16 Rumah Tangga di Kelurahan Sitirejo Tidak Punya Septic Tank Berstandar

21

EDISIMEDAN.com,MEDAN: USAID Indonesia Urban Sanitation and Hygiene ‘Penyehatan Lingkungan untuk Semua (IUWASH PLUS) intens bergerak untuk mengubah perilaku masyarakat, dan menyadari akan pentingnya sanitasi yang baik.

Sejak Kamis (20/9/2018) hingga Jumat (21/9/2018), sosialisasi dilakukan di Jalan Selamat Gang P3N Kelurahan Sitirejo III Medan Amplas. Dalam kegiatan ini, ditemukan ada 16 rumah tangga yang masih buang air besar sembarangan, yakni menggunakan pipa paralon saling – silang yang dibuang ke parit.

Tim Komunikasi IUWASH PLUS, Melani mengungkapkan kegiatan bertajuk Assesment dilakukan USAID IUWASH PLUS dalam mendukung peningkatan akses air, sanitasi dan perilaku higiene yang adil dan setara.

“IUWASH PLUS bergerak dibidang air minum, sanitasi dan perubahan perilaku. Saat Dinas Kesehatan Medan menyatakan ada perubahan perilaku dalam suatu kawasan, IUWASH siap memberikan dukungan. Saat ini, ada 69 lokasi yang ditentukan Dinkes,” tuturnya di sela kegiatan.

Menurut Melani, kegiatan sosialisasi ini juga dilakukan untuk mensinergikan program program yang telah ada, seperti hibah sanitasi, hibah air minum maupun perubahan perilaku dari masyarakat itu sendiri.

“Hari pertama dilakukan pemicuan, kita dapat 16 rumah yang mau melakukan perubahan pada tangki septic mereka. Yang selama ini, mereka menggunakan pipa paralon yang sulang saling. Masyarakat pun terpicu melakukan perubahan tangki septic mereka menjadi kedap,” ungkapnya.

Dan di hari kedua, jelas Melani, disusun jadwal untuk menuju tangki septic yang kedap. Agar warga lebih paham penggunaan dan perawatannya, akan ada lagi diskusi – diskusi kecil yang seperti ini. “Sebelum di sini ada dua kelurahan yang dipicu untuk mengubah perilaku, yakni di kawasan Titi Kuning dan kawasan Pangkalan Mansyur,” ucap dia.

Kepling Lk II Sitirejo III Medan Amplas, Zahari Hidayat menuturkan jika bisa masyarakat berharap dibuat septic tank bersama. “Kita sangat mendukung penuh program ini. Tinggal masalahnya warga adalah biaya dan tempat. Dan hari inilah dibicarakan solusinya,” ungkap dia.

Sementara Pengelola Program Penyehatan Lingkungan, Program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) Dinkes Medan, Nelly T Simamora menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). “Tugas kita melakukan pendekatan kepada masyarakat agar tergugah dan mengubah perilaku. Selain itu, memberikan pengetahuan untuk perubahan perilaku dan tidak membuang limbahnya sembarangan,” katanya mewakili Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Medan Mardohar Tambunan.

Perubahan perilaku dalam pengelolaan sanitasi limbah domestik ini, kata Nelly, merupakan yang utama dalam lima pilar STBM, yaitu stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan makanan dan minuman rumah tangga, pengelolaan sampah dan yang kelima pengelolaan air limbah.

“Karenanya, kita jalankan terlebih dahulu dijalankan program pertama, stop buang air besar sembarangan. Harapannya nanti semua masyarakat Medan miliki septic tank berstandar, kedap. Dalam artian setelah tiga tahun akan disedot,” sebutnya.

Apalagi, lanjut Nelly, jamban ini sudah merupakan kebutuhan. Dengan perubahan perilaku yang dilakukan sekarang, akan menjadi investasi yang akan datang bagi anak cucu kita. Sehingga dapat menurunkan angka penularan penyakit diare, gatal- gatal serta penyakit berbasis lingkungan lainnya.

Salah seorang warga, Ngatemi (67) mengaku sangat senang dengan adanya program dari Dinkes Medan dan Iuwash Plus. Karena kebiasaan buang air melalui pipa paralon yang dialirkan ke parit tidak lagi dilakukan. Diakui Ngatemi, ia dan warga sudah melakoni membuang air besar ke parit sudah sejak lama, selain keterbatasan lahan, warga juga kesulitan untuk membangun Septic tank karena keterbatasan dana.

” Saya sangat senang dan mendukung penuh program ini, sebenarnya kami malu membuang air besar disembarang tempat tapi selama ini kami memang tidak ada lahan dan tidak ada solusi, saya berharap agar pembangunan septic tank layak buat warga segera diujikan,” kata Ngatemi.

Sama halnya yang dikatakan Supitri (39) sangat semangat dengan program ini, diharapkannya pembangunan Septy tank agar cepat terealisasi.

“Maunya cepat ya dibangun, agar anak- anak dan warga disini tidak terjangkit penyakit yang disebabkan buang air besar sembarangan,” kata Supitri yang juga mengaku sudah sangat resah dengan kondisi ini.

Parit tempat pembuangan akhir tinja warga yang dialirkan melalui pipa paralon.

Sementara itu, Iuwash Plus, Dinkes Medan dan warga sempat melakukan tinjauan ke titik akhir pembuangan tinja warga. Pipa paralon tampak langsung mengalirkan kotoran warga ke parit sulang saling, jelas kondisinya sangat memprihatinkan. Selain menimbulkan bau tidak sedap, kotoran warga juga membuat pencemaran lingkungan. (Mahbubah Lubis)

 

Apa Tanggapan Anda?