Home / SUMUT / Penurunan Stunting, Dinas PPKB Kota Binjai Harapkan Sinergi OPD Terkait

Penurunan Stunting, Dinas PPKB Kota Binjai Harapkan Sinergi OPD Terkait


EDISIMEDAN.com, MEDAN– Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Binjai terus berusaha menurunkan angka kasus stunting di Kota Rambutan itu.

Percepatan Penurunan stuntingpun dilakukan dengan bersinergi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Ini dilakukan karena percepatan penurunan stunting ini tidak bisa dilakukan sendiri melainkan harus bersama-sama. Hal ini dikatakan Sekretaris Dinas PPKB Kota Binjai, Kasmi S.Sos saat ditemui di kantornya di DPPKB Kota Binjai pada Kamis (21/4).

“Kami berharap kerjasama semua OPD terkait.  Karena kalau kita sendiri bekerja akan tidak berhasil, jadi butuh bekerjasama apalagi kita sudah dibentuk timnya,” ujarnya.

 

Pada kesempatan itu, Kasmi menjabarkan data resiko stunting pada pendataan keluarga (PK) tahun 2021 Kota Binjai. Dimana jumlah keluarga di 5 Kecamatan di Kota Binjai pada tahun 2021 sebanyak 66750  sedangkan jumlah balitanya mencapai 13763 dan dengan resiko  stunting mencapai 20,6 persen.

Adapun rinciannya, Binjai Utara jumlah keluarganya  ada 19920, dan jumlah balitanya ada 3896 sementara resiko stuntingnya mencapai 19,5 persen.

Untuk Binjai Kota, jumlah keluarga 6673, balita 1031, resiko stunting ada 15,5 persen.

Binjai Barat, ada  11906 keluarga,  dan 2259 balita, untuk  resiko stuntingnya mencapai 21,2 persen.

Baca Juga:  TNI Temukan Ladang Ganja Selusa 1,5 Hektar di Pegunungan Tor Sihite

Binjai Timur, ada 15464 keluarga, balita 3532,  resiko stuntingnya ada 22,8 persen.

Binjai Selatan, ada  12787 keluarga, balitanya 2275, resiko stuntingnya mencapai 21,7 persen.

“Total resiko stunting di 5 kecamatan di kota Binjai ada 20,6 persen. Yang paling tinggi resiko stuntingnya di kecamatan Binjai Timur,” katanya.

Bersaman dengan itu, Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Kesejahteraan Keluarga (k3), Sondang SKM Mkes menyebutkan adapun penyebab sebuah keluarga dikatakan beresiko stunting dilihat dari  faktor ekonomi,  kurang pengetahuan tentang Kesehatan,  kemudian  dari awal kehamilan sudah tidak memenuhi syarat misalnya tidak memeriksakan kehamilan kebidan 4 kali atau 6 kali selama hamil dan tidak memberikan asupan yang cukup kepada bayinya setelah lahir. Selain itu juga kurangnya pengetahuan si ibu seperti apa memberi dosis gizi yang pas buat anaknya. Dan katanya, data keluarga resiko stunting  Itu merupakan temuan dari hasil PK21.

“Itukan data keluarga resiko stunting,  namun kita juga memiliki data stunting yang kami peroleh dari laporan  Dinas Kesahatan Kota Binjai bahwa di Binjai itu terdaftar ada 12 lokus. Dan disana sudah ditemukan stunting. Dari 12 lokus itu,  terdapat kelurahan yang paling tinggi kasus stuntingnya yaitu kelurahan Sukamaju  yakni ada 41 orang stunting,” ucapnya.

Baca Juga:  Dialog Dengan PKS Binjai Dejon Sembiring Ingin Memberikan Warna Baru

Meski dengan demikian, pihaknya optimis kasus stunting di Kota Binjai dapat turun apalagi setelah terbentuknya tim percepatan penurunan stunting beberapa minggu lalu, dan optimis targetkan dapat turun hingga 3 persen.

 

“Kalau program prioritas kami menurunkan stunting ini dimulai dari hulu yaitu dimulai kegiatan calon pengantin (catin) dimana kami sudah melakukannya dari tahun 2017 dan sudah dilakukan pelayanan kepada 17 ribu orang. Dari 17 orang itu kami yakin dan optimis bisa menurunkan 3 persen dan bahkan bisa lebih. Kenapa? Karena kerjasama BKKBN Binjai dengan instansi terkait cukup baik,” paparnya.

Ditambahkan Sondang, Kendati demikian dalam percepatan penurunan stunting ini tidak luput dari kendala.

“Tim Pendamping Keluarga (TPK) kita ada sedikit kendala. Tim  yang terdiri dari 200 kelompok dan 600 orang itu sudah dilatih oleh fasilitator namun mereka mengeluh karena belum begitu mahir menggunakan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (elsimil). Mereka hanya dua jam dilatih perhari selama 3 hari. Sehingga saya berharap pelatihan dilakukan kembali agar tim pendamping Keluarga ini bisa lebih mahir,” tegasnya.

Baca Juga:  Soroti Proyek Bermasalah, Aktivis Ditikam OTK

 

Sementara itu,  Kasi Balnak dan Lansia DPPKB Kota Binjai, Eliana menegaskan  untuk menurunkan kasus stunting ini, pihaknya terus menggerakkan kelompok dilapangan seperti Bina Keluarga Balita (BKB),   karena sebutnya BKB itu bekerjasama dengan posyandu yang menjadi sasarannya ibu -ibu yang memiliki balita.

Begitu juga dengan Catin yang  sudah diberi pengetahuan  tentang 4T (terlalu muda,  terlalu banyak, terlalu dekat dan terlalu tua). Jadi sesudah melahirkan mereka ikut di BKB sampai umur 6 tahun.

 

namun pihaknya mengharapkan di seribu hari pertama kehidupan mulai dari kehamilan sampai umur 2 tahun dan di posyandu itu bekerjasama dengan kader BKB  mau mencatatkan anaknya di kartu kembang anak.

“Kalau 3 bulan berturut turut tidak sesuai tumbuh kembang anaknya maka bisa dirujuk bahwa anaknya itu tidak sesuai dengan perkembangannya,” ungkapnya.

Sebab sebutnya dari kartu kembang anak itupun bisa dilihat apakah anak tersebut tumbuh kembangnya baik atau tidak. (red).

Terkait


Berita Terbaru