Home / NEWSSUMUT / Dadang Darmawan Kritik Peringatan Hari Buruh Zaman Now

Dadang Darmawan Kritik Peringatan Hari Buruh Zaman Now


i Sumatera Utara, beberapa kelompok buruh, memperingati May Day dengan beragam cara. Mulai dari aksi turun ke jalan, hingga merayakan dengan para pejabat pemerintahan.

EDISIMEDAN,com, MEDAN- Di Sumatera Utara, beberapa kelompok buruh, memperingati May Day dengan beragam cara. Mulai dari aksi turun ke jalan, hingga merayakan dengan para pejabat pemerintahan.

Untuk Kota Medan, tercatat ada dua peryaan buruh bersama pemerintah. Pertama, perayaan hari buruh di Gelanggang Remaja, Jalan Sutomo Ujung Medan, Selasa (1/5). Di sana buruh dibagikan sembako. Totalnya ada 1500 paket.

Bahkan Wali Kota Medan Tengku Dzulmi Eldin yang hadir dalam perayaan buruh tersebut didapuk naik ke panggung utama untuk bernyanyi menghibur para buruh.

Selanjutnya, beberapa kelompok buruh juga mengikuti kegiatan perayaan May Day di Lapangan Pendidikan Perkebunan (LPP), Jalan Wiliem Iskandar, Kecamatan Percut Sei Tuan. Acara itu digelar berkat kesepakatan antara pemerintah, kepolisian dan serikat buruh.

Baca Juga:  Dulu Dibantah, Kini Polda Sumut Akui Heli Polri Bawa Pengantin

Acara digelar cukup meriah dengan pentas musik, perlombaan dan lucky draw. Hadiahnya tidak tanggung, mulai dari setrika listrik, kipas angin, sepeda, hingga sepeda motor.

Sementara itu, kelompok buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Sumut, konsisten turun ke jalan. Mereka menggelar aksi di Kantor Gubernur Sumut. Bahkan aksi itu digelar di tiga titik di Sumut. Massanya pun mencapai ribuan.

Kondisi gerakan buruh yang terjadi saat ini mendapat kritik pedas dari Aktivis Gerakan, Dadang Darmawan. Dadang mengaku agak miris melihat gerakan buruh kekinian.

Menurutnya esensi gerakan buruh kian menghilang. Menurut akademisi FISIP USU tersebut, itu adalah bentuk pembungkaman gerakan buruh.

BERITA TERKAIT

2.495 Personil Polri Amankan Peringatan Hari Buruh di Sumut

Baca Juga:  Batik Air Alami Turbulensi, Penumpang dan Pramugari Patah Tulang

Kapolda Sumut: May Day Hari Yang Bahagia

“Ada banyak upaya untuk meredam aksi buruh yang sejak orde baru ditakuti. Karena itu bentuk-bentuk mengubah aksi massa buruh dengan aksi lain yang lebih soft, itu upaya pemerintah menghindari konflik dan efek negatif. Padahal di kita ini, jika pemerintah tidak ditekan, justru pemerintah tidak akan merubah kebijakan,” kata Dadang.

Melemahnya gerakan buruh, menurut Dadang memang sudah terlihat. Khususnya saat May Day ditetapkan menjadi hari libur oleh pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2014 lalu.

“Ketika mengubah aksi tekanan, ini akan melemahkan tekanan. Kalau saya tagline May Day itu seperti Funday, Jadi terkesan hari kegembiraan. Ada pengaburan makna esensi hari buruh sekarang ini,” ucapnya.

Baca Juga:  DPW PPP Sumut Melawan! Tolak Calon yang Diusung PDIP di Sumut

Lebih jauh lagi, Dadang memaparkan, aksi buruh yang kerap disusupi kepentingan politik menjadi fenomena biasa. Namun dia mengingatkan siapapun yang terpilih bisa membuat kebijakan yang pro buruh.

“Buruh ini kan massa yang menarik untuk didekati konteks politik. Entitas politik selalu berharap dukungan. Dalam konteks politik sah-sah saja jika ada upaya menggoda para buruh untuk memilih calon. Yang penting adalah, siapapun yang terpilih bisa memperjuangkan nasib buruh,” tegasnya.

Perjuangan buruh masih membutuhkan waktu yang sangat panjang. Hari buruh yang ditetapkan sebagai libur nasional adalah salah satu bentuk penghormatan kepada buruh. Pun begitu, dia mengatakan, ada kondisi yang masih paradoks dengan nasib buruh saat ini. [ska]

Terkait


Berita Terbaru