Home / SUMUT / Pemenuhan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi

Pemenuhan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi


Salah satu prioritas pemerintah melalui badan kependudukan dan keluarga berencana nasional (BKKBN) adalah meningkatkan kesertaan pemakaian medote kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Program ini menjadi target pemerintah sebab kontrasepsi jangka panjang memungkinkan kontinuitas penggunaan layanan KB oleh pasangan usia subur (PUS). Metode kontrasepsi jangka panjang juga dapat meminimalisasi terjadinya drop out pemakaian kontrasepsi yang umum di jumpai pada PUS yang memakai kontrasepsi, seperti pil dan suntik.

Dalam konteks yang lebih luas, peningkatan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang dapat membantu perencanaan pemerintah terkait penyediaan kebutuhan kontrasepsi setiap tahunnya. Tentu saja perencanaan yang tepat terkait penyediaan metode kontrasepsi ini sangat diperlukan agar kebutuhan masyarakat akan kontrasepsi dapat terpenuhi sehingga tidak terjadi stock out (kekurangan) alat dan obat kontrasepsi pada setiap fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan KB.

Apakah itu pelayanan kontrasepsi ?
Pelayanan kontrasepsi adalah serangkaian kegiatan terkait dengan pemberian obat, pemasangan atau pencabutan alat kontrasepsi dan tindakan-tindakan lain dalam upaya mencegah terjadinya kehamilan. Kontrasepsi adalah bagian dari pelayanan KB dan pelayanan kesehatan berupa usaha dan alat untuk mengatur , menunda atau mencegah terjadinya kehamilan yang bersifat sementara atau permanen dengan cara menghindari terjadinya pembuahan sel telur oleh sel sperma (konsepsi) atau pencegahan menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim. Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra, yang artinya mencegah atau melawan dan konsepsi yang artinya pertemuan antara sperma dan sel telur yang matang dan sel spema yang menyebabkan terjadinya kehamilan. Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan untuk pengaturan kehamilan dan merupakan hak setiap individu sebagai mahluk seksual, serta upaya untuk mencegah kehamilan yang bersifat sementara dan dapat pula bersifat menetap (Subroto – 2011).

Efektivitas kontrasepsi
Wiknjosastro (2002), efektivitas kontrasepsi atau daya guna kontrasepsi di nilai dengan dua cara, yaitu, Daya guna teoritis (theoretical effectiveness), yaitu kemampuan suatu cara kontrasepsi mengurangi terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, apabila kontrasepsi tersebut digunakan dengan mengikuti aturan yang benar.

Daya guna pemakaian (use effectiveness), yaitu kemampuan kontrasepsi dalam keadaan sehari-hari dimana pemakaiannya dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pemakaian yang tidak hati-hati, kurang disiplin dengan aturan pemakaian dan sebagainya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pasangan usia subur memilih kontrasepsi.Menurut Pinem (2009), terdapat tiga faktor yang peril diperhatikan dalam memilih metode kontrasepsi, yaitu sebagai berikut, Faktor pasangan. Yaitu: usia, gaya hidup, frekuensi senggama, jumlah keluarga yang diinginkan, pengalaman dengan kontrasepsi yang lalu, sikap kewanitaan dan sikap kepriaan.
Faktor kesehatan. Yaitu: kontra indikasi absolut atau relatif, status kesehatan, riwayat haid, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan panggul.

Faktor metode kontrasepsi. Yaitu penerimaan dan pemakaian berkesinanbungan dipandang dari pihak calon akseptor dan pihak medis (petugas KB), efektivitas, efek samping minor, kerugian, biaya dan komplikasi potensial.

