Home / NEWS / Anchiong dan Abeng, Order 800 Kg Sabu dari Lapas Tanjunggusta

Anchiong dan Abeng, Order 800 Kg Sabu dari Lapas Tanjunggusta


Tersangka pelaku bisnis narkoba jaringan internasional dari balik lapas Tanjunggusta. [Foto: Internet]

EDISIMEDAN, MEDAN| Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkap sindikat narkoba internasional yang dikendalikan oleh napi Lapas Tanjung Gusta, Medan Sumatera Utara dan Lapas Cipinang, Jakarta Timur.

Hebatnya, mereka ternyata pemain besar. Sudah memasok narkoba sejak 2012. Bahkan, sindikat ini telah menyelundupkan sabu-sabu seberat 800 kilogram senilai lebih dari Rp 178 miliar. Selain sabu, sindikat ini memasok ekstasi. Gak tanggung-tanggung. Narkoba ini dikirim dengan menggunakan kapal kargo.

Mabes Polri mengungkapkan, dari sindikat ini yang ditangkap berjumlah 10 orang, diketahui dua diantaranya masih berstatus narapidana.

“Ricky Gunawan alias Ricky Bom-bom yang merupakan napi Lapas Cipinang sebagai pengendali pengiriman narkoba ke pelanggan. Kalau Anchiong alias Karun adalah napi Lapas Tanjung Gusta yang perannya sebagai pemesan barang ke Malaysia dan pengendali transportasi,” kata Kepala Tim Narcotics Investigation Center (NIC) Direktorat Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri, AKBP Dony Setiawan, saat pemusnahan ratusan kilogram sabu dan 579 Ton Ganja di Cirebon¬† di Cirebon, Rabu (6/04/2015).

Dony menjelaskan, pada kurun waktu 2012-2016 itu, sindikat ini mengangkut narkoba antara satu hingga dua kali per bulannya. Mereka melakukan pengangkutan narkoba jenis sabu dan ekstasi dalam jumlah besar dengan menggunakan kapal secara estafet dari Malaysia ke Selat Panjang (Riau) lalu ke Pelabuhan Cirebon.

Baca Juga:  Hasil Tes Urine, Petugas Gabungan Jaring 45 Orang Positif Narkoba

Sindikat tersebut diketahui mendatangkan narkoba dari Belanda, Iran dan Malaysia ke Cirebon (Jawa Barat) dan Jakarta. “Yang jenis ekstasi dari Belanda, kalau sabu dari Iran. Narkoba ini diselundupkan via jalur laut dengan rute Malaysia-Selat Panjang-Cirebon. Dari Cirebon ke Jakarta via jalur darat,” ujarnya.

Polisi, kata dia, baru dua bulan terakhir menyelidik kasus ini. “Selama dua bulan itu, tidak langsung kami tangkap tersangkanya. Tapi kami biarkan barangnya turun sampai masuk gudang di Cirebon,” katanya.

Kasus ini bermula saat tertangkapnya M Rizki dan Fajar Priyo Susilo saat tengah membawa 15 kilogram sabu dan 20 ribu butir ekstasi dari Cirebon menuju Jakarta, Rabu (16/3/2016) lalu.

Kemudian tim menggeledah rumah kedua tersangka yang dijadikan gudang penampungan narkoba dengan alamat Perumahan Bumi Citra Lestari Blok A Nomor 2 Jalan Jend Sudirman, Kp Wanacala RT 03 RW 19 Kel Harjamukti, Kota Cirebon.

Baca Juga:  Gila! Pegawai BNN Justru Jadi Pengedar Sabu

“Di gudang ini ditemukan barbuk 25 kilogram sabu, 160 ribu butir ekstasi logo butterfly dan crown, tiga alat press, dua unit timbangan, dua gulung alumunium foil, 10 unit ponsel, satu dus nomor Simpati berisi 45 nomor perdana, dan seperangkat alat hisap sabu,” katanya.

Lalu, tim melakukan pengembangan dan akhirnya menangkap napi dari Lapas Cipinang yakni Ricky Gunawan alias Ricky Bom-bom. Ricky berperan sebagai pengendali pengiriman barang sindikat ini.

“Dia yang menyuruh tersangka Rizki dan Fajar untuk mengantar narkoba ke para pelanggan,” katanya.

Kemudian tim Bareskrim juga membekuk Anciong alias Karun, napi Lapas Tanjung Gusta, Medan, yang diduga sebagai pemesan narkoba ke Malaysia dan sekaligus sebagai pengendali transportasi.

Kapal Kargo Bahari I yang digunakan sebagai pengangkut Narkoba via Malaysia-Selat Panjang-Pelabuhan-Cerebon-Jakarta oleh Dirserse Narkoba Mabes Polri
Kapal Kargo Bahari I yang digunakan sebagai pengangkut Narkoba via Malaysia-Selat Panjang-Pelabuhan-Cerebon-Jakarta oleh Dirserse Narkoba Mabes Polri. [Foto: Internet]
Selanjutnya pada 17 Maret, ditangkap dua tersangka lainnya yakni Jusman dan Khoirul. Jusman diketahui merupakan adik pemilik Kapal Bahari I.  Dia China Malaysia yang berperan sebagai pengurus transportasi kapal dari Malaysia ke Cirebon.

Sementara Khoirul sebagai rekan yang menemani Jusman dalam mengantarkan narkoba dari Malaysia ke Cirebon.

Baca Juga:  Perempuan Berjilbab Jual Nasi Uduk Babi Buncit Bikin Geger Netizen

“Saat menangkap Jusman dan Khoirul, kami juga menyita Kapal Bahari I milik PT Inti Galangan Samudra, satu paket sabu dan alat hisap, dan empat unit ponsel,” kata Dony.

Sementara beberapa tersangka lainnya adalah Sugianto alias Achai di Dumai Barat berperan sebagai pengendali transportasi dari Malaysia ke Selat Panjang; Hendri Unan dan Gunawan Aminah sebagai pembayar uang operasional dan transportasi; dan Yanto alias Abeng, napi Lapas Tanjung Gusta Medan, sebagai pembantu Anciong dalam mengkomunikasikan pemesanan narkoba ke Malaysia.

“Pemodalnya adalah Anchiong alias Karun, narapidana di Lapas Tanjung Gusta,” beber Dony.

Atas perbuatannya, kesepuluh tersangka dijerat dengan Pasal 114 Ayat 2 Juncto Pasal 132 Ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana mati, pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat enam tahun, paling lama 20 tahun penjara dan pidana denda minimal Rp1 miliar dan maksimal Rp10 miliar. [fad|bbs]

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up