Jatah Kursi Golkar di Kabinet Jokowi-JK Bertambah, Grup Besar Golkar Kubu Siapa?

168
Presiden Jokowi melantik Idrus Marham, yang merupakan sekjen demisioner Golkar menjadi Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar parawangsa di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (17/1/2018) pagi. Idrus Marham menjadi menteri ketiga dari partai beringin di Kabinet Kerja Jokowi-JK. [edisimedan/ilustrasi]

EDISIMEDAN.com, MEDAN – Masuknya Idrus Marham sebagai Menteri Sosial dalam reshuffle kabinet jilid 3, menambah jatah menteri dari Partai Golongan Karya (Golkar) menjadi tiga kursi. 

Sebelumnya ada Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian (Memperin) yang kemudian menjadi Ketum Golkar, dan Luhut Binsar Pandjaitan, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Golkar yang menjabat Menko Kemaritiman.

Pelantikan Idrus Marham, yang merupakan sekjen demisioner Golkar menjadi menteri ketiga dari partai beringin di Kabinet Kerja dilakukan di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (17/1/2018) pagi.

Idrus Marham menggantikan Mensos sebelumnya, Khofifah Indar Parawansa yang mencalonkan diri sebagai calon gubernur pada Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018.

Selain Idrus, Presiden Jokowi juga melantik Marsekal Madya TNI Yuyu Sutisna sebagai KSAU dan Moeldoko yang menjabat sebagai Kepala Staf Presiden, serta Agum Gumelar sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Selama hampir tiga setengah tahun pemerintahannya, Presiden Jokowi telah tiga kali merombak kabinet.

Terkait alasan di balik penunjukan Idrus, Jokowi menolak jika dikaitkan dengan kepentingan politik 2019.

“Ya karena cocok saja,” ujarnya kepada pers di Istana Negara, Jakarta.

Dalam perombakan kabinet ini, Jokowi melanggar komitmennya bahwa menteri tidak boleh memegang jabatan lain di luar Kabinet Kerja. Ia menganggap rangkap jabatan berpotensi mengaburkan fokus kerja para menteri.

Airlangga yang berstatus orang nomor satu di Golkar dan tetap menduduki kursi menteri, Jokowi menyebut tidak ingin mengganti menteri yang memegang bidang rumit.

“Ini tinggal satu tahun. Kalau ditaruh orang baru, belajar paling enggak enam bulan, kalau nggak cepat, bisa setahun untuk menguasai itu,” kata Jokowi.

Sementara pengamat politik dari Universitas Airlangga, Muhammad Asfar, menilai keputusan Presiden Jokowi menunjuk Idrus Marham, merupakan ancang-ancangnya menghadapi Pilpres 2019.

Satu kursi tambahan untuk Golkar di Kabinet Kerja mengukuhkan kerja sama politik antara Jokowi dan partai beringin.

“Jokowi butuh partai lain untuk melengkapi NasDem, sehingga ketika bernegosiasi, dia punya posisi tawar kuat, termasuk dengan PDIP,” kata Afsar seperti dilansir CNN, Rabu (17/1).

Sedangkan Wakil Ketua Dewan Pakar DPP Partai Golkar, Mahyudin menegaskan, tambahan jatah kursi Golkar di Kabinet Kerja tersebut tidak dilatarbelakangi deal-deal politik tertentu.

Menurutnya, pengangkatan Idrus Marham sebagai Menteri Sosial merupakan hak prerogatif Presiden Jokowi.

“Jadi tidak bicara ada deal-deal, tapi itulah yang terjadi bahwa Golkar mendapat kepercayaan untuk menduduki pada saat ini kursi Mensos,” kata Mahyudin di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (17/1/2018).

Namun demikian, dia tak menampik, keputusan presiden mempercayakan kader Partai Golkar akan semakin memantapkan dukungan terhadap Jokowi pada 2019 mendatang sebagai capres.

Apalagi, dukungan tersebut sebelumnya sudah memutuskan dukungan terhadap Jokowi di Munas Partai Golkar beberapa waktu yang lalu.

“Kalau dukungan kepada Pak Jokowi tanpa ada jabatan menteri saya kira Golkar sudah memutuskan dalam Munas,” kata Mahyudin.

Sebelumnya di Munas Golkar 18 Desember 2017, Jokowi pernah menyebutkan beberapa kekuatan besar yang dapat mempengaruhi suatu keputusan di dalam internal Partai Golkar.

“Saya tahu ada-ada grup besar di Golkar.‎ Ada grupnya Pak Jusuf Kalla, ada grup besar Pak Aburizal Bakrie,‎ ada grup-grup besar Luhut Binsar Panjaitan, diam-diam tapi ada,” beber Jokowi di hadapan peserta Munaslub.

“Ada grup besar Pak Akbar Tandjung, ada grup besar Pak Agung Laksono, ada,” tambahnya.

Menurut Jokowi, grup-grup besar di internal Partai Golkar itu senantiasa menjaga soliditas. Sebab sebentar lagi Indonesia akan memasuki tahun politik. Lalu, jatah tiga menteri dalam Kabinet Kerja, grup Golkar kubu siapa? [ded]

Apa Tanggapan Anda?