ISNU Sumut Rekomendasikan Perda Penempatan Ruang Ibadah Representatif Dan Layak

21

 

EDISIMEDAN.COM, MEDAN- Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (PW ISNU Sumut) menggelar Seminar Nasional bertajuk ‘Evaluasi Publik Terhadap Penempatan Ruang Ibadah Representatif Dalam Gedung, Fasilitas Umum dan Tempat Wisata di Sumut’, di Tiara Convention Center Medan, Kamis (10/10/2019).

Seminar semakin menarik dengan kehadiran Wakil Gubernur Sumatera Utara Drs H Musa Rajekshah MHum yang sekaligus membuka secara resmi kegiatan tersebut.

Ketua PW ISNU Sumut, Dr. H. Nispul Khoiri, MA, mengatakan kegiatan seminar ini penting dilakukan, guna terwujudnya pemahaman kepada pemerintah, masyarakat dan pengusaha tentang urgensi adanya ruang ibadah yang layak menjadi tempat ibadah di dalam gedung, fasilitas umum dan tempat wisata.

“Seminar ini sengaja kami gelar guna tercipta perhatian pemerintah, masyarakat dan pengusaha dalam penempatan ruang ibadah yang layak menjadi tempat ibadah di fasilitas umum, gedung dan tempat wisata bisa terwujud,” ungkap Nispul.

Di samping itu, guna mewujudkannya, ISNU berupaya mendorong terciptanya Peraturan Daerah (Perda) tentang Penempatan ruang ibadah yang layak di dalam gedung, fasilitas umum dan tempat wisata

“Jika kita perhatikan khususnya di Kota Medan sebagai contoh, belum terlihat secara menyeluruh adanya penempatan ruang ibadah representatif dalam gedung, fasilitas umum dan tempat wisata. Secara kuantitas harus kita akui bahwa petumbuhan perkembangan rumah ibadah/ruang ibadah telah mengalami perkembangan cukup pesat, terutama di Kota Medan. Tidak menafikan kehadiran ruang ibadah di dalam gedung atau fasilitas umum telah mencukupi. Namun yang harus menjadi perhatian serius adalah tingkat kelayakan dari penempatan ruang ibadahnya,” ujarnya.

Kelayakan dimaksud adalah dilihat dari aspek aksesbilitas, kejelasan orientasi, pemisahan gender (pria-wanita) dan standarisasi kesehatan. Dalam konteks ruang s!lat umat Islam misalnya (Musala), terkadang ditempatkan pada fasilitas ruang parkir, lokasi bongkar muat barang, tempat pembuangan sampah dan lainnya, yang sesungguhnya belum memenuhi kelayakan aksesbilitas, kejelasan orientasi, pemisahan gender dan standarisasi kesehatan dan lainnya.

“Artinya keberadaan ruang ibadah tersebut belum representatif sama sekali. Sebagai tempat ibadah orientasinya harus disucikan, bahkan ditemukan di gedung dan fasilitas umum yang tidak memiliki ruang ibadah sama sekali,” tegasnya.

Lebih jauh Nispul Khoiri menegaskan, terdapat hubungan antara penempatan ruang ibadah representatif dengan penciptaan masyarakat agamis di sebuah daerah.

Pertumbuhan rumah ibadah dan penataan ruang ibadah yang representatif akan meningkatkan ghirah keagamaan masyarakat. Ruang ibadah yang nyaman, fasilitas lengkap dan letak strategis akan mendorong umat beragama semakin memantapkan kualitas keagamaanya.

“Karena itu PW ISNU Sumut berharap kepada pemerintah dan pengusaha dalam setiap pendirian gedung, fasilitas umum dan tempat wisata baik Rumahsakit, hotel, pusat perbelanjaan, pusat pendidikan, kafe, SPBU dan lainnya untuk memperhatikan penyediaan rumah ibadah/ruang ibadah yang layak menjadi tempat ibadah,” imbaunya.

Nispul Khoiri juga mengatakan, berbagai kota dan daerah di Indonesia telah menyadari kebutuhan penempatan ruang ibadah yang layak dalam gedung dan fasilitas umum menjadi kebutuhan penting.

“Kota Bandung misalnya, melalui Pemerintah Kota Bandung telah menerbitkan/sosialisasiakan Perda Nomor 14 tahun 2018 tentang Bangunan Gedung. Substansi Perda adalah amanat kepada penyelenggara bangunan kelengkapan sarana dan prasarana ketersedian ruang ibadah yang layak,” ucap Nispul.

Ruang ibadah dalam Perda tersebut yakni ruangan pada bangunan gedung yang digunakan secara tetap untuk melaksanakan kegiatan peribadatan, baik ruang salat bagi umat Islam sebagai agama mayoritas ataupun meditasi untuk penganut agama lainya.

“Karena itu PW ISNU Sumut merekomendasikan kepada Pemerintah Daerah dan DPRD untuk memperhatikan ini secara serius dan urgen. Sudah saatnya di Sumut adanya Perda tentang Penempatan Ruang Ibadah Representatif Dalam Gedung, Fasilitas Umum dan Tempat Wisata” pungkasnya.

Sementara, Seminar dihadiri sejumlah narasumber diantaranya Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj (Ketua Umum PB NU), Drs. H. Akhmad Muqowam (Ketua PB IKA PMII), Drs H Musa Rajekshah, MHum (Wagubsu), Feby Joko Priharto (GM PLN UIW Sumut), Dr. H. Ardiansyah, LC. MA (MUI Sumut) Drs. Ance Selian (Tokoh Muda NU) dan Dr. H. Nispul Khoiri, MA (Ketua PW ISNU Sumut) dengan moderator Dr. Aswan Jaya, MA (Wakil Ketua PDIP Sumut). (Mahbubah Lubis)

 

Apa Tanggapan Anda?