Alamak, Dua Tahun Belasan Anak Desa Balakka Jadi Korban Pencabulan, Pelakunya Melarikan Diri

1754
Kepala Puskesmas Batugana Melva Arwita saat memberi trauma healing kepada para korban pencabulan di Desa Balakka, Kecamatan Padang Bolak Julu, Rabu (14/3).

EDISIMEDAN.com, PALUTA : Sedikitnya 11 orang anak di Desa Balakka, Kecamatan Padang Bolak Julu, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) menjadi korban pencabulan seorang pria yang diketahui telah mempunyai tiga orang anak. Parahnya aksi cabul pria yang diketahui berinisial S ini sudah dua tahun berlangsung.

Yang cukup mengesalkan, pelaku diketahui sudah melarikan diri bersama anak dan istrinya pasca terbongkarnya aksi cabul ini.

Kasus itu terungkap saat salah satu korban mengaku disodomi oleh S kepada kepala sekolah. Kepala sekolah dan orang tua mereka lalu melaporkan kasus itu ke Puskesmas pada Senin (6/3/2018).

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan para anak mengalami trauma dan depresi mendalam.

Para korban yakni, H, 12; MA, 9; UH, 12;. Selanjutnya, SB, 6; KAP, 10; KS, 12; AP, 11; MRR, 10; MA, 13; ATB, 11 dan LA, 11. Bahkan korban MA merasa ketagihan dan mencari-cari pelaku.

“Dari pengakuan korban, pelaku melakukan sodomi selama dua tahun terakhir. Modus oelaku mengajak korban ke hutan dan ke sungai untuk mencari ikan,” kata Kepala Puskesmas Desa Batugana Melva Arwita Lubis, Rabu (14/3/2018).

Para korban juga sempat mendapat anacaman dari pelaku jika membocorkan perbuatan tidak senonoh itu. Untuk membujuk para korbannya, pelaku memberikan uang jajan.

Memang anak-anak korban pencabulan ini sudah mendapat trauma healing bersama dokter Puskesmas. Namun tampak raut wajah mereka masih trauma.

Sementara itu Camat Padang Bolak Julu Ali Wardana Harahap mengaku kaget ketika mengetahui pelakunya adalah warganya. Informasi yang didapatnya keseharian pelaku tampak biasa. Sama sekali tidak menunjukkan ada kelainan pada pelaku.

“Dia sudah pergi dari desa. Bersama sama istri dan anaknya juga,” kata Ali

Kasus itu kini sudah didampingi Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). Ketua LPAI Paluta Dewi Sartika Siregar mengatakan, pihaknya mendorong aparat kepolisian untuk menuntaskan kasus itu. Karena kerap kali, kasus pencabulan tidak sampai ke meja pengadilan.

“Angka kasus pencabulan di Paluta ini cukup tinggi. Penyebabnya karena, faktor dari kurangnya sosialisasi pendidikan moral dan kecanggihan teknologi,” pungkasnya.

Informasi yang dihimpun, beberapa korban sudah membuat laporan ke polisi. Bahkan sudah 9 korban yang divisum di RSUD Aek Haruaya Paluta. [ska]

Apa Tanggapan Anda?