Home / BISNIS / Perlunya Beretika Dalam Berbisnis dan Tanggung Jawab Sosial

Perlunya Beretika Dalam Berbisnis dan Tanggung Jawab Sosial


MEDAN-Membangun sebuah bisnis itu susah-susah gampang, diperlukan perencanaan yang matang, kreativitas, kerja keras dan ketekunan dalam prosesnya, serta memiliki sikap kompetitif, memiliki ambisi dan inovatif akan menjadi salah satu penentu kesuksesan bisnis tersebut, namun alangkah baiknya apabila bisnis tersebut dibalut dengan etika dan profesionalisme.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan etika bisnis itu ? Bertens menyatakan bahwa etika bisnis adalah pemikiran atau refleksi kritis tentang moralitas dalam kegiatan ekonomi dan bisnis.

Moralitas selalu berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia, dan kegiatan bisnis merupakan salah satu bentuk kegiatan manusia. Bisnis memang seharusnya dinilai dari sudut pandang moral, sama seperti semua kegiatan manusia lainnya juga dinilai dari sudut pandang moral.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Rixhard De George “ bisnis seperti kebanyakan kegiatan sosial lainnya, mengndaikan suatu latar belakang moral, dan mustahil bisa dijalankan tanpa ada latar belakang moral seperti itu. Jika setiap orang yang terlibat dalam bisnis – pembeli, penjual, produsen, manajer, karyawan dan konsumen – betindak secara immoral atau bahkan amoral (yakni tanpa mempedulikan apakah tindakannya bermoral atau tidak), maka bisnis akan segera terhenti.

Moralitas adalah minyak yang menghidupkan serta lem yang merekatkan seluruh masyarakat, termasuk juga bisnis. Dari pernyataan Richar De George tersebut, dapat disimpulkan bahwa etika bisnis merupakan alat bagi para pelaku bisnis untuk menjalankan bisnis mereka dengan lebih bertanggungjawab secara moral. Para pemilik perusahaan mengharapkan bahka menuntut para karyawannya bekerja dengan baik sesuai dengan perjanjian kerja yang telah disepakati, agar tidak merugikan perusahaan. Para pemiliki perusahaan juga mengharapkan agar relasi bisnis mereka tidak menipu dan meninggalkan perusahaan.

Etika bisnis juga merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individi, perusahaan dan juga masyarakat. Etika bisnis dalam perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, dan masyarakat. Etika bisnis dapat menjadi standard an pedoman bagi seluruh karyawan termasuk pihak manajemen dalam melakukan kegiatan perusahaan dengan berlandaskan moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap professional.

Berbeda dengan hukum bisnis, dimana sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum.

Konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi penciptaan hukum, perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan politik serta cara perwakilan di mana mereka yang akan dipilih.

Namun etika dan hukum tidak mungkin saling bertentangan. Prinsip ini dapat dilacak secara genealogis dari sisi filsafat. Keduanya merupakan pedoman perilaku manusia sekaligus instrument sosial untuk mewujudkan tertib kehidupan bermasyarakat yang lahir dari pemikiran dasar tentang manusia dan kemanusiaan.

Baca Juga:  Indosat Ooredoo Mencatatkan 8% Pertumbuhan Total Pendapatan Dibandingkan Tahun Lalu

Etika bisnis memiliki prinsip-prinsip yang bertujuan memberikan acuan yang harus ditempuh oleh perusahaan untuk mencapai tujuannya. Menurut Sonny Keraf (1998) dalam Agoes dan Ardana (2009), ada lima prinsip yang dijadikan pedoman perilaku dalam menjalankan praktik bisnis, yaitu ; 1. Prinsip otonomi ; menunjukkan sikap kemandirian, kebebasan dan bertanggung jawab.
Orang yang mandiri berarti orang yang dapat mengambil suatu keputusan dan melaksanakan tindakan berdasarkan kemampuan sendiri sesuai dengan apa yang diyakininya, bebas dari tekanan, hasutan dan ketergantungan kepada pihak lain.

2. Prinsip kejujuran ; menanamkan sikap bahwa apa yang dipikirkan adalah apa yang dikatakan, dan apa yang dikatakan adalah apa yang dikerjakan. Prinsip ini juga menyiratkan kepatuhan dalam melaksanakan komitmen, kontrak dan perjanjian yang telah disepakati.

3. Prinsip keadilan ; menanamkan sikap untuk memperlakukan semua pihak secara adil, yaitu suatu sikap yang tidak membeda-bedakan dari berbagai aspek baik dari aspek ekonomi, hukum, maupun aspek lainnya.

