Home / NEWS / Duh, Bupati Batubara Kena OTT KPK, Advokat Ini Juga Kena Getahnya

Duh, Bupati Batubara Kena OTT KPK, Advokat Ini Juga Kena Getahnya


KASUS SUAP. Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan kembali menggelar sidang lanjutan perkara suap mantan Bupati Batubara, OK Arya Zulkarnain, Kamis (8/3/2018). Dalam sidang lanjutan ini, Penuntut Umum KPK menghadirkan 8 orang saksi. [edisimedan/ska]

EDISIMEDAN.com, MEDAN- Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan kembali menggelar sidang lanjutan perkara suap mantan Bupati Batubara, OK Arya Zulkarnain, Kamis (8/3/2018). Dalam sidang lanjutan ini, Penuntut Umum KPK menghadirkan 8 orang saksi.

Dari ke delapan orang saksi yang dihadirkan salah seorang diantaranya adalah seorang advokat bernama Khairil Anwar. Dia merupakan kuasa hukum putra OK Arya bernama OK Muhammad Kurnia Aryeta alias Koko yang terjerat kasus narkoba.

Di persidangan terungkap nasib sial Khairil Anwar dimana uang sebesar Rp 250 juta yang seharusnya ia terima, atas jasanya mendampingi putra OK Arya disita oleh KPK pada 13 September 2017 lalu.

“Saya ini lawyer anaknya pak OK Arya yang terjerat kasus narkotika, si Koko namanya. Saya pun minta uang jasa sebesar Rp 250 juta kepada pak OK Arya dan disetujui secara lisan oleh pak OK Arya,” kata Khairil menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim, Wahyu Prasetyo Wibowo.

Baca Juga:  TNI/Polri Apresiasi JR Saragih Tangani Tawuran Warga di Dolok Silau

BERITA TERKAIT

Menurutnya, uang tersebut ia peroleh dari showroom Ada Jadi Mobil milik Sujendi Tarsono alias Ayen setelah mendapat perintah dari OK Arya.

“Saya ke sana tanggal 13 September 2017 sekitar pukul 12.30 WIB. Saya terima uang dari bendahara pak Ayen, saya lupa namanya tapi yang jelas perempuan. Sebelumnya saya dihubungi pak OK, katanya dia sudah hubungi Ayen, jadi sudah bisa ambil uangnya di sana,” sebut calon Bupati Batubara pada Pilkada 2018 ini.

Setelah Khairil Anwar menerima uang sebesar Rp 250 juta dari karyawan Ayen dan menandatangani tanda terimanya. Maka Khairil berangkat menuju ke kawasan Amplas untuk bertemu rekannya sesama pengacara bernama Dedi Suheri.

Baca Juga:  Fraksi PAN DPRD Sumut Sebut Erry Nuradi Berhasil Bangun Sumut

“Saya janjian sama Dedi Suheri untuk bagi uang jasa di Amplas. Karena kami sama-sama lawyer anaknya pak OK Arya. Rencana Rp 100 juta untuk saya dan Rp 150 juta saya kasih ke Dedi Suheri.Tapi sebelum tiba di Amplas saya malah diberhentikan di Jalan Sisingamangaraja. Mereka mengaku sebagai petugas KPK,” jelas Khairil.

Berdasarkan keterangan dari petugas KPK tersebut, uang sebesar Rp 250 juta yang ada di tangan Khairil Anwar merupakan uang suap yang diberikan sejumlah kontraktor untuk OK Arya yang ketika itu menjabat sebagai Bupati Batubara.

“Saya kemudian dibawa ke Polda, uang Rp 250 juta yang seharusnya sebagai fee jasa saya sebagai pengacara anak pak OK Arya juga disita. Katanya itu uang suap proyek pembangunan jembatan. Tapi saya nggak tahu dari siapa ke siapa,” ungkap pria yang pada persidangan mengenakan kemeja biru.

Baca Juga:  Laporan Penghinaan Presiden Ditangani Subdit II Ditreskrimsus Polda Sumut

Hakim pun menanyakan perihal honor yang seharusnya diterima Khairil pasca OTT.

“Sampai saat ini belum ada pak hakim,” kata Khairil.

Untuk diketahui, kasus ini bermula ketika KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 13 September 2017 lalu terhadap Maringan Situmorang, Syaiful Azhar, Ayen, OK Arya dan Helman Herdadi di berbagai lokasi di Medan dan Batubara.

Mereka ditangkap atas kasus suap sebesar Rp 4,1 miliar untuk proyek pembangunan jembatan dan jalan di Dinas PUPR Batubara Tahun Anggaran (TA) 2017. Maringan diketahui memberikan uang fee sebesar Rp 3,7 miliar, sedangkan Syaiful diketahui memberikan uang fee sebesar Rp 400 juta. [ska]

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up