Home / SUMUT / Bonus Demografi Jangan Sampai Jadi Bencana

Bonus Demografi Jangan Sampai Jadi Bencana


EDISIMEDAN.com, MEDAN-Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Bonivasius Prasetya Ichtiarto menyampaikan, bahwasanya saat ini Indonesia telah memasuki masa bonus demografi. Sebab, berdasarkan sensus yang dilakukan pada tahun 2020, sebanyak 70 persen jumlah masyarakat berada dalam fase usia produktif, yakni di umur 15-60 tahun.

Karenanya, Bonivasius mengingatkan, supaya kualitas penduduk harus benar-benar dijaga dalam bonus demografi ini. Agar, sambungnya, pada tahun 2045 atau 100 tahun usia kemerdekaan, menjadi Indonesia emas.

“Kalau ini terjaga dan benar-benar dimanfaatkan dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi negara ketiga di dunia sesuai estimasi para pakar. Namun kalau tidak, ini justru bisa menjadi bencana demografi,” ungkapnya, usai membuka seminar Integrasi Kebijakan Pembangunan Kependudukan Dalam Perspektif Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia, dalam rangkaian Harganas ke 29, di Medan, Selasa (5/7).

Baca Juga:  Gubsu Berharap Konsulat Manfaatkan Potensi Mahasiswa Alumni Jepang

Lebih lanjut, Bonivasius menjelaskan, dalam grand design pembangunan kependudukan, terdapat lima pilar yang menjadi pedoman. Pertama adalah kuantitas penduduk, kedua kualitas penduduk, kemudian pembangunan keluarga, migrasi atau urbanisasi dan terakhir terkait data keluarga.

Dari kelima pilar ini, dia menerangkan, kualitas penduduk berkaitan erat dengan bonus demografi. Karena, kualitas penduduk akan berpengaruh dengan pendidikan, kesehatan, skill dan tersedianya lapangan pekerjaan.

“Makanya ini yang harus dibedah lagi. Namun jika lapangan pekerjaan tidak cukup, kita bisa mengirimkan tenaga kerja keluar negeri, dengan memanfaatkan bonus demografi ini. Tetapi tenaga kerja yang dikirim dengan catatan sebagai tenaga kerja yang memiliki skill,” terangnya.

Baca Juga:  Usai Kunjungan ke Eropa, Presiden Jokowi akan Hadiri Hari Keluarga Nasional di Medan

Namun, Bonivasius mengakui, masalah narkoba yang banyak terjadi pada usia produktif tentu dapat mengancam bonus demografi yang sedang diperoleh ini. Makanya, dia menambahkan, pembangunan keluarga sebagai pilar ketiga bisa benar-benar berperan.

“Sehingga kalaupun ada anak-anak muda yang terkena narkoba, jumlahnya akan mengecil,” pungkasnya.

Sementara itu, sebagai salah satu pembicara dalam seminar, Yogi Yuniarto dari Direktorat Kependudukan dan Jaminan Sosial Bappenas menyatakan, bonus demografi merupakan peluang yang baik bagi ekonomi. Sependapat dengan Bonivasius, dia juga menilai, jika bonus demografi tidak dimanfaatkan dengan baik, malah bakal menjadi bencana demografi.

“Puncak bonus demografi adalah tahun 2021. Karena telah memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi walau sedang terjadi pandemi,” ujarnya.

Baca Juga:  Diduga Bawa Kabur Uang Anggota, Warga Karo Pemilik Arisan Online Terancam Dipolisikan

Yogi menyebutkan, bonus demografi ini akan didominasi oleh kaum milenial dan juga generasi Z yang memiliki kemampuan teknologi untuk membuka peluang ekonomi dan kewirausahaan. Sementara pada 2045 atau 100 tahun Indonesia merdeka, diperkirakan kondisi demografi memiliki 318 juta jumlah penduduk dengan jumlah lansia yang cukup besar.

“Sehingga kita harus mempersiapkan sejak dini, dengan memberikan kualitas dan kesejahteraan pada lansia tersebut. Jadi yang perlu disiapkan adalah mempercepat kualitas pendidikan yang merata untuk SDM yang unggul. Kemudian perlu meningkatkan peran masyarakat dalam pendidikan, profesional guru dan perubahan metode belajar yang harus lebih interaktif sehingga tidak satu arah serta budaya membaca,” pungkasnya. (red)

Terkait


Berita Terbaru