Home / SUMUT / Tangani Stunting, Ini Upaya Yang Sudah Dilakukan Tebingtinggi 

Tangani Stunting, Ini Upaya Yang Sudah Dilakukan Tebingtinggi 


EDISIMEDAN. com, TEBINGTINGGI– Meski Kota Tebing Tinggi merupakan daerah terendah ke-3 kasus stunting di Sumatera Utara (Sumut) namun tidak membuat Kota Lemang ini berhenti berupaya menekan angka stunting.

Saat ditemui, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tebingtinggi (Kadis PPKB Kota Tebingtinggi), Hj Nina Zahara Mz SH MAP mengatakan bahwa pihaknya bersama dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi stunting. Bahkan akuinya di Kota Tebingtinggi termasuk cepat dalam melaksanakan upaya-upaya itu.

“Kita Tebingtinggi sudah melaksanakan sejumlah upaya tekan angka stunting.  Diantaranya rekrut Tim Pendamping Keluarga (TPK), orientasi TPK, sosialisasi tentang stunting bagi masyarakatnya secara langsung atau tidak langsung juga sudah dilaksanakan yang bekerjasama dengan Kominfo. Pembentukan Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) tingkat kecamatan dan kelurahan juga sudah bahkan SK- nya sudah ada di bidang KB,” ungkapnya kepada media saat dikunjungi di kantornya pada beberapa waktu lalu.

Ia juga membeberkan bahwa upaya lain seperti pengumpulan data,  Analisis situasi, rencana kegiatan,  rembuk stunting, identifikasi kasus, audit stunting dengan Bappeda, penetapan lokus stunting, rembuk stunting tingkat kecamatan juga sudah mereka laksanakan.

Baca Juga:  Reni Pergi Meninggalkan Rumah

“Kami menangnya di Tebing ini lengkap datanya. Jadi kalau mau minta data apa saja terkait stunting ini kita sudah punya semua,” ucapnya.

Upaya dalam penemuan kasus stunting ini tidak terlepas juga dari Pendampingan untuk calon pengantin (catin), ibu hamil dan bulin. Dari Pendampingan yang dilakukan itulah pihaknya sudah mendapat 514 sasaran terdiri  dari catin 175 orang, ibu hamil 246 orang dan bulin 93 orang.

“Kenapa catin dan ibu hamil ini lebih tinggi karena kita memiliki standar prosedur pelayanan perkawinan yang digelar setiap Selasa dan Kamis.

Dikegiatan itu kita  bisa langsung mendata. Setiap pasangan yang datang langsung dimasukkan ke aplikasi Elsimil. KUA tidak akan mengeluarkan catin jika tidak memiliki sertifikasi.  Disitu langsung TPKnya dihubungi oleh masing -masing kecamatan. Kalau untuk data ibu yang hamil, data- data kita  juga sudah ada kerjasama di fasilitas kesehatan (faskes),” tegasnya.

Namun ia juga mengaku dalam penanganan stunting ini pihaknya tidak luput mendapati kelemahan, dimana Tebingtinggi  tidak punya anggaran khusus.

Baca Juga:  Hut 43 FKPPI, Dandim 0203 Langkat Kunjungi Rumah Anak Yatim Darul Hamid Assalam Binjai Kota

“Meskipun begitu kami sudah mengupayakan semaksimal mungkin. Dalam waktu dekat ini saja  Contoh yang paling ringan adalah pada tanggal 12 Mei ada apel siaga TPK seluruh Indonesia.  Itu kita tidak punya anggaran. Kita akan mengundang lebih dari 500 orang yang terdiri dari Pemerintah,  TPK, TPPS, unsur Kecamatan, kelurahan. Itu dipastikan akan membutuhkan  anggaran yang tidak sedikit,  namun kita akan tetap upayakan agar dapat terlaksana,”paparnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga sempat menceritakan bahwa kasus stunting di Kota Tebingtinggi itu kebanyakan ditemukan dari keluarga yang menikah dibawah umur atau pernikahan dini.

“Umumnya stunting disini ditemukan pada pasangan yang menikah dibawah umur. Anak yang dilahirkan tidak sesuai usianya. Berat badannya, Tinggi badannya. Kebanyakan stunting dari pernikahan yang tidak direncanakan,” ucapnya.

Berbeda dengan tetangganya Kabupaten Serdangbedagai dimana kebanyakan stunting ditemukan di daerah pesisir. Keluarga stunting tidak memiliki edukasi atau pengetahuan yang cukup tentang pola asuh anak yang baik, pola makan dan selain persoalan  sanitasi yang buruk.

Kota Tebingtinggi justru karena berada diperkotaan termasuk sudah memiliki sanitasi yang baik. Namun kepadatan penduduk, rumah tidak layak tidak dipungkiri juga ini masih menjadi masalah mereka.

Baca Juga:  Indonesia International Bikers Diharapkan Menjadi Even Jalin Persaudaraan Antar Bikers

“Kalau disini kota,  heterogen, dimana masih ada masalah kepadatanpenduduk, dan rumah tidak layak,” paparnya.

 

Sementara itu jumlah stunting berdasarkan hasil pengukuran Dinkes sebanyak 281 kasus sementara keluarga risiko stunting hasil pendataan keluarga  tahun 2021 (PK21) sebanyaj 17418 balita.

“Kita disini juga punya jumlah balita 10610 balita, lokus stuting ada 10 kecamatan,” katanya.

Kasus stunting paling tinggi sebutnya yang saat itu didampingi Kepala Seksi Pengendalian Penduduk dan Informasi Keluarga, Yuwirna SKM  bahwa terdapat  di Kecamatan Rambutan ada 102 kasus yang tersebar di kelurahan  Mekar Sentosa, Lalang, Tanjung Marulak, Karya Jaya, Sri Padang, Tanjung Marulak Hilir. Kemudian di Kecamatan Bajenis ada 88 kasus terdapat di kelurahan Teluk Karang,  Durian,  Pelita, Pinang Mancung, Berohol, Bulian,  Bandar Sakti.

 

“2024 kita  optimis target penurunan stunting tercapai  jika semua OPD bekerjasama. Kita Harapannya jangan lagi ada stunting,” tandasnya. (red)

Terkait


Berita Terbaru