Akademisi : Pasangan Djoss Lebih Paham Persoalan Sumut dan Punya Konsep

34
Pasangan Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus atau DJOSS menyiapkan program pemerataan pendidikan tingkat SMA/SMK se-derajat dengan penambahan gedung SMA/SMK per kecamatan, untuk meningkatkan Angka Partisipasi Murni (APM) sekolah menengah.

EDISIMEDAN.com, MEDAN – Pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus diyakini lebih mengetahui pokok persoalan yang dihadapi provinsi ini.

Hal ini dikatakan Dosen Sosiologi Universitas Negeri Medan (Unimed), Muhammad Iqbal yang menyikapi hasil debat publik kedua Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut dengan tema ‘Pembangunan yang Berkeadilan dan Kesetaraan’, yang digelar di Ballroom Hotel Adi Mulia, Medan, Sabtu (12/5/2018) lalu.

“Paparan awal yang diberikan pasangan Eramas terlihat tidak konkret. Paparan lebih menekankan pembangunan ekonomi yang dibagi menjadi ekonomi dan non-ekonomi dan menyajikan data jumlah kemiskinan. Paparan awal pasangan Djoss langsung menggunakan media bantu visual. Terasa pasangan ini ingin menunjukan kepada publik, bahwa mereka sudah memiliki ide dan konsep yang dapat dilakukan jika terpilih nanti,” ungkap Iqbal, Senin (14/5/2018) di Medan.

Iqbal menjelaskan, bagi pasangan Djoss, Pembangunan yang Berkeadilan dan Kesetaraan itu berkaitan dengan adil secara struktur pendapatan dan wilayah. Sementara itu kesetaraan berkaitan dengan membangun tanpa membedakan serta memiliki prioritas terhadap perempuan. “Oleh karena itu, untuk mewujudkannya, pembangunan Sumut perlu percepatan keadilan dan pemerataan,” tuturnya.

Bahkan, Iqbal menilai, kejutan terjadi saat Djarot melontarkan pertanyaan kepada Edy soal stunting, yang menjadi isu nasional mengenai tumbuh kembang anak yang lambat. “Edy terlihat benar-benar tidak menguasai persoalan yang sensitif yang sebenarnya persoalan stunting sudah menjadi persoalan secara nasional,” ungkap Iqbal.

Secara keseluruhan debat kedua ini, dirinya menilai, bahwa Paslon Eramas terlihat kaku dan tidak menyentuh pokok visi misi dan persoalan yang dihadapi Sumut. Di mana, argumentasi atau tanggapan kurang menyentuh persoalan, sangat normatif, tidak menguasai masalah, terlalu konseptual dan teoritis serta kurang konkret.

“Sedangkan Djoss, tidak normatif melainkan pemberian solusi. Djoss pasangan dinamis, terlihat pembagian antara Djarot dan Sihar. Tanggapan atau jawaban lebih menyentuh persoalan dan konkret, memiliki konsep yang dapat diimplementasikan,” pungkas Iqbal.

Debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumut itu guna mengetahui pemaparan visi misi dan program masing-masing Paslon, agar menjadi penilaian dan penguatan masyarakat untuk menentukan pilihannya di Pilkada Serentak 2018 Sumatera Utara 27 Juni 2018 mendatang. [rel]

Apa Tanggapan Anda?