Home / NEWS / Gara-gara Kasus Heli Polisi Bawa Pengantin, Mahasiswa Tuntut Kapolda Sumut Dicopot

Gara-gara Kasus Heli Polisi Bawa Pengantin, Mahasiswa Tuntut Kapolda Sumut Dicopot


DEMO MAHASISWA. Selain berunjuk rasa menolak Revisi UU MD3, puluhan mahasiswa yang berunjuk rasa di Kantor DPRD Sumatera Utara pada Jumat (2/3/2018) juga menyoroti kasus helikopter polisi yang membawa pasangan pengantin di Pematangsiantar.[edisimedan.com/alvian]

EDISIMEDAN.com, MEDAN- Selain berunjuk rasa menolak Revisi UU MD3, puluhan mahasiswa yang berunjuk rasa di Kantor DPRD Sumatera Utara pada Jumat (2/3/2018) juga menyoroti kasus helikopter polisi yang membawa pasangan pengantin di Pematangsiantar.

Bahkan mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi BEM Nusantara itu meminta agar Kapolri Jenderal Tito Karnavian mencopot Kapolda Sumatera utara Irjen Pol Paulus Waterpau sekaitan dalam kasus itu.

Agung Mardani Syahputra selaku pimpinan aksi, mengatakan tidak sepatutnya helikopter yang seharusnya digunakan untuk mendukung kinerja kepolisian dipakai untuk kepentingan pribadi.

Baca Juga

Baca Juga:  Sebulan, 451 Pelaku Kejahatan Diringkus Jajaran Polrestabes Medan

 

“Kami meminta agar Kapolda Sumut dipecat dari jabatannya karena sudah tidak betul dan tidak mengakui atas insiden yang terjadi bahwa helikopter yang di pakai oleh sepasang kekasih untuk resepsi pernikahan itu. Seakan sudah menipu publik” ungkapnya.

Kemudian dalam orasinya juga, mahasiswa juga mengecam tindakan Kapolda Sumut yang menerima bantuan dari seorang pengusaha yang berstatus tersangka dengan kasus penggelapan yaitu Mujianto.

“Kami sudah tau, bagaimana mungkin independensi penyidik kepolisian berdiri tegak kalau mendapatkan bantuan dari seorang tersangka berupa pembangunan rumah dinas anggota brimob Polda sumut” jelas Agung.

Lebih lanjut Agung juga menyoroti persoalan adanya tudingan Kapolda melindungi Kapolres Asahan AKBP Kobul Syahrin Ritonga yang diberitakan melakukan tangkap lepas terhadap salah seorang pengedar narkoba.

Baca Juga

Baca Juga:  Kesaksian Pengungsi Rohingya Bertahun-tahun Hidup dalam Penampungan

“Kami melihat adanya pembebasan dari tersangka tersebut yang masing-masing sudah terbukti mereka adalah bandar narkoba dengan barang bukti 3 Gram sabu, 12 gram dan 1,2 kilogram namun di bebaskan kembali. “tegasnya.

Dalam hal ini, massa beranggapan bahwa Kapolres Asahan melakukan pembohongan publik dan sabu yang dimusnahkan diduga palsu karena tidak dilakukan oleh tim uji laboratorium forensik cabang Medan.

“Kami dari aliansi BEM Nusantara tentunya kecewa, kenapa kami yang melaporkan ke Polda Sumut tidak dimintai keterangan, padahal kami sudah menyampaika bukti akurat ke pihak kepolisian, inikan aneh” ujarnya. [alvian khomeini]

Terkait


Berita Terbaru