Home / BISNIS / Generasi Milenial Pilih Saham atau Reksadana?

Generasi Milenial Pilih Saham atau Reksadana?


EDISIMEDAN.com, MEDAN– Berinvestasi sudah menjadi kebutuhan masyarakat untuk menjaga nilai uang atau asetnya masing-masing. Apalagi, saat ini kalangan milenial kian melek akan pentingnya berinvestasi. Berbagai informasi yang mudah didapatkan secara online membuat investasi semakin mudah untuk dipelajari dan dilakukan.

“Tren investasi pun kini berubah, kalau dulu orang mungkin lebih memilih berinvestasi dalam bentuk tanah, bangunan, emas, atau aset tetap lainnya. Namun saat ini, teknologi membuat orang lebih banyak melirik investasi dalam bentuk portofolio investment atau investasi portofolio,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara, Muhammad Pintor Nasution, Sabtu (22/1).

Menurutnya, investasi dalam bentuk instrumen keuangan semakin diminati investor muda. Salah satunya adalah pilihan berinvestasi di pasar modal melalui BEI dengan perantara perusahaan efek. Salah satu instrumen investasi yang diperjualbelikan di BEI adalah saham. Namun, sebelum memulai invetasi saham, calon investor harus mempelajari karakteristik investasi saham itu sendiri.

Baca Juga:  Terkait Peluang dan Tantangan Investasi di 2023, Kata BEI Begini Caranya

Pasalnya berinvestasi berbeda dengan menabung. Ada risiko dibalik potensi return investasi. Seperti jargon yang sering disampaikan para investor, high risk high return, low risk low return.

“Investasi saham termasuk dalam katagori investasi yang memiliki risiko tinggi,” katanya.

Pintor pun mengajak untuk melihat potensi keuntungan saham terlebih dahulu. Pertama, potensi keuntungan dari capital gain, yaitu keuntungan dari selisih antara harga jual dengan harga beli. Biasanya, makin banyak dana diinvestasikan, makin besar pula potensi capital gain yang bisa diperoleh.

Keuntungan selanjutnya dari investasi saham adalah investor akan memperoleh pembagian dividen, yakni bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada para investor (pemegang sahamnya) sesuai jumlah saham yang dimiliki atau modal yang diinvestasikan.

Baca Juga:  PT Inalum dan 4 BUMN Siap Sukseskan Kawasan Industri Kualatanjung

Selain memberikan potensi keuntungan besar, investasi saham juga memiliki risiko. Salah satunya adalah potensi kerugian akibat pergerakannya yang cenderung lebih fluktuatif sehingga harga jualnya dapat merosot sewaktu-waktu. Risiko lainnya dari investasi saham adalah ketika perusahaan bangkrut menurut putusan pengadilan sehingga harus dilikuidasi.

“Jika perusahaan dipailitkan, maka pemegang saham biasa akan menjadi prioritas terakhir untuk mendapatkan hasil likuidasi aset perusahaan setelah semua kewajibannya dilunasi,” ujarnya.

Selain itu, risiko lainnya adalah ketika perusahaan mengalami delisting atau dihapus dari bursa saham oleh BEI sehingga investor harus menjual semua sahamnya meskipun harga sahamya sedang turun.

Menurutnya, agar investor bisa meminimalisasi risiko adalah dengan mempelajari kinerja perusahaan dan membeli saham berdasarkan prospek kinerja jangka panjang. Semakin panjang jangka waktu berinvestasi, semakin rendah potensi risiko yang akan diterima.

Baca Juga:  Tahun 2022 Diprediksi Inflasi Akan Lebih Tinggi

Selain itu lakukan juga diversifikasi dengan membeli lebih dari satu saham, dan membeli saham di beberapa sektor usaha, sehingga jika salah satu perusahaan atau salah satu sektor mengalami masalah, tidak semua dana investasi tergerus atau berkurang akibat penurunan harga saham.

Karena itu, berinvestasi saham membutuhkan modal yang relatif besar, yang cukup untuk membeli beberapa saham dengan tujuan untuk mengelola risiko. Investor juga harus membeli minimal satu lot saham yang berisi 100 lembar saham per lot.

Selain modal investasi, dibutuhkan pula kemampuan untuk menganalisa perusahaan yang sahamnya hendak dimiliki, juga membutuhkan waktu untuk mengamati pergerakan harga saham.(red)

Terkait


Berita Terbaru