Home / NEWS / Heran, Erupsi Sinabung Selalu Terjadi Selama Ramadan

Heran, Erupsi Sinabung Selalu Terjadi Selama Ramadan


TANAH KARO| Tingginya aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, selalu terjadi selama Bulan Ramadan. Erupsi dengan ratusan guguran dan luncuran awan panas atau luncuran lava pijar akan sering terjadi selama bulan suci Ramadan.

Bahkan sejumlah pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung, mengaku sudah lima tahun terakhir ini menjalani ibadah puasa Bulan Ramadan, dan merayakan Lebaran di tengah pengungsian.

“Tidak ada lagi kebahagiaan di sini. Semua sudah habis. Lahan pertanian sudah tidak berfungsi, pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari, pun tidak ada. Yang ada, hanya berharap ada bantuan dari dermawan. Pengungsi yang beragama Kristen pun sudah lima tahun merayakan Natal dan Tahun Baru di pengungsian,” ujar seorang pengungsi, Ati (50) seperti dilansir suarapembaruan di pos penampungan Jambur Desa Tongkoh, Kecamatan Dolat Rayat, Kamis (18/6/2015) malam.

Baca Juga:  Terimakasih Warga Karo untuk Jasa Edy Rahmayadi pada Kampung Mereka

Sejumlah warga merasa heran, mengapa erupsi gunung Sinabung selalu terjadi selama Ramadan dan perayaan hari Raya Idul Fitri.

Sahur di Pengungsian
Kendati demikian, warga tetap menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan tetap dilaksanakan. Namun tak jarang suasana haru dirasakan oleh warga sekitar Gunung Sinabung yang terpaksa mengungsi. Warga Karo, Sumatera Utara ini terpaksa menyantap sahur di posko pengungsian.

Kaum ibu secara gotong-royong tetap mempersiapkan santapan untuk sahur sejak pukul 02.00 WIB. Mereka bersatu dan tegar di tengah duka yang mereka alami. Ibadah tak berarti berhenti karena bencana.

Dini hari, sebagian ibu-ibu memanaskan makanan lebih dari santap malam para pengungsi. Sebagian lagi membangunkan para anak dan kaum bapak untuk sahur bersama.

Menikmati menu makanan seadanya di bawah atap posko pengungsian sungguh sangat menyedihkan. Air mata dari kaum ibu tampak menitik melihat anak-anak mereka harus mengantre makanan di dinginnya udara pagi.

Baca Juga:  Sutias Promosikan Busana Etnis Karo di Acara Culture Festival

Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Karo terkesan tak tanggap dengan kondisi ini. Walau sudah tiga hari dievakuasi, pengungsi jauh dari kelayakan. Posko jauh dari kesan cukup.

Selain itu sampai masuk hari pertama puasa saat ini, Pemerintah Kabupaten Karo, belum juga menyiapkan fasilitas dan sarana ibadah memadai bagi pengungsi erupsi Sinabung yang beragama Islam untuk melaksanakan ibadah Ramadan.

Saat ini Gunung Sinabung ditetapkan dalam status Awas. Muntahan lava pijar dan awan panas terjadi pada dini hari hingga Kamis pagi (18/6/2015). Terjadi 32 kali guguran lava pijar dengan jarak hingga 1,5 km ke arah Tenggara. Aktivitas seismik gunung juga masih tercatat tinggi.

Akibat dari tingginya aktivitas Gunung Sinabung, sebanyak 10. 714 jiwa (2.882 KK) dari 11 desa harus mengungsi. Mereka tersebar di 10 pos pengungsian. Pengungsi berasal dari Desa Guru Kinayan, Tiga Pancur, Pintu Besi, Sukanalu, Beras Tepu, Sigarang-garang, Jeraya, Kuta Rayat, Kuta Gunggung, Mardinding, Kuta Tengah, dan Dusun Lau Kawar. [khi|bbs]

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up