Home / CITYLIFE / Tidak Semua Penyakit Infeksi Harus Diberi Antibiotik

Tidak Semua Penyakit Infeksi Harus Diberi Antibiotik


ANTIBIOTIK. dr Hari Paraton SpOG (K), Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di acara Roadshow Edukasi "Pengendalian Resistensi Bakteri" di Hotel Aston Medan, Minggu (21/5/2017).

EDISIMEDAN.com, MEDAN – Berhati-hatilah mengonsumsi antibiotik. Salah-salah, antibiotik memberi ancaman bagi kesehatan. Data mencatat, 135 ribu pasien rumah sakit di Indonesia mengalami kematian yang dipicu resistensi bakteri terhadap antibiotik.

Demikian disampaikan dr Hari Paraton SpOG (K), Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di kegiatan Pfizer Press Circle dengan topik resistensi antibiotik di Hotel Aston Medan, Minggu (21/5/2017).

Menurut dr Hari Paraton SpOG, ada anggapan di masyarakat bahwa antibiotik dapat menyembuhkan banyak kasus infeksi. Miss persepsi ini menjadi alasan bagi sebagian masyarakat menjadikan antibiotik segala-galannya. Apalagi antibiotik bebas diperjualbelikan.

Padahal, mengonsumsi antibiotik yang relatif tinggi menyebabkan bakteri di dalam tubuh semakin kebal terhadap obat itu. Pada beberapa kasus, bakteri baik di dalam tubuh akan mati jika salah mengonsumsi antibiotik. Ini yang disebut resistensi bakteri.

“Ingat, penggunaan antibiotik semata hanya untuk mengobati penyakit yang disebabkan infeksi bakteri, bukan mencegah atau mengatasi penyakit akibat virus. Jadi kalau sakit karena demam, batuk, gondongan (gondok) atau cacar air, gak perlu antibiotik.Dengan beristrahat yang cukup, jenis penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya,” tegas dokter yang bertugas di RS Sutomo Surabaya itu.

Baca Juga:  Perempuan di Medan Banyak Jadi Korban Operasi Plastik

Selain itu, pemberian antibiotik yang salah juga ditemukan pada operasi cabut gigi, melahirkan (partus pervaginam), operasi tumor (ganlion), tumor payudara (FAM) dan beberapa kasus lainnya.

Kata dr Hari Parton, ancaman kematian akibat kasus resistensi antibiotik kini menjadi salah satu perhatian berbagai lembaga kesehatan di dunia.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2014 terdapat 480 ribu kasus baru multidrug-resistent tuberculosis (MDR-TB) di dunia. 700 ribu diantaranya, kematian pertahun akibat bakteri resisten.

Selain itu, berdasarkan laporan the Review on Antimicrobial Resistance (AMR), memperkirakan bahwa jika tidak ada tindakan global yang efektif, AMR akan membunuh 10 juta jiwa di seluruh dunia setiap tahunnya pada tahun 2050.

“Angka tersebut melebihi kematian akibat kanker, yakni 8,2 juta jiwa per tahun dan bisa mengakibatkan total kerugian global mencapai US$ 100 triliun,” bebernya.

Menurut Hari Parton, saat ini saja, jumlah kematian akibat kasus resistensi di sejumlah rumah sakit di Indonesia diperkirakan mencapai 135 ribu pasien.

Baca Juga:  Sumut Miliki 429 Kampung KB

“Kematian ini disebabkan karena antibiotik yang diberikan tidak mampu lagi untuk menyembuhkan. Pada sejumlah kasus, ada pasien yang luka bekas operasinya kembali terbuka dan tidak bisa dikeringkan. Kasus ini tidak hanya terjadi pada pasien yang mengidap penyakit diabtes,” jelasnya.

Melihat besarnya ancaman itu, di Indonesia sejak tahun 2015 sudah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 8 Tahun 2015 tentang program pengendalian resistensi Antimikroba.

Apalagi, sambung dr Hari Parton, banyak dijumpai di masyarakat maupun tenaga medis itu sendiri, menyimpan antibiotik cadangan di rumah, memberi antibiotik kepada keluarga, tetangga atau teman. Kebiasaan ini mendorong terjadinya resistensi antibiotik.

“Ini pemicu banyaknya kasus resistensi antibiotik di Indonesia. Seharusnya, antibiotik tidak dijual bebas dan harus berdasarkan resep dokter. Apotik sekalipun dilarang menjual antibiotik. Ini dapat mendorong terjadinya resistensi antibiotik,” tegasnya.

Kondisi kian diperparah karena daging yang dikonsumsi masyarakat umumnya menggunakan antibiotik sebagai pakan untuk pertumbuhan.

Sebab itu, kata Hari Parton, penanggulangan resistensi antimikroba menjadi tidak mudah karena persoalan ini bukan saja melibatkan pasien atau dokter, tetapi juga melibatkan industri farmasi, industri rumah sakit, kepentingan bisnis dan kesadaran masyarakat.

Baca Juga:  Di Awal Tahun, Honorer RSUD Pirngadi Medan Mendapat Bantuan Paket Sembako

“Diperlukan kerjasama semua pihak untuk mengatasi masalah resistensi antibiotik ini, terutama keterlibatan pemerintah, institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi dan perusahaan farmasi,” tukas Hari Parton.

PT Pfizer ikut peduli dan mendukung kampanye pengendalian penggunaan antibiotik untuk mencegah munculnya resistensi antimikroba, salah satunya dengan mengadakan kegiatan Pfizer Press Circle dengan topik resistensi antibiotik.

Communications Manager PT Pfizer Indonesia, Ninesiana Saragih menambahkan, pihaknya ikut peduli dan mendukung kampanye pengendalian penggunaan antibiotik untuk mencegah munculnya resistensi antimikroba.

Langkah-langkah signifikan Pfizer dengan menandatangani Deklarasi Pemberantasan AMR (Declaration on Combating AMR), sebuah gerakan berskala internasional yang telah ditandatangani oleh lebih dari 100 perusahaan dan 13 organisasi perdagangan yang mendukung kerja sama antara perusahaan dan instansi pemerintah untuk menangani masalah AMR.

“Sebagai tindak lanjut Deklarasi tersebut, pada September 2016 lalu, Pfizer bersama 13 perusahaan industri farmasi merilis Industry Roadmap to Combat Antimicrobial Resistance, sebuah rencana tindakan komprehensif yang terdiri dari 4 komitmen utama Pfizer untuk mengurangi peningkatan insiden resistensi antimikroba yang akan direalisasikan hingga tahun 2020,” demikian Ninesiana Saragih. [ded]

Terkait


Berita Terbaru