4. Prinsip saling menguntungkan ; menanamkan kesadaran bahwa dalam bisnis perlu ditanamkan prinsip win-win solution, artinya dalam setiap keputusan dan tindakan bisnis harus diusahakan agar semua pihak merasa diuntungkan.

5. Prinsip integritas moral ; adalah prinsip untuk tidak merugikan orang lain dalam segala keputusan dan tindakan bisnis yang diambil. Prinsip ini dilandasi oleh kesadaran bahwa setiap orang harus dihormati harkat dan martabatnya. Adapun manfaat yang didapat dari penerapan etika dalam berbisnis adalah perusahaan memiliki citra yang baik di mata pelanggan, perusahaan menjadi terpercaya, dapat memaksimalkan keuntungan perusahaan, memperhatikan kepentingan bersama dan menjunjung tinggi nilai moral.

Pentingnya etika bisnis
Diskusi tentang etika dalam bisnis diperlukan karena bisnis bisa menjadi tidak etis, dan ada banyak bukti pada hari ini bahwa terdapat praktik perusahan yang tidak etis. Perusahaan beroperasi di bidang sosial dan lingkungan alam. Dengan kebijakan yang berhubungan dengan alam, lingkungan sosial dimana ia berada.

Terlepas dari tuntutan dan tekanan di atasnya, perusahaan berdasarkan berdasarkan keberadaannya terikat oleh etis bisnis. Ada dua alasan ; pertama, karena apa pun bisnisnya tidak mempengaruhi stakeholders dan kedua, karena setiap titik tindakan merupakan lintasan etis serta jalur tidak etis dimana keberadaan bisnis dibenarkan oleh alternatif etis yang bertanggung jawab memilih. Salah satu kondisi yang membawa etika bisnis ke permukaan adalah bahwa dari bisnis skala kecil, muncul kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan dan kemudian berkembang stuktur perusahaan multinasional besar yang mampu mempengaruhi kehidupan sehari-hari dari masyarakat.

Dengan semakin besarnya persaingan dalam dunia bisnis, perusahaan-perusahaan saling berlomba untuk dapat menjadi pemimpin pasar. Disinilah sangat rawan muncul praktik-praktik bisnis yang tidak etis demi memenangkan persaingan dalam industri.

Baca Juga:  Kemendag Perketat Pengawasan Aset Kripto

Isu-isu dalam etika bisnis.
Ada beberapa isu yang selalu menjadi perhatian dalam etika bisnis, yaitu ;
Jika tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimalkan keuntungan bagi pemegang saham, maka secara etis perusahaan harus juga mempertimbangkan kepentingan dan hak-hak orang lain.

Tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, suatu istilah umum dimana hak-hak dan kewajiban etika yang ada antara perusahaan dan masyarakt diperdebatkan.

Isu mengenai hak-hak moral dan tugas antara perusahaan dan pemegang sahamnya, konsep stakeholder ataukah konsep pemegang saham.
Masalah etis tentang hubungan antara perusahaan yang berbeda, misalnya; saling bermusuhan missal perang harga, spionase industri, dsb
Masalah kepemimpinan; tata kelola perusahaan dan usaha sosial perusahaan, Kontribusi politik yang dibuat oleh perusahaan
Reformasi hukum, seperti perdebatan etis memperkenalkan kejahatan mematikan perusahaan
Penyalahgunaan kebijakan etika perusahaan sebagai instrument pemasaran.

Etika keuangan
Keuangan menjadi disiplin terkait tentang masalah teknis seperti bagaimana mengoptimalkan hutang dan ekuitas pembayaran, kebijakan deviden, dan evaluasi proyek-proyek alternatif investasi, seperti penilaian opsi, future, derivative efek, portofolio diversifikasi dll, sering keliru menjadi disiplin yang bebas dari beban etika. Namun sering ada kebocoran ekonomi yang tidak bisa dijelaskan dengan teori siklus bisnis sendiri yang telah membawa etika keuangan ke permukaan.

Etika keuangan yang terlupakan mempunyai alasan lain; isu-isu di bidang keuangan seringkali ditujukan sebagai masalah-masalah hukum, bukan etika. Melihat lebih dekat ke dalam literatur mengenai etika keuangan seseorang dapat yakin bahwa seperti halnya dengan daerah operasional bisnis lainya, etika di bidang keuangan juga sengit diperdebatkan. Dibawah pengaruh ideologi neoliberal, bisnis keuangan yang merupakan inti dari ekonomi neoliberal.

