Home / SUMUT / Jasa Keuangan Menjadi Formula BPS untuk Dapatkan NTP di Tahun 2020

Jasa Keuangan Menjadi Formula BPS untuk Dapatkan NTP di Tahun 2020


EDISIMEDAN.COM, MEDAN- Jasa keuangan menjadi salah satu formula penilaian Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara (Sumut) dalam mendapatkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada tahun 2020 ini.

Berdasarkan keterangan Kepala Bidang (Kabid) Statistik Distribusi BPS Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Dinar Butar- butar mengatakan  jasa keuangan dimasukkan menjadi salah satu formula yang dinilai, lantaran jasa keuangan kini menjadi komponen konsumsi rumah tangga yang cukup mempengaruhi kesejahteraan petani. Untuk menjalankan produksi, petani cukup tergantung dengan jasa keuangan.
“Selain jasa keuangan, banyak komponen – komponen baru yang masih harus dimasukkan, apalagi metode sampling yang digunakan juga berubah menjadi probability sampling dan purposive sampling,” ungkapnya Minggu (2/2/2020).
Lanjut Dinar, purposive sampling yang digunakan pada tahun dasar 2012, merupakan salah satu teknik sampling non random sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian. Sedangkan probability sampling merupakan suatu teknik pengambilan sample dimana semua elemen mempunyai peluang untuk terpilih menjadi sample.
“Dengan menggunakan teknik ini, berarti tidak ada kendala apapun untuk melakukan penelitian terhadap kemungkinan atau probabilitas dari elemen manapun jika terpilih sebagai sample,” terangnya.
Penghitungan NTP pada tahun dasar 2018, sambungnya, jumlah rumah tangga yang menjadi sampel sebanyak 198.574 rumah tangga. Naik cukup besar dibandingkan tahun dasar 2012 yang hanya 46.300 rumah tangga. Sampel – sampel ini, tuturnya, diambil dari 34 provinsi, 386 kabupaten, naik dari tahun dasar 2012 yang hanya 33 provinsi, 295 kabupaten.
Dikatakan Dinar data NTP penting dimukhtahirkan lantaran sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Indonesia. “Ini juga harus diperhatikan, apalagi pada Agustus 2018 sebanyak 28,79 persen penduduk bekerja di sektor pertanian, turun menjadi 37,33 persen, pada Agustus 2019,” terangnya.
Namun ditegaskannya, sumbangan sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto cukup besar, sebanyak 12,81 persen.
“Untuk ini, perlu indikator secara akurat untuk mengukur kemampuan daya tukar petani sebagai salah satu pelaku utama di sektor pertanian,” tandasnya. (Mahbubah Lubis)
Baca Juga:  Kunjungan Wisatawan Mancanegara Ke Sumut Naik
Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up