Home / NEWSSUMUT / Ibu Tiri Tega Aniaya Balita 3 Tahun Hingga Tangannya Patah

Ibu Tiri Tega Aniaya Balita 3 Tahun Hingga Tangannya Patah


Akibatnya tangan sebelah kiri balita berinisial AS itu patah. Selain itu kaki, paha dan pantat sang balita mengalami biru kehitam-hitaman akibat dicubit dan diduga disundut api rokok. [foto istimewa]

EDISIMEDAN.com, KARO- Perbuatan Siti br Siregar alias Mpok (36), sangat sadis. Balita 3,7 tahun yang tak lain anak tirinya disiksa habis-habisan. Akibatnya tangan sebelah kiri balita berinisial AS itu patah. Selain itu kaki, paha dan pantat sang balita mengalami biru kehitam-hitaman akibat dicubit dan diduga disundut api rokok.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, penyiksaan terhadap AS ternyata sudah dilakukan sejak balita itu diasuh oleh ayah kandung dan ibu tirinya itu tahun 2017 untuk tinggal bersama mereka tepatnya di Jalan Bunga Sedap Malam XII Kelurahan Sempakata Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara.

“Selamat mlm Bang/Kak, bantu aku, gak tau lagi buat apa. Sudah terulang lagi masalah anakku disiksa mama tirinya. Besok si kecil dibawa ke Medan karena kondisi kesehatannya sangat lemah Bang/Kak. Akukan lagi di luar negeri ini, adik ipar semalam VC aku. Tolong Bang/Kak ini Fb adik iparku Dwi Erni Sembiring, dia yang selama ini melaporkan sama aku tentang penyiksaan anakku oleh mama tirinya,”tulis Ibu kandung korban Junita beru Barus (36) melalui telepon selulernya dan Chatting dari Facebook Selasa (22/5/2018) sekira pukul 20:30 Wib.

Baca Juga:  KPU Binjai Kukuhkan 30 Relawan Demokrasi

Bahkan tulisnya lagi, sudah berulang kali Ia meminta agar mantan suaminya Deni Alexander Sembiring (36) menyerahkan anaknya itu untuk diasuhnya sendiri. Karena sejak berpisah (cerai) dengan suaminya 6 tahun yang lalu. Anak-anaknya sering tinggal di rumah orangtuanya. Namun pada bulan Juli tahun 2017, kedua anaknya itu diminta Ayahnya agar diantar ke rumahnya dengan alasan kangen.

Dibeberkannya, aksi bejat tersebut diketahuinya saat dia menyuruh adik iparnya (adik mantan suaminya) untuk menjenguk anaknya yang tinggal bersama mantan suami dan istrinya itu (pelaku).

“Waktu itu bulan Oktober tahun 2017, ketika adik ipar menjenguk anakku, dia heran melihat paha sibungsu biru-biru kehitaman seperti bekas dicubit dan disundut api rokok. Bahkan pantatnya juga memar, kasihan kali anakku itu. Bahkan peristiwa ini terulang kembali, tangan kirinya patah, seluruh badan lebam-lebam,”ujarnya melalui telepon seluler.

Sementara, sambungnya lagi, kejadian kali ini untuk kedua kalinya. Kejadian pertama telah dilaporkan ke Polsek Sunggal Jalan TB Simatupang No. 240 Sunggal dengan Surat Tanda Terima Laporan Polisi bernomor STTLP/1066/K/X/2017/SPKT Polsek Sunggal tanggal 25 Oktober 2017. Kala itu, sebelum melapor, korban dibawa berobat dan divisum di RS Bhayangkara Medan. Namun hingga sekarang tak ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.

Baca Juga:  Kerusuhan Kembali Pecah, Kali Ini Dekat Rumah Walikota Medan

“Sejak kejadian itu, anakku diambil adik ipar Dwi Erni Sembiring. Namun 2-3 minggu yang lalu mereka diambil Bapaknya lagi, nah disitu disiksa lagi. Mereka sekarang udah jarang tinggal di Jalan Bunga Sedap Malam XII Kelurahan Sempakata Medan Selayang. Karena sudah mau habis kontrakannya, sekarang mereka tinggal di Jalan Raharja Pondok Batuan Simpang Pemda. Tadi malam udh WA adek iparku sama Pak Arist Kak dan anakku udah di visum di Kabanjahe,”bebernya.

Menanggapi aksi bejat itu, Ketua Umum Komisi Nasional (Komnas PA) Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait ketika dikonfirmasi melalui telepon seluler, Rabu (23/5/2018) mengatakan tak akan mentoleransi tindak kekerasan terhadap anak, apalagi dilakukan oleh orang terdekat.

Menurutnya, sebagai lembaga independen yang bertugas menjalankan fungsi pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia meminta aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian agar menindak terduga pelaku kekerasan dan penganiayaan terhadap korban yang masih balita.

Baca Juga:  Lapas Kelas II A Binjai Musnahkan HP Dan Sajam Rakitan

“Laporan pengaduan di Polsek tersebut secepatnya ditindak lanjuti pihak polisi selaku penegak hukum. Penyidik perlindungan anak di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak di Polsek Sunggal di wilayah hukum Polrestabes Medan segera menindak lanjuti laporan pengaduan korban,”sebutnya.

Tindak kekerasan atau ancaman kekerasan serta penganiayaan yang dilakukan keluarga terdekat terhadap anak, dalam ketentuan pasal 80 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2014 mengenai perubahan kedua atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dapat dipidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan denda 72 juta.

“Jika terbukti, dapat ditambahkan 1/3 dari pidana pokoknya. Begitu juga, jika penganiayaan sampai luka berat, pelaku dapat dipidana 5 tahun penjara dan denda Rp100 juta,”ujarnya.

Ia menambahkan, pengaduan dan informasi yang disampaikan masyarakat kepada aparatur penegak hukum atas peristiwa pelanggaran hak anak melalui media sosial dan media cetak patut diapresiasi. [Anita]

Terkait


Berita Terbaru