Hal ini menyatakan bahwa pembebasan sistem keuangan akan menjamin pertumbuhan ekonomi melalui sistem pasar modal yang kompetitif dan memastikan pertumbuhan tingkat tinggi dari tabungan, investasi, kerja, produktivitas, arus masuk modal asing dan dengan demikian akan membawa kesejahteraan bersama. Dengan kata lain, merekomendasikan kepada pemerintah Negara-negara miskin supaya membuka sistem keuangan mereka ke pasar global dengan pangaturan atas arus modal.

Perusahaan dalam paradigma keuangan, dipandang sebagai jaringan yang kompleks dari hubungan kontraktual, sebagian implisit antar berbagai kelompok-kelompok kepentingan. Pada dasarnya, untuk tetap rasional di bidang keuangan adalah menjadi individualistik, materialistik dan kompetitif. Bisnis adalah permainan yang dimainkan oleh individu, seperti halnya dengan semua permainan tujuannya adalah menang, dan menang adalah semata-mata diukur dari kekayaan materi. Sebaiknya etika keuangan dilihat dari perspektif stakeholder, yaitu para pemangku kepentingan langsung dan seharusnya perusahaan tidak saja memperhatikan kepentingan pemegang saham tetapi juga kepada semua pemangku kepentingan dan perusahaan langsung dan perusahaan mempunyai kewajiban terhadap hal-hal berikut; keadilan dalam praktik perdagangan, kondisi perdagangan, kontraktor keuangan, praktek-praktek penjualan, jasa konsultasi, pembayaran pajak, audit internal, audit eksternal yang dibahas didalamnya.

Baca Juga:  Manulife e-Application Inovasi Terbaru untuk Layanan Nasabah

Etika pemasaran
Etika pemasaran adalah himpunan bagian dari etika bisnis. Etika dalam pemasaran berkaitan dengan prinsip-prinsip, nilai-nilai dan atau cita-cita dimana pemasaran (dan lembaga pemasaran) harus bertindak. Etika pemasaran tidak terbatas pada bidang pemasaran sendiri, bahkan menyebarkan pengaruhnya di semua bidang kehidupan dan yang paling penting pembangunan identitas sosial bagi orang-orang dan mempengaruhi persepsi moral beberapa orang secara signifikan dan interaksi dengan orang lain, dan jika mereka dapat memberikan sumbangan kepada mereka, persepsi atau interaksi akan benar-benar salah, aktivitas ini mempengaruhi pertanyaan fundamental etika.
Etika bisnis dan tanggung jawab sosial perusahaan.

Saat ini yang menjadi perhatian terbesar dari perusahaan kepada masyarakat telah ditingkatkan yaitu dengan peningkatan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan masalah etika disekitarnya. Masalah seperti perusakan lingkungan, perlakuan tidak layak terhadap karyawan, dan cacat produksi yang mengakibatkan ketidaknyamanan ataupun bahaya bagi konsumen adalah menjadi berita utama media massa. Peraturan pemerintah pada beberapa Negara mengenai lingkungan hidup dan permasalahan sosial semakin tegas, juga standard dan hukum seringkali dibuat hingga melampaui batas kewenangan. Banyak pendukung CSR yang memisahkan CSR dari sumbangan sosial dan perbuatan baik, namun sesungguhnya sumbangan sosial merupakan bagian kecil saja dari CSR. Dengan diterimanya konsep CSR, perusahaan mendapatkan kerangka baru dalam menempatkan berbagai kegiatan sosialnya. Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR bukan hanyak sekedar kegiatan amal, dimana CSR mengharuskan perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan perusahaan, termasuk lingkungan hidup.

Beretika dalam berbisnis menjadi keharusan dimiliki oleh pelaku bisnis, dengan mengedepankan etika dan aturan yang berlaku secara umum di masyarakat maka perjalan bisnis akan lebih lancar, karena berbagai pihak yang terlibat sudah memahami peran serta tugasnya masing-masing, tanpa harus mengorbankan kepentingan orang lain hanya untuk mengambil keuntungan pribadi. Berbagi dengan masyarakat sekitar juga merupakan suatu bukti tanggang jawab akan arti kebersamaan dan kegotongroyongan.

Daftar pustaka
Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta; Penerbit Kanisius, 2000.
Albertson, Todd (2007), The Gods of Business, Trinity Alumni Press
Sonny Keraf (1998) dalam Agoes dan Ardana (2009),
Penulis
Yusrizal Batubara
Mahasiswa Magister Manajemen
Universitas Pembangunan Panca Budi – Medan

Terkait


Berita Terbaru