Jeis-jenis kontrasepsi
Menurut Saifuddin dkk (2003), terdapat beberapa jenis atau metode kontrasepsi, yaitu sebagai berikut:
a. Kontrasepsi Sederhana
Amenorea Laktasi (MAL). Metode MAL adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI). MAL sebagai kontrasepsi bila menyusui secara penuh (full breast feeding), belum haid dan bayi kurang dari 6 bulan. Metode MAL efektif sampai 6 bulan dan harus dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya.
Keluarga Berencana Alamiah (KBA). Metode KBA dilakukan dengan wanita mendeteksi kapan masa suburnya berlangsung, yang biasanya dekat dengan pertengahan siklus menstruasi (biasanya hari ke 10-15), atau terdapat tanda-tanda kesuburan dan kemungkinan besar terjadi konsepsi. Senggama dihindari pada masa subur yaitu pada fase siklus menstruasi dimana kemungkinan terjadinya konsepsi.
Senggama Terputus. Senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi. Metode ini efektif bila digunakan dengan benar dan dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya.

Baca Juga:  Pemkab Labusel Belum Publikasikan Nama Perkebunan Melebihi HGU

b. Kontrasepsi Barier
Metode barier menghentikan proses reproduksi manusia dengan menghambat perjalanan sperma dari pasangan pria ke wanita sehingga pembuahan dapat dicegah.
Kondom. Kondom merupakan selubung/sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai bahan di antaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual.
Diafragma. Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet) yang diinersikan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual atau menurut serviks.

c. Kontrasepsi Hormonal
Pil Kombinasi. Kontrasepsi pil merupakan jenis kontrasepsi oral yang harus diminum setiap hari yang memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektivitas tubektomi) bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun pertama penggunaan). Pil bekerja dengan cara mengentalkan lendir serviks sehingga sulit dilalui oleh sperma. Efektifitas pil sangat tinggi, angka kegagalannya berkisar 1-8% untuk pil kombinasi. Bagi ibu yang sedang menyusui bayi dapat menggunakan pil only progestin (POP) yang tidak mengganggu ASI nya.

Suntikan Kombinasi. Suntikan kombinasi adalah 25 mg Depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg Estradiol sipionat yang diberikan injeksi I.M. sebulan sekali (Cyclofem), dan 50 mg noretindron enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan injeksi I.M. sebulan sekali. Cara kerjanya sama dengan pil KB. Efek sampingnya dapat terjadi gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat, perubahan berat badan, pemakaian jangka panjang bisa terjadi penurunan libido, dan densitas tulang.

Implan. Kontrasepsi implan adalah alat kontrasepsi silastik berisi hormon jenis Progesteron levebogestrol yang ditanamkan dibawah kulit yang bekerja mengurangi transportasi sperma dan menganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi. Keuntungan dari metode implant ini antara lain tahan sampai 5 tahun, kesuburan akan kembali segera setelah pengangkatan. Efektifitasnya sangat tinggi, angka kegagalannya 1-3%.

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau IUD adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang bentuknya bermacam-macam, terdiri dari plastik (polyethyline), ada yang dililit tembaga (Cu), dililit tembaga bercampur perak (Ag) dan ada pula yang batangnya hanya berisi hormon progesteron. Cara kerjanya, meninggikan getaran saluran telur sehingga pada waktu blastokista sampai ke rahim endometrium belum siap menerima nidasi, menimbulkan reaksi mikro infeksi sehingga terjadi penumpukan sel darah putih yang melarutkan blastokista, dan lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas. Efektifitasnya tinggi, angka kegagalannya 1%.

d. Kontrasepsi Mantap
Tubektomi atau medis operasi wanita (MOW), MOW adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas (kesuburan) seseorang wanita secara permanen dengan cara mengoklusi tuba falopii (mengikat dan memotong/memasang cincin) sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum. Tubektomi merupakan suatu kontrasepsi permanen untuk mencegah keluarnya ovum dengan cara mengikat atau memotong pada kedua saluran tuba fallopi (pembawa sel telur ke rahim), efektivitasnya mencapai 99 %.
Vasektomi atau medis operasi pria (MOP), MOP adalah prosedur klinis untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa diferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan ovum) tidak terjadi. Vasektomi merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk menghalangi keluarnya sperma dengan cara mengikat dan memotong saluran mani (vas defferent) sehingga sel sperma tidak keluar pada saat senggama, efektifitasnya 99%.

