Home / KESEHATAN / Tenaga Teknik Kefarmasian Harus Bekerja Sesuai Dengan Kode Etik dan Standar Profesi

Tenaga Teknik Kefarmasian Harus Bekerja Sesuai Dengan Kode Etik dan Standar Profesi


EDISIMEDAN.com, PEMATANG SIANTAR-Tenaga Teknik Kefarmasian (TTK) harus bekerja sesuai dengan kode etik, dan standar profesi. Ini disebutkan oleh

Djuariah, SH.MH. selaku Ketua Bidang Hukum dan Pembelaan PAFI Pusat usai menjadi pemateri di Seminar Nasional bertemakan Peluang Kerja D3 Farmasi dan Anafarma yang diselenggarakan oleh PC PAFI Pematang Siantar pada Sabtu (27/8) yang diketuai oleh Ketua PC PAFI Pematang Siantar, Bertauli Purba, S.Farm.

Pada kesempatan itu, Djuriah yang mengaku mengangkat materi tentang etika profesi TTK serta peluang kerjanya bagi D3 Farmasi dan D3 Anafarma.

Disebutkannya, bahwa TTK harus memahami bahwa dalam melaksanakan tugas itu harus berdasarkan etika kemudian berdasarkan peraturan juga bahwa kita sebagai TTK itu wajib memiliki keahlian dan kewenangan.

Baca Juga:  DPK PPNI Binjai Bantu Vitamin Dan Poding Perawat Kota Binjai Hadapi Covid 19

“Artinya keahlian dan kewenangan ini diisi sesuai dengan ilmu TTK itu. Ketika lulus mendapatkan sesuai prosedur yang berlaku berdasarkan UU Tenaga Kesehatan, mereka akan mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) sebagai TTK. STR Itu adalah bukti pengakuan dari pemerintah untuk melakukan tugasnya. Karena didalam definisi tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabadikan diri dibidang kesehatan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan dari pendidikan,” tegasnya sembari menyebutkan bahwa di dalam Undang-Undang Tenaga Kesehatan juga ada perlindungan hukum termasuk kepada TTK. Selama TTK itu bekerja sesuai dengan standar profesi maka TTK akan dilindungi.

Hal inipun senada dengan pernyataan pembicara lainnya, Ketua PD PAFI Sumatera Utara, Dr. Mhd. Taufik, S.Si. M.Si.

Baca Juga:  15 Orang Covid 19 Di Binjai , Plt Kadis Sosial Binjai Rudi Baros Bagi-Bagi Masker

Katanya, peluang pekerjaan untuk D3 Farmasi dan D3 Analis Farmasi dan makanan (Anafarma) itu jelas memiliki perbedaan. Jadi masing-masing lulusan harus bekerja sesuai ilmu yang dimilikinya dari pendidikan.

“Misalnya yang D3 Anafarma tidak bisa bekerja di Apotek, dan toko obat berizin. Jadi yang berhak bekerja disana adalah D3 Farmasi. Karena profil lulusan D3 farmasi dan D3 Anafarma itu berbeda,” terang Taufik tegas.

Bahkan ia pun menyebutkan jika ada TTK yang bekerja tidak sesuai dengan etika dan kode etik yang berlaku maka
PAFI tidak akan memberikan rekomendasi STRnya.

“Belakangan banyak masyarakat yang belum memahami bahwa kedua lulusan itu memiliki lapangan kerja yang berbeda. Dengan ketidakfahaman ini banyak muncul masalah di daerah. Sehingga kita lihat Lulusan D3 Anafarma mau ditempatkan di Puskesmas padahal harusnya itu bukan lapangan kerjanya sehingga PAFI tidak memberikan rekomendasi. Kalau bekerja silahkan tapi tidak akan direkomendasi keluar surat izin praktek dari Persatuan Ahli Farmasi Indonesia,” jelas Taufik.

Baca Juga:  Jumlah ODP 61 Orang, Binjai Perangi Covid 19

Sementara itu, adapun tujuan dilakukan seminar nasional tentang peluang kerja TTK D3 Farmasi dan Anafarma ini guna memberikan pemahaman kepada masyarakat. Sehingga nantinya dapat bekerja Sesuai keilmuan yang diperoleh pada saat mengikuti pendidikan baik di D3 Farmasi maupun D3 Analis Farmasi dan Makanan.(red)

Terkait


Berita Terbaru