan DJBC Sumut dimusnahkan dengan cara dibakar.

Baca Juga:  Selundupkan Sabu dalam Anus, Dua WN Malaysia Diciduk di KNIA

Kepala KPPBC Tipe Madya Pabean C Teluk Nibung, Fuad Fauzy mengatakan, barang bukti ilegal yang dimusnahkan merupakan hasil akumulasi tangkapan jajaran Kanwil DJBC dan Polda Sumut selama Desember 2016 hingga Januari 2017.

“Hasil tangkapan ini gabungan Bea Cukai dengan Polda Sumut. Pemusnahan ini kita lakukan setelah proses penyidikan selesai dengan ditetapkan dua orang tersangka nakhoda kapal,” sebut Fuad.

Dijelaskan Fuad, penyelundupan bawang merah dan pakaian bekas telah melanggar peraturan dan berdampak inflasi dalam negeri. Sehingga  menyebabkan ketidakstabilan pertumbuhan industri dalam negeri.

“Barang ilegal yang masuk ke dalam negeri seperti bawang ilegal berasal dari India, sedangkan pakaian bekas dari Malaysia yang diselundupkan melalui laut,” jelas Fuad.

Baca Juga:  Layanan Rapid Test Drive Thru di Lapangan Merdeka dan Depan RCW Segera Beroperasi Kembali

Ditanya kenapa bawang tersebut tidak dihibahkan kepada maasyarakat, Fuad mengaku, proses hibah membutuhkan waktu yang cepat untuk dihibahkan.

“Kalau dihibahkan itu harus segera. Sedangkan bila dihibahkan harus menjalani proses panjang. Pemeriksaan bawang juga harus dilakukan, apakah aman untuk dipasarkan dan dikonsumsi masyarakat. Sedangkan kondisi bawang ini saja sudah busuk,” ungkapnya. [fad]

Terkait


Berita Terbaru