Baca Juga:  KPK RI Lakukan Monitoring di Labuhanbatu

Fasilitas pelayanan kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai kewajiban untuk menyediakan pelayanan promosi, KIE dan KIP/konseling KB yang diarahkan pada terciptanya peningkatan peserta KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), penanganan efek samping dan komplikasi serta kegagalan KB. Selain itu, pada fasilitas pelayanan kesehatan rujukan diharapkan mampu melakukan penanganan rujukan KB yang meliputi pelimpahan kasus, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, penelitian dan pengembangan KB serta pembinaan medis pelayanan KB untuk fasilitas pelayanan dasar. Tanggung jawab dan kewajiban dalam melaksanakan pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana telah diatur pada Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Pelayanan praktek medis yang dilaksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan diatur oleh Undang Undang Praktik Kedokteran. Khususnya untuk rumah sakit, pengaturan penyelenggaraan rumah sakit diatur oleh UU no 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dan mengacu pula pada standar akreditasi rumah sakit. Sejak implementasi program Jamkesmas, terjadi beberapa perubahan pola pengembangan rumah sakit di Indonesia.

Implementasi Jamkesmas, pematangan SJSN, dan Kepmenkes telah menggeser paradigma pengelolaan rumah sakit dari sektor privat ke publik. Sistem remunerasi sesuai standar INA-CBGs yang lebih efektif dan efisien dalam pembiayaan kesehatan Jamkesmas juga diduga berperan dalam pergeseran pola ini. Pengelolaan rumah sakit baik sektor swasta maupun publik perlu melaksanakan kebijakan program KB di rumah sakit tersebut.

KB di fasilitas pelayanan kesehatan yaitu melalui penyusunan suatu pedoman yang dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan pelayanan KB. Pada tahun 2009, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan BKKBN telah menerbitkan buku Pedoman Pelayanan Keluarga Berencana di Rumah Sakit, namun seiring dengan kebutuhan dilapangan dan dalam rangka penguatan pelayanan KB di fasilitas pelayanan kesehatan baik di tingkat dasar maupun rujukan, maka Pedoman Pelayanan KB di Rumah Sakit tersebut direvisi menjadi Pedoman Pelayanan KB di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Buku Pedoman Pelayanan KB di Fasilitas Pelayanan Kesehatan ini merupakan panduan untuk menjabarkan kebijakan pelayanan KB di fasilitas pelayanan kesehatan bagi Pemerintah Daerah, Rumah Sakit/Rumah Bersalin, Puskesmas/Klinik KB, Bidan Praktik Mandiri, Dokter Praktik Swasta, Perwakilan BKKBN Provinsi, SKPD-KB Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota, PLKB/PKB di Desa/Kelurahan, Tenaga Kesehatan, Lintas Program/ Sektor, Organsisasi Profesi dan Lembaga Swadaya Organisasi Masyarakat (LSOM) sehingga peran dan tanggung jawab Pemerintah Pusat, dan Daerah dalam pelayanan KB dapat dilaksanakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
Tantangan peningkatan kesehatan ibu dan anak, KB dan KR.

Salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu adalah kehamilan 4T yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak dan terlalu dekat melahirkan. Oleh karena itu, sangat penting terus dilakukan promosi dan KIE hindari 4T (empat terlalu) kepada masyarakat, sehingga pemahaman dan pengetahuan masyarakat akan program KB semakin baik. Promosi program Genre (generasi berencana) adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh BKKBN dalam meningkatkan pengetahuan anak remaja dalam mempersiapkan kehidupan berkeluarga bagi remaja (PKBR). Usia ideal menikah bagi remaja putrid adalah usia 21 tahun dan usia ideal remaja putra adalah 25 tahun. Adapun usia ideal bagi seorang wanita melahirkan pada masa usia suburnya adalah usia 20 sampai dengan 35 tahun. Untuk itu, penting dihindari terjadinya kelahiran pada usia dibawah 20 tahun, dimana pada beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara masih ada terjadinya pernikahan dibawah usia 20 tahun pada remaja putri. Begitu pula dengan beberapa permasalahan kelahiran bayi dari ibu yang sudah berusia diatas 35 tahun, tentunya hal ini merupakan resiko terjadinya kematian ibu dan bayi. Ada 2 hal pokok yang perlu menjadi perhatian dalam peleksanaan program bangga kencana (pembangunan keluarga, kependudukan dan KB) di Sumatera Utara yaitu, harus mengawal dan memberi perhatian penuh untuk menghindari kelahiran dari ibu yang berusia 35 tahun keatas dan ibu yang terlalu banyak anak yang dilahirkannya. Kehamilan yang tidak diinginkan akan berdampak negatif pada bayi yang dikandung. Berdasarkan survey RPJMN dan survey kinerja dan akuntabilitas pemerintah (SKAP), persentase kehamilan yang tidak diingkan (KTD) mengalami sedikit penurunan pada tahun 2019.

Baca Juga:  HUT RI ke 69, 6 Napi Lapas Rantauprapat Bebas

Penurunan penggunaan kontrasepsi modern (mCPR). Pemakaian kontrasepsi modern secara nasional tahun 2020 mencapai angka 57,9%, sementara target yang ditetapkan pemerintah adalah sebesar 61,78%. Pemakaian kontrasepsi modern di provinsi masih menunjukkan disparitas yang cukup lebar. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi modern pada wanita muda kawin perlu dijadikan pertimbangan dalam menentukan strategi kebijakan dan intervensi yang akan dilaksanakan selanjutnya.

Wanita muda kawin dan menggunakan kontrasepsi modern. Petugas kesehatan yang kompeten dan terlatih dapat meningkatkan penerimaan PUS terhadap program keluarga berencana. Promosi dan KIE KB melalui televisi dan petugas kesehatan memiliki pengaruh positif dengan pemakaian kontrasepsi modern. Pada masa pandemi covid19, menyebabkan penurunan persentase pemakaian medote kontrasepsi jangka panjang (MKJP), seperti IUD dan Implant. Salah satu permasalahan yang dihadapi pelayanan KB selama masa pandemi covid19 adalah PUS akan menahan diri untuk tidak mengunjungi tempat fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan KB karena kekhawatiran terpapar virus covid19.

Pendekatan pelayanan KB melalui telehealth, suatu pendekatan yang dapat diakses kapan dan dimana saja untuk kebutuhan konseling, membuat keputusan tentang metode kontrasepsi dan penanganan efek samping. Aspek aksessibilitas logistic alat dan obat kontrasepsi juga menjadi perhatian.

Kebutuhan ber KB pasangan usia subur (PUS) yang belum terlayani dikategorikan masih cukup tinggi. Unmet need KB didefinisikan sebagai persentase perempuan usia subur yang tidak menggunakan kontrasepsi, tetapi tidak menginginkan anak lagi atau ingin menjarangkan kehamilan. Disparitas unmet need masih terjadi diperkirakan adanya pengaruh sosial dan budaya yang mempengaruhi keputusan dalam KB.

Penulis
Yusrizal Batubara
Mahasiswa Magister Manajemen
Universitas Pembangunan Panca Budi – Medan

Daftar pustaka
Subroto, I. K. 2011. Perbedaan Gangguan Menstruasi pada Pemakaian Kontrasepsi Suntik Satu Bulanan dan Tiga Bulanan.
Winkjosastro, Hanifa. 2002. Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Pinem, S. 2009. Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi. Jakarta: Trans Info Media.
Saifuddin, A.B. , dkk. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepasi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Pedoman Pelayanan Keluarga Berencana di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (BKKBN)

 

Terkait


Berita Terbaru