Home / NEWS / Kasus Bunuh Diri Siswi SMKN 3 Padangsidempuan Diadukan ke DPRD Sumut

Kasus Bunuh Diri Siswi SMKN 3 Padangsidempuan Diadukan ke DPRD Sumut


RDP.Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung antara Komisi E DPRD Sumut, Dinas Pendidikan Sumut, Kepala SMKN 3 Padang Sidempuan dan perwakilan guru di sekolah tersebut.

EDISIMEDAN.com, MEDAN- Pihak Dinas Pendidikan Sumatera Utara (Sumut)  terkesan lamban menangani kasus tewasnya Amelya Nasution (19), siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN)  3 Padang Sidempuan yang bunuh diri karena diduga tidak tahan diintimidasi guru di sekolah itu.

Pasalnya hingga saat ini, Disdik Sumut belum memanggil guru yang diduga melakukan intimidasi.

Hal itu terungkap dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung antara Komisi E DPRD Sumut, Dinas Pendidikan Sumut, Kepala SMKN 3 Padang Sidempuan dan perwakilan guru di sekolah tersebut.

“Kami minta tolong kepada Bapak Pimpinan untuk menolong kami mengawal kasus ini. Karena sekarang ini situasi di sekolah terpecah dua kubu. Sepertinya lambat diproses, guru yang melakukan intimidasi saja tidak ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan meskipun sudah ada (arahan-red) dari Inspektorat,“ kata perwakilan guru Asrul Sani Lubis usai menceritakan kronologis peristiwa di ruang rapat Komisi E DPRD Sumut, Selasa (16/5/2017) sore.

Baca Juga:  7 Anggota DPRD Sumut Ditahan KPK di Jumat Keramat

Menanggapi pendapat tersebut, Sekretaris Komisi E Ahmadan Harahap yang memimpin RDP mempersilahkan perwakilan dari Dinas Pendidikan Sumut untuk memberikan argumentasi.

“Sesuai dengan rekomendasi inspektorat Kementrian Pendidikan kita akan menindaklanjutinya. Guru yang honor itu akan kita berhentikan dan guru yang mengedarkan kunci jawaban akan kita ambil tindakan sesuai disiplin yang dilakukannya,” kata Ketua Penyelenggara Ujian Nasional Sumut, Yuniar yang mewakili Dinas Pendidikan dalam agenda tersebut.

Untuk kasus Amel, meskipun ia mengaminkan adanya rekomendasi dari Inspektorat Kementrian Pendidikan untuk menindaklanjuti guru yang melakukan intimidasi, Yuniar menyatakan Dinas Pendidikan masih menunggu proses hukum yang sedang berlangsung di Polres Padang Sidempuan. “Pembuktian intimidasi ini juga tidak dapat kita buktikan secara nyata, jadi oleh sebab itu rekomendasi dari inspektorat sedang kami bahas di Dinas Pendidikan,” tuturnya.

Baca Juga:  Edy Rahmayadi Minta Skuad PSMS Dievaluasi

Beberapa siswi kelas XII SMKN 3 Padang Sidempuan yang juga mendapat perlakuan tidak mengenakan dari guru berinisial KS turut menceritakan kejadian itu kepada anggota Legislatif.

“Sabtu 1 April 2017 lalu, oknum guru KS menanyakan apakah iuran PU sudah lunas atau tidak. Tapi bu KS langsung marah dengan mengeluarkan suara yang tinggi. JB saja kalian supaya tunggakan kalian ini bisa lunas,” tutur siswi itu sambil menangis menirukan perkataan guru itu kepada mereka.

Para siswi yang tidak mengerti arti ‘JB’ yang dimaksud gurunya dengan polos bertanya kembali maksud dari inisial tersebut. Sontak guru tersebut langsung membentak “Jual Badan!” sambil melengos meninggalkan mereka.

“Kami berinisiatif memanggil mereka dalam agenda rapat hari ini agar kedepannya tidak terjadi lagi kejadian seperti ini. Ini hanya secuil peristiwa, jangan-jangan ada banyak siswa yang mendapat perlakuan sama. Kebetulan karena diblow up di media sosial makanya kami bisa mengetahui adanya kejadian ini,” ujar Ahmadan Harahap kepada wartawan.

Baca Juga:  PLN Putus Listrik Kampus, Mahasiswa dan Dosen AMIK MBP Ngadu Ke DPRD Sumut

Terkait dugaan adanya oknum yang sengaja memperlamban kasus ini, politisi dari PPP itu mengatakan bahwa Komisi E siap mengawal. “Kalau memang terbukti hal seperti itu harus kita sikat habis itu. Tidak boleh ada guru yang mengintimidasi guru, mengintimidasi siswa. Tidak Boleh! Apalagi guru mengeluarkan kata-kata menyuruh anak muridnya untuk jual diri,” tegasnya.

Agenda tersebut seharusnya mewajibkan Kepala SMKN 3 Padang Sidempuan dan guru yang diduga melakukan intimidasi untuk hadir. Namun sampai rapat selesai, mereka tak kunjung hadir dengan alasan tidak menerima undangan rapat.

“Rapat kita skors hingga mendapat klarifikasi dari Kepala Sekolah dan guru terkait,” tutup pimpinan rapat. [ska]

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up