Home / KESEHATAN / Inovasi Telemedicine BPJS Kesehatan Bawa Solusi Baru untuk Peserta JKN

Inovasi Telemedicine BPJS Kesehatan Bawa Solusi Baru untuk Peserta JKN


EDISIMEDAN.com,  MEDAN-Beragam inovasi dikembangkan BPJS Kesehatan untuk memberikan kemudahan bagi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sehingga akses layanan terbuka lebar dengan mudah, cepat dan setara.

Salah satunya melalui layanan telemedicine. Telemedicine merupakan pemberian pelayanan kesehatan jarak jauh oleh profesional kesehatan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Di dalamnya meliputi pertukaran informasi diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit dan cedera, penelitian dan evaluasi, serta pendidikan berkelanjutan penyedia layanan kesehatan untuk kepentingan peningkatan kesehatan.

“Selaras dengan fokus dalam peningkatan kualitas dan mutu layanan, baik secara administrasi maupun layanan kesehatan. Telemedicine ini kami yakini mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan karena dapat memangkas waktu tunggu serta meningkatkan aksesibilitas peserta JKN terhadap layanan kesehatan. Sebagai contoh, untuk pasien diabetes melitus yang setiap tiga bulan sekali harus mengambil rujukan ke klinik/Puskesmas lalu kemudian ke rumah sakit untuk diperiksa ulang, sekarang cukup datang ke klinik/Puskesmas untuk diperiksa dan tinggal menunggu hasilnya. Jadi yang bersangkutan tidak perlu lagi ke rumah sakit,” ujar Kepala BPJS Kesehatan Cabang Medan, Yasmine Ramadhana Harahappada saat memantau dan mengevaluasi uji coba telemedicine, Kamis (14/09).

Baca Juga:  MHKI dan PDUI Sumut Akan Lakukan Pembelaan Terhadap Kasus Dugaan Vaksin Kosong

Layanan telemedicine merupakan kolaborasi antara BPJS Kesehatan dengan Kementerian Kesehatan. Layanan ini diharapkan mampu membuka akses bagi masyarakat ataupun peserta JKN yang ingin mendapatkan layanan di fasilitas kesehatan. Layanan ini nantinya dapat diakses melalui Aplikasi Komen dari Kementerian Kesehatan yang terintegrasi ke layanan Primary Care (P-Care) BPJS Kesehatan.

“Layanan telemedicine tersebut sedang diujicobakan kepada klinik dan rumah sakit yang tersebar di seluruh Indonesia, beberapa di antaranya ada di Medan yaitu klinik MMC Medan, klinik Siti Kholijah, RSUP Haji Adam Malik dan RSU Haji Medan. Sejumlah fasilitas kesehatan tersebut terpilih karena dianggap sudah cukup baik sarana prasarananya untuk pilot project telemedicine ini,” kata Yasmine.

Baca Juga:  Pererat Silaturahmi Antar Pengurus, Perdoski Medan-Sumut Halal Bihalal

Yasmine menambahkan, kesinambungan Program JKN juga bergantung pada kolaborasi antarpemangku kepentingan yang ada dalam ekosistem JKN, sehingga BPJS Kesehatan perlu senantiasa berkolaborasi dengan seluruh pihak untuk menciptakan layanan yang lebih mudah, lebih cepat dan setara. Tentunya didukung dengan transformasi dan digitalisasi layanan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Klinik MMC Medan, dr. Sofian Wijaya mengatakan bahwa pihaknya akan terus bersiap dan berusaha semaksimal mungkin berkolaborasi menyukseskan pelaksanaan uji coba pelayanan berbasis telemedicine ini. Ia juga menambahkan, bahwa inovasi ini tidak hanya bisa digunakan oleh peserta rujuk balik tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh ibu hamil yang perlu menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG) di klinik.

“Selama project berjalan kami sudah menangani kasus pasien rujuk balik diabetes melitus dan hipertensi, tetapi sebenarnya tidak hanya terbatas di situ saja. Untuk ibu hamil bisa melakukan USG di klinik untuk kemudian hasilnya dikirimkan ke rumah sakit. Nantinya hasil USG akan ditinjau oleh dokter spesialis. Hasilnya nanti akan diberikan ke pasien tersebut, sehingga tidak perlu lagi bolak-balik pergi ke rumah sakit. Saya rasa ini akan sangat memudakan peserta, terutama bagi ibu-ibu pekerja yang bermobilitas tinggi dan terbatas waktunya,” kata Arief.

Baca Juga:  Cegah Stunting, BKKBN Tingkatkan Kapasitas PRO PN 1000 HPK dan Mitra Kerja

Ka pun menuturkan bahwa perlu diperhatikan sejumlah faktor pendukung keberhasilan dalam pilot project telemedicine ini, seperti komitmen dan keterlibatan aktif para pemangku kepentingan terkait pengembangan sistem pelayanan kesehatan dan sistem pembayaran telemedicine.
“Jadi bagaimana dampaknya nanti dapat terlihat, kemudahan memantau layanan kesehatan untuk masyarakat Indonesia dan riwayat kesehatannya, ketersediaan, dan logistik obat bahkan mempermudah proses rujukan antarfasilitas pelayanan kesehatan,” ujarnya.(red)

Terkait


Berita Terbaru