Chalid Mawardi Nasution: Hindari Propaganda, Foto Jurnalistik Harus Disertai Data-data

34

EDISIMEDAN.COM, MEDAN- Perkembangan dunia fotografi di tanah air saat ini mengalami perkembangan yang pesat. Perkembangan ini dikarenakan semakin canggihnya teknologi saat ini. Kendati demikian, seorang fotografer melaksanakan tugasnya sesuai tupoksinya. Fotografi jurnalistik itu harus disertai data-data yang akurat.

Hal ini dikatakan Chalid Mawardi Nasution, Freelance Fotografer saat mengisi Workshop Fotografi Jurnalistik, Sabtu (12/10 ) di XL cebter Medan jalan Diponegoro Medan .

Pada kegiatan yang hasil Kerjasama XL Axiata, Sisternet dengan pewarta foto Indonesia Medan (PFI), Forum Jurnalis Indonesia (FJPI), Chalid mengatakan pentingnya sebuah hasil foto jurnalistik itu harus disertai data agar tidak menimbulkan propaganda.

“Fotografi sebetulnya di era sekarang banyak berseliweran foto-foto yang tidak dilengkapi dengan data-data dan alhasil foto–foto yang tidak dilengkapi data itu bisa menimbulkan propaganda. Padahal kehadiran foto jurnalistik itu harusnya menyajikan fakta dan kejadian sebenarnya,” ungkapnya.

Dikatakanya foto jurnalistik itu terdiri dari 2 hal penting yaitu foto dan caption. “Dari satu kesatuan itulah menjadi sebuah foto jurnalistik yang menyajikan foto yang fakta, berimbang dan tidak menciptakan visual propaganda dimasyarakat,” tegasnya.

lanjutnya, ada beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh fotografer pemula selain harus memiliki alat yang lengkap, adalah integritas, passion, kepedulian terhadap sesuatu yang tidak sesuai pada tempatnya dan kemudian menempatkannya pada tempatnya dan fotografi jurnalistik hadir untuk merekam itu.

“Merekam secara hati nurani kita aneh itu harus kita dokumentasikan agar tidak terjadi pembiaran secara visual,” ucapnya.

Chalid yang sudah cukup lama menenteng kamera ini mengaku fotografer di Medan masih banyak ditemukan melaksanakan tugasnya mengejar profit bukan dengan hati nurani.

“Ini sangat disayangkan, saya persentasekan fivety-fivty lah, ada yang konsen dengan kebutuhan sosial ada juga yang mengejar ke profit. Kalau mengejar profit saya nilai sangat disayangkan meskipun itu sah-sah saja namun dengan kamera kita juga bisa menempatkan sesuatu yang aneh sesuai pada tempatnya harusnya,” ungkapnya.


Ditempat yang sama, Regional Corporate Communication West Region PT XL Axiata, Aldi Desmet mengatakan workshop fotografi jurnalistik ini sangat positif membina silaturahmi antara jurnalis yang ada di pewarta foto maupun di FJPI dan masyarakat umum yang ikut dalam workshop ini. XL axiata sangat mendukung kegiatan ini karena saat ini penggunaan smartphone banyak yang digunakan. Ada sesuatu yang butuh pengetahuan bagaimana menggunakan agar hasil yang dicapai itu bisa menarik dan menjadi objek perhatian orang yang melihatnya. “Kita juga punya program Sisternet, program ini mendukung pengembangan Perempuan Indonesia dalam penyediaan modul-modul yang ada di sisternet.co.id,” katanya.

Dalam workshop ini, peserta yang hadir merupakan anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan, anggota Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumut, wartawan media online, komunitas fotografi Kota Medan, mahasiswa, dan masyarakat umum. Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan, Rahmad Suryadi, mengatakan bahwa kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap bulannya, sebagai upaya menambah pengetahuan para pewarta dan sekaligus sebagai ajang silaturahmi anggota PFI Medan.

Sedangkan Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumut, Lia Anggia Nasution menyambut baik workshop ini, para jurnalis sekedar memotret tentu bisa dan biasa, namun untuk menghasilkan pesan yang tepat disampaikan melalui foto tersebut kepada masyarakat, butuh trik dan tips dari fotografer yang sudah berpengalaman. Sehingga ia mengharapakan ilmu yang diberikan Fotografer profesional ini dapat diterapkan para peserta yang notabene berprofesi sebagai jurnalis. (mahbubah Lubis)

 

Apa Tanggapan Anda?