Kejatisu Ringkus Buronan Kasus Korupsi Vaksin Umroh

90
Marianne Donse boru Tobing akhirnya diringkus petugas Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Jumat (27/7) malam. Terpidana kasus vaksin jemaah haji itu ditangkap setelah sempat buron sejak 2014 lalu.

EDISIMEDAN.com, MEDAN- Marianne Donse boru Tobing akhirnya diringkus petugas Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Jumat (27/7) malam. Terpidana kasus vaksin jemaah haji itu ditangkap setelah sempat buron sejak 2014 lalu.

Marianne adalah Mantan Kasi Upaya Kesehatan Lintas Wilayah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Pekanbaru. Dia terbukti bersalah dalam kasus tindak pidana korupsi pemungutan biaya pemberian vaksin meningitis pada calon jemaah Umroh pada Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Pekanbaru Tahun 2011 sampai dengan 2012. Perkara itu sudah incracht di Mahkamah Agung Nomor: 1764.K/Pid.Sus/2014 tanggal 19 November 2014.

Penangkapan dilakukan setelah petugas Asintel Kejati Sumut melakukan pengintaian selama dua hari. Setelah sempat tidak ditahan karena hamil, terpidana memang sering berpindah tempat. Dia diketahui sering melawat keluarganya di Kota tarutung, Kabupaten Tapanuli utara.

Petugas menangkapnya di salah satu toko di Jalan Johannes Hutabarat ,Tarutung. Saat itu dia sedang membeli ulos. Dia pun tidak melawan saat dilakukan penangkapan.

“Terpidana langsung kita boyong ke Kejati Sumut di Kota Medan,” kata Kepala Seksi Penerangan dan Hukum Kejati Sumut Sumanggar Siagian, Sabtu (28/7).

Ternyata, selama dalam pelariannya terdakwa juga menyelesaikan pendidikan magisternya, di Universitas Sari Mutiara pada Agustus 2017. Selama itu juga, Marianne hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga.

“Kita sudah sempat melakukan pemanggilan tiga kali kepada yang bersangkutan. Namun yang bersangkutan tidak pernah mengindahkannya. Sehingga dia dimasukkan kedalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejari Riau,” terang Sumanggar.

Sesampainya di Kejati Sumut, Marianne terus menangis sesunggukan. Dia terus menyeka air matanya. Marianne terus mengaku bahwa dirinya tidak bersalah.

Dalam kasus ini, kerugian negara mencapai Rp 580 juta lebih. Dalam kasus ini ditetapkan tiga orang tersangka termasuk Marianne. Diantaranya Suwigno sebagai pejabat fungsional di KKP Pekanbaru yang telah menjalani masa hukuman dan Iskandar selaku Kepala KKP Pekanbaru.

“Iskandar tidak ditahan karena mengalami kecelakaan sepeda motor. Kakinya patah. Sekarang dia jadi buronan kita juga,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Pekanbaru Suripto Irianto.

Dalam kasus ini Pengadilan Tipikor Pekanbaru sudah memvonis ketiganya selama empat tahun penjara dan denda Rp 200 juta. Mereka juga diharuskan membayar uang pengganti sebesar Rp 6,5 juta. [ska]

Apa Tanggapan Anda?