Home / SUMUT / Atasi Stunting, Sergai Aktifkan Bina Keluarga Remaja

Atasi Stunting, Sergai Aktifkan Bina Keluarga Remaja


EDISIMEDAN.com, SERGAI– Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) kembali mengaktifkan Bina Keluarga Remaja (BKR) untuk mencegah kasus stunting dan juga sebagai salah satu langkah percepatan penurunan angka kasus stunting di Sergai.

Hal ini diungkapkan, Kepala Bidang Keluarga Berencana (KB) dan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga (K3) DP2KBP3A, Firman SKM, MAP yang disampaikan

Kepala Seksi  K3 DP2KBP3A, Wahdini SST. Mkes baru-baru ini saat dikunjungi di kantornya.

Dikatakannya, Penanganan stunting ada dua jenis intervensi yaitu spesifik dan sensitif.  Khusus intervensi sensitif ini bukan hanya KB saja yang terlibat namun juga ada sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, Tarukim dan sejumlah opd lainnya yang sudah terangkum menurut SK Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).

“Dari KB kita melakukan dari hulu bagaimana menyiapkan remaja menjadi calon pengantin yang sehat. Jadi untuk remaja kita sudah bergerak melalui kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) sehingga keluarga yang memiliki remaja kita aktifkan BKR  sehingga tidak ada keluarga yang memiliki remaja yang tidak tercatat di BKR,” ungkapnya yang saat itu juga hadir Sekretaris, dr Tetty Grace Marpaung,  Technical Asisstant Satgas Stunting, dan Kasi Pembinaan Kesetaraan Ber-KB, Embranalit Sitepu, SKM.

Baca Juga:  Jokowi Dukung Peremajaan 350 Ribu Hektar Sawit di Sumut

Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) sebutnya adalah suatu kelompok / wadah kegiatan yang terdiri dari keluarga mempunyai remaja usia 10-24 tahun yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua dalam rangka pengasuhan tumbuh kembang remaja.

Untuk remajanya sendiri, katanya pihaknya mengaktifkan menjadi remaja yang berencana dan bahkan sudah mengirimkan utusan PIK KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja) pada tahun 2021 untuk menjadi remaja Gendre Provinsi Sumut dan  bahkan Sergai masuk dalam 10 besar.

 

Selain itu, keseriusan  Dinas ini dalam percepatan penurunan angka stunting di daerah itu, pihaknya bahkan sudah membentuk Tim pendamping keluarga (TPK) pada Desember 2021 lalu,  sudah dibentuk dan dilantik bahkan sudah terlaksana. Untul biaya pulsa  juga sudah dibayarkan 3 bulan dan untuk pembayaran pulsa bulan April Juga akan dilaksanakan. Tak ketinggalan pelaksanaan aplikasi Elsimil atau aplikasi edukasi dan sistem elektronik siap nikah dan Hamil juga sudah dilaksanakan.

Baca Juga:  Kapolda: Oknum Satpol Air Sergai Bantu Selundupkan 44 Kg Sabu

“Sampai Maret sudah  ada 189 calon pengantin (catin) sudah masuk dalam aplikasi Elsimil. Kita  juga melalui kelompok PIK KRR, BKR,  kita sudah sosialisasikan Elsimil. Jadi remaja belum menikah sudah mendapat informasi Elsimil. Sehingga 3 bulan sebelum menikah dia sudah mencatatkan pernikahannya. Kita terus sosialisasikan  sehingga Jangan lagi ada catin yang tidak masuk aplikasi elsimil. Wajib mendownlod aplikasi itu,” tegasnya.

Pihaknya juga menyebutkan  bekerjasma dengan Dinas Kesehatan (Dinkes).  Melalui data PK 21 Sergai  memiliki data kelompok resiko stunting. Dari data itu sudah dipilah dari usia 10 tahun sampai 24 tahun yang belum menikah. Jadi data itu diberikan kepada Dinkes untuk menjadi sasaran memberikan tablet Fe, sehingga harapnya tidak ada lagi remaja putri di Sergai yang mengalami anemia, atau kekurangan energi kronis.

Baca Juga:  Waduh, Pemko Gunungsitoli Bayar Pengamanan Presiden Rp 400 Juta

 

Untuk Target itu supaya tercapai kita melakukan MOU dengan Dinkes, Depag. Kewajiban pihaknya melakukan sosialisasi dengan PIK KRR dan BKR, Dinkes wajib melalui posyandu remaja, Depag memiliki kegiatan mempersiapkan keluarga sakinah. Di kegiatan itu di sosialisasikan Elsimil. Ini juga tujuannya mencegah menikah dini, mencegah angka kematian ibu dan anak.

Sementara itu, angka stunting yang terkenal daerah memiliki wisata pantai ini terdapat keluarga resiko stunting berdasarkan data tahun 2021 yakni 1488 sedangkan pada Maret kasus stuntingnya hanya 823 balita. (red).

Terkait


Berita Terbaru