Jokowi-JK-Lafran Pane dan Munas X KAHMI |OPINI

364
Lafran Pane, tokoh pendiri HMI diunegrahi gelar Pahlawan Nasional tahun 2017

Oleh: Chazali H Situmorang
Ketum HMI Cabang Medan 1980 – 1981

Bulan November 2017, merupakan hari-hari yang penuh dengan peristiwa nasional yang menyita perhatian publik. Dimulai dengan acara akad nikah dan resepsi perkawinan Kahiyang Ayu, putri Presiden Jokowi dengan Bobby Nasution.

Sebelumnya di minggu pertama November juga, beredar Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) terhadap Setya Novanto, walaupun pihak KPK tidak mengakuinya. Pengakuan baru disampaikan kepada pers oleh Wakil Ketua KPK Saud Situmorang tentang status tersangkanya Setnov (kedua kalinya) pada hari Jumat 10 Nopember 2017.

Di minggu pertama Nopember ini juga Polri menerbitkan SPDP kepada Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua Saud Situmorang, atas sangkaan menrbitkan surat palsu atas pencekalan yang dilakukan terhadap Setnov.

Pada akhir 30 Oktober 2017, hari Senin, rombongan Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) dipimpin Koordinator Presidium Mahfud MD, dan beberapa pimpinan MW KAHMI terutama Ketua MW KAHMI Sumut sebagai tuan rumah, bersilaturrahmi dengan Wapres Jusuf Kalla untuk meminta perkenan beliau membuka Munas X KAHMI di Medan pada tanggal 17 November 2017.

Sekalian meresmikan Gedung HMI yang diberi nama Gedung Insan Cita yang telah selesai direhabilitasi total dengan kualitas bagunan kelas terbaik.

Silaturrahmi berjalan lancar dan Pak JK siap untuk hadir membuka dan mersmikan Gedung HMI tersebut.

Di akhir Oktober 2017, Menhan selaku Ketua Tim Pemberian Gelar dan tanda Jasa Kehormatan yang dibentuk Presiden sudah mempublikasikan bahwa Presiden hanya akan memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada 3 orang yang mewakili mereka yang berjasa di daerah yaitu dari Aceh, Riau dan NTB.

Jelas nama Pak Lafran Pane tidak termasuk. Sebelumnya KAHMI telah mengusulkan agar tokoh pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Prof Lafran Pane, yang lahir di Kabupaten Tapanuli Selatan pada 5 Februari 1922 dan wafat pada 25 Januari 1991, ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional karena berdasarkan jejak perjuangannya yang sudah diuji kesahihannya di 27 kampus di Indonesia.

Dan ini berarti kegagalan yang kedua kalinya. Kebijakan tersebut sudah disampaikan oleh anggota Tim tersebut kepada Bang Akbar Tanjung.

Masih di akhir Oktober 2017, bang Akbar Tanjung segera membuat langkah cepat mengundang Tim SC dan Ketua OC Panitia Lafran Pane di rumah bang Akbar sore hari, dihadiri oleh B Aritonang, Ibrahim Ambong, Alfan Alfian dan Chazali HS.

Intinya Bang Akbar menjelaskan tentang hanya 3 orang yang ditetapkan Presiden (tidak masuk Pak Lafran Pane), dan mengatakan kita tidak boleh berputus asa “Yakin Usaha Sampai”. [BACA HALAMAN SELANJUTNYA]

Apa Tanggapan Anda?