Adisty Widyasari: Sumut miliki 48.487 investor, Tempati Urutan Ke-6 Dari 34 Provinsi

    16

    EDISIMEDAN.COM, MEDAN- Kepala Unit Pemasaran dan Komunikasi KSEI Adisty Widyasari dalam kegiatan sosialisasi Fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas), yang digelar PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bekerjasama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek lndonesia (KPEI) di Medan, Rabu (20/11/2019) menegaskan bahwa Provinsi Sumatera Utara menempati urutan ke-6 untuk jumlah investor terbanyak dari 34 provinsi di Indonesia yaitu 48.487 investor.

    “Provinsi Sumatera Utara menempati urutan ke-6 untuk jumlah investor terbanyak dari 34 provinsi di Indonesia yaitu 48.487 investor.  Dari jumlah tersebut tercatat sebanyak 29.876 (61%) investor tercatat berdomisili di Kota Medan,” ungkapnya.

    Dia menyebutkan, jumlah investor di Pasar Modal lndonesia per akhir Oktober 2019, telah mencapai sekitar 2.300.000 investor, yang mencakup investor pemilik Saham, Surat Utang, Reksa Dana, Surat Berharga yang diterbitkan Bank Indonesia.

    “Saat ini investor di Medan didominasi oleh golongan milenial dengan persentase sebesar 40,16% untuk usia di bawah 30 tahun. Jumlah ini sejalan dengan dominasi milenial pada jumlah investor secara keseluruhan yang mencapai 43,43%. Data tersebut menunjukan bahwa anak muda zaman sekarang sudah sadar akan pentingnya investasi, dan pasar modal menjadi salah satu alternatif yang dipilih untuk berinvestasi,” kata Adisty. 

    Lebih lanjut Adisty menjelaskan, kenyamanan dalam berinvestasi di pasar modal merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh KSEI melalui berbagai pengembangan infrastruktur pasar modal.

    “Beberapa pengembangan yang direalisasikan oleh KSEI diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi Pasar Modal Indonesia serta menarik minat investor baru untuk berinvestasi,” ujarnya.

    Dalam sosialisasi ini, KSEI juga menyampaikan beberapa pencapaian yang telah terlaksana di tahun 2019, antara lain Simplifikasi Pembukaan Rekening, pengembangan Fasilitas AKSes terbaru hingga penerapan Full Central Bank Money (Full CeBM) untuk penyelesaian transaksi terkait dengan dana di Pasar Modal lndonesia.

    Menurutnya, simplifikasi Pembukaan Rekening merupakan program kerja yang bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat pembukaan Rekening Efek dan Rekening Dana Nasabah (RDN). Kemudahan dan proses pembukaan rekening yang lebih cepat tersebut bertujuan untuk membuka akses ke pasar modal yang lebih luas, sehingga investor di daerah pun dapat membuka rekening secara online dan segera melakukan transaksi di pasar modal.

    “Inisiasi simplifikasi pembukaan Rekening Efek dan RDN sesuai dengan arah pengembangan sektor jasa keuangan Indonesia yang tercantum dalam master plan sektor jasa keuangan Indonesia tahun 2015 2019,” jelasnya.

    Lebih lanjut, dikatakanya, saat ini KSEI juga sedang mengkaji kemungkinan diterapkannya layanan KYC Administrator Agent, KSEI telah memulai kajian pembuatan platform penyimpanan data KYC yang tersentralisasi dan dapat digunakan oleh pelaku jasa keuangan (PJK) untuk sharing informasi sehingga kualitas data nasabah menjadi lebih baik. Saat ini masih terdapat pula pengulangan proses KYC untuk investor yang sama pada PJK yang berbeda.

    Dikesempatan yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Medan, M Pintor Nasution mengatakan, dari 48.487 investor ada penambahan investor baru sebanyak 10.655 orang di Medan. Daerah lain kontribusinya masih kecil seperti Deliserdang.

    “Saat ini, di Sumut ada 9 emiten di mana 7 emiten saham dan 2 emiten obligasi. Keberadaan 9 emiten ini diharapkan bisa menjadi salah satu pendorong dalam menjaring investor baru khususnya kalangan milenial,” katanya seraya mengatakan, keberadaan 12 Galeri Investasi di sejumlah kampus di Sumut terus dimaksimalkan. (Mahbubah Lubis)

    Apa Tanggapan Anda?