Home / BINJAI / KESEHATANSUMUT / Kepala RSU Bangkatan Binjai Dokter Parlindungan Nasution

Kepala RSU Bangkatan Binjai Dokter Parlindungan Nasution


EDISIMEDAN.COM,BINJAI – Kalau ada penyakit baru, langkah pertama yang diambil tentunya mencegah jangan sampai penyakitnya menyebar dan jadi masalah kesehatan baru. Tapi dengan COVID19 ini hampir mustahil dilakukan karena beberapa hal.

Pertama penyakit ini masih bisa menyebar saat masa inkubasi, orang terinfeksi tidak akan bergejala selama 2-14 hari, bahkan ada yang 21 hari tidak bergejala baru sakit. Hal tersebut diatas dikatakan Dokter Parlindungan Nasution kepada EDISIMEDAN.COM,Jum’at,(22/5) via WA

Menurut Kepala RSU Bangkatan Kota Binjai Dokter Parlindungan Nasution,  thermal scanner di bandara itu percuma. Bahkan hampir 50% yang terinfeksi tidak pernah bergejala. Jadi sejak dia terinfeksi sampai akhirnya sembuh tidak ada keluhan tapi bisa jadi carrier yang menularkan penyakit ke orang lain yang rentan.

Yang terinfeksi tidak harus batuk, dengan bicara saja virusnya bisa menular. Ini alasan hampir semua negara gagal mencegah masuknya penyakit ini ke negaranya.

Melihat ke belakang, kalau kita tahu penyakit ini seperti ini, mungkin bisa saja dicegah masuk Indonesia tapi itu dengan cara mengisolasi semua pendatang yang masuk negara ini selama setidaknya 3 minggu.

Kenapa tiga minggu? Ambil contoh kasus pak Menhub, WNI dari Wuhan dan Diamond Princess yang kontak dengan beliau di isolasi 2 minggu tidak ada keluhan, di sangka aman taunya tertular juga.

Baca Juga:  Kampanyekan Kebersihan Lingkungan, Remas Ahsania Gotong Royong Bersihkan Desa

Nah apa mungkin itu dilakukan? Sepertinya mustahil. Berapa banyak orang yang masuk Indonesia dari Januari-Februari?

Dimana mereka mau di isolasi?

Kalau pencegahan tidak bisa, langkah selanjutnya adalah menurunkan angka penularan sehingga tidak terlalu banyak orang yang tertular COVID19 dalam suatu waktu sehingga sistem kesehatan kita tidak kewalahan.

Lihat kurva dibawah, yang warna oranye itu kalau virus ini dibiarkan menyebar merajalela. Garis putus-putus itu menandakan kemampuan sistem kesehatan kita dalam mengobati yang sakit.

Jika kita biarkan virus ini menyebar tanpa kontrol, maka akan banyak masyarakat yang meninggal karena tidak bisa ditangani oleh sistem kesehatan. Akan banyak warga masyarakat yang terpaksa dibiarkan meninggal karena tidak ada tempat rawat atau ventilator untuk menolong mereka.

Karena itulah lahir pembatasan sosial bersekala besar, untuk mengurangi laju penularan. Digaris bawahi ya bahwa yang diinginkan itu mengurangi laju penularan, bukan 100% mencegah penularan, kalau tujuannya itu maka langkah yang diambil adalah total lockdown / karantina seperti di Wuhan.

Baca Juga:  KPU Binjai Siapkan Pendaftaran Paslon dan Relawan Demokrasi

Sebuah langkah ekstrim yang hanya sanggup dilakukan beberapa negara di Dunia. Jadi dengan PSBB saja, pasti tetap akan ada penularan COVID19, tapi tidak akan semasif jika tidak ada pembatasan. Diharapkan sistem kesehatan kita sanggup menangani yang sakit sehingga korban tidak terlalu banyak.

Pertanyaannya sampai kapan? Sampai ditemukan vaksin yang efektif mencegah COVID19. Ini kemungkinan baru terwujud pertengahan tahun depan. Semoga.

Kalau misalnya PSBB dilonggarkan apa yang mungkin terjadi? Bisa jadi laju penularan semakin besar sehingga sistem kesehatan kita kewalahan dan semakin banyak yang meninggal karena tidak bisa tertangani sistem kesehatan kita.

Itu logika berpikirnya… Tapi logika itu tampaknya tidak bisa jalan beriringan dengan realitas kehidupan. Lihat saja Amerika, pembatasan sosial yang mereka lakukan menimbulkan gangguan ekonomi yang luar biasa besar. Dengan paket stimulus yang dikeluarkan hutang Amerika meningkat drastis hingga hampir setara dengan PDB-nya. Dengan ekonomi yang di paksa istirahat, apa iya mereka sanggup bangkit kembali jika keadaan terus seperti ini? Hal ini juga yang tampaknya terjadi di Indonesia.

Pemikiran ahli ekonomi tidak bisa sejalan dengan ahli kesehatan. Kalau iya ekonomi mau dibuka lagi, maka siapkan sistem kesehatan yang mumpuni.

Baca Juga:  Sri Wahyuni Penggiat UKM Berbuat Bagi Kemaslahatan Umat

Artinya buka RS baru, pastikan APD termasuk masker N95 tersedia hingga tiap RS dan Puskesmas di daerah karena wabah ini sangat mungkin menyebar tidak terkendali dan pasiennya semakin banyak. Begitu pula dengan kuburan, harus disiapkan dari sekarang. Jangan sampai korban banyak, bingung mau ngubur dimana seperti di New York.

Untuk anda yang tetap harus bekerja lagi disaat pandemi, tetap jaga jarak, cuci tangan sesering mungkin, kenakan masker. Ingat masker yang digunakan jangan masker kain 1 lapis, gunakan setidaknya masker kain 2 lapis yang ditengahnya bisa disisipkan tissue, lipat jadi 3.

Selalu kenakan masker sepanjang hari. Jangan dilepas kecuali sendiran. Jangan dulu ketemu orang tua yang tinggal beda rumah. Ingat anda bisa saja terinfeksi tapi tidak bergejala. Jangan sampai karena kangen orangtua malah sakit. Jaga kesehatan, makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, olahraga teratur dirumah.

“Jangan kumpul-kumpul dulu hingga vaksin sudah ada. Pada akhirnya kesehatan kita dan keluarga kita sendiri yang bertanggung jawab menjaganya ,”pungkas Dokter Parlindungan Nasution (op)

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up