Dapati Literasi Keuangan, Forda UKM Sumut Audiensi dengan OJK

81

EDISIMEDAN.COM, MEDAN-Forum Daerah (Forda) Usaha Kecil Menengah (UKM) Sumut beraudiensi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Wilayah 5 Sumatera Bagian Utara, di Jalan Gatot Subroto Medan, Rabu (15/5). Ini sebagai upaya untuk mendapatkan literasi keuangan dan pencerahan bagi nasabah kredit macet.

Sebab tidak sedikit pelaku usaha yang memanfaatkan bantuan kredit dari perbankan, tidak lagi mampu membayar kewajibannya. Karena omzet bisnisnya merosot dan berimbas pada pemenuhan kewajiban menjadi kredit macet. Akibatnya, aset terpaksa dijual bahkan ada yang dilelang.
Hadir dalam rombongan ini, Ketua Forda UKM Sumut, Sri Wahyuni Nukman, Presidium Forda UKM, So Tjan Peng, Ketua Forda UKM Medan, Sofia, Dewan Pakar, Harun dan Wakil Ketua Bidang Advokasi, T Bobby Lesmana. Rombongan diterima Deputi Direktur Manajemen Strategis, Edukasi dan Perlindungan Konsumen (EPK) dan Kemitraan Pemerintah Daerah (PD) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Wilayah 5 Sumatera Bagian Utara, Wahyu Mardiansyah, Serta Kepala Bagian Pengawasan, Yovvi Sukandar, staf Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Paramita Yulia Nasution serta staf Humas, Edi Gunawan.
Dalam audiensi yang berlangsung sekira dua jam tersebut, terungkap keluhan dan keresahan para pelaku usaha yang mengalami kredit macet. Mereka tidak nyaman hingga ada yang merasa diintimidasi oknum perbankan. Dengan membawa pihak ketiga kerumah kediaman nasabah.
Ada juga yang asetnya dirampas di tengah jalan.
Seperti diungkapkan Harun yang menjadi pemasok pupuk ke kawasan Berastagi. Sejak meletusnya Gunung Sinabung, kreditnya tidak lagi bisa dibayar. Bahkan sudah lama tertunggak. Dia mengaku sebagai nasabah salah satu bank syariah, banyak hal yang sebenarnya tidak dipahami ketika kreditnya macet.
Pengalaman lainnya juga diungkapkan So Tjan Peng, yang kini berperkara di Pengadilan Tinggi Medan, kasus kredit macet.

Dalam kesempatan tersebut So Tjan Peng sempat mempertanyakan adanya oknum petugas perbankan yang membawa pihak ketiga ke kediamannya. Sehingga membuatnya resah. Selain itu, pihak keluarga juga merasa terganggu dan tidak nyaman.

Menyikapi hal tersebut, Wahyu Mardiansyah mengatakan, bagi para kreditur macet ketika tidak sanggup membayar harus tetap berkomunikasi dengan lembaga keuangan atau perbankan.
“Jangan sampai putus komunikasi. Karena ketika putus komunikasi, akan menimbulkan persepsi, tidak memiliki niat yang baik, tidak pro aktif”ujarnya.
Sebab sambungnya, dengan komunikasi, akan ada solusi untuk menyelesaikan kredit macet tersebut. Semisal perjanjian bisa diperbaiki, direstrukturisasi, perpanjangan, atau persyaratannya dipermudah. Sehingga bisa mendapatkan solusi bagi kedua belah pihak.
Selain itu Wahyu juga mengingatkan bagi yang mengajukan kredit untuk memperhatikan setiap akadnya.
“Dipahami resiko. Itu biasanya diisi perjanjian tergambar resikonya, kalau memang bisa dinegosiasi resikonya sesuai dengan kemampuan kita itu bisa lebh baik. Daripada percaya saja, langsung tandatangan, lalu disuruh paraf tanpa dibaca detail. Kita harus lebih cermat,”pungkasnya.

Yovvi menambahkan, seorang petugas bahkan tidak dibenarkan mendatangi kediaman nasabah tanpa dibekali dengan surat tugas. Apalagi membawa pihak ketiga.

Sementara Ketua Forda UKM Sumut, Sri Wahyuni Nukman mengatakan audiensi yang digelar ini bertujuan untuk mendapatkan edukasi dan pencerahan. Sebab tidak sedikit pelaku usaha yang ketika bersengketa dengan perbankan tidak mengetahui cara menyelesaikan persoalan tersebut. Bahkan banyak yang apatis dan putus asa.
“Kedepan, kita berharap ini lebih intens. Kita akan buat pertemuan untuk sharing agar edukasinya sampai,”ujarnya.
Selain itu juga dia berharap OJK memberikan dampingan dan masukan bagi pelaku usaha, agar mereka lebih cermat lagi dalam hal urusan kredit ke pihak perbankan.
Yang penting tetap ada i’tikad baik untuk membayar kredit.(mahbubah Lubis)

 

Apa Tanggapan Anda?