Home / NEWS / Kesaksian Frans Saat Jatuhnya Helikopter di Danau Toba (Bagian I)

Kesaksian Frans Saat Jatuhnya Helikopter di Danau Toba (Bagian I)


MEDAN| Satu penumpang helikopter EC 130 PK-BKA milik maskapai PT Penerbangan Angkasa Semesta (PAS) bernama Fransiskus Subihardayan, ditemukan selamat setelah helikopter yang mereka tumpangi jatuh di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, Minggu (11/10).

Frans, begitu pria berusia 22 tahun itu akrab disapa, dibawa ke RS Adrianus Siaga, Samosir, Sumatera Utara untuk mendapatkan perawatan. Sampai Rabu (14/10/2015) pagi ini, kondisinya kini berangsur-angsur sudah membaik.

Menurut dokter yang merawat di ruang ICU RS Adrianus Siaga, kondisi pria yang bernasib mujur itu belum sepenuhnya pulih. Frans masih mengalami trauma berat.  Meski demikian Frans masih mengingat semua peristiwa yang menimpa dirinya serta empat rekan lainnya. Detik-detik jatuhnya helikopter di Danau Toba, masih diingat secara detail.

Frans sendiri salahsatu dari lima penumpang di helikopter tersebut. Frans merupakan helicopter landing officer (HLO). Sebagai HLO, sedikit banyak dia sudah dibekali ilmu penerbangan.  “Secara kasarnya, kami sudah mengetahui heli ini bakalan pergi ke mana, ketinggian berapa, meskipun kami tidak sejago pilot,” kata Frans saat ditemui di rumah sakit.

Baca Juga:  Kapolres Samosir: Ada Nelayan Mendengar Dentuman Benda Keras Jatuh di Danau Toba

Kepada wartawan, Frans menceritakan saat-saat jatuhnya helikopter tersebut. Berikut hasil wawancara langsung dengan Frans dengan sejumlah wartawan yang berada di Rumah Sakit Adrianus Siaga.

Menurutnya, saat mereka  terbang, cuaca udara di Samosir dilanda kabut asap tebal. Kondisi ini menyulitkan pilot, Kapten Teguh Mulyatno untuk mencapai lokasi yang dituju.

Frans mengaku, sebelum heli jatuh, mereka sempat berputar ke arah utara Desa Sihotang, melintasi gunung. “Kemudian, pilot, Kapten Teguh belok, ke kanan lagi. Terus saya lihat kapten itu sudah menyisir Pulau Samosir sebelah timur. Setelah kelihatan tulisan Silangit, kapten ke arah selatan dulu. Jadi, Silangit, kalau menurut gambar GPS, kapten akan naik di ketinggian 5.000 meter,” lanjut Frans.

Selanjutnya adalah penuturan lengkap Frans, detik-detik saat jatuhnya helikopter tersebut. Penuturan lengkap ini merupakan hasil rekaman wawancara Frans di MetroTV. Berikut kisahnya.

Baca Juga:  APBD Karo Tak Cukup Untuk Pendanaan Pembangunan

“Tapi sebelum kami sampai di Silangit, Kapten bilang kita akan nambah ketinggiannya di Silingat aja, karena di Silangit itu kondisi tertinggi di Pulau Samosir. Jadi sudah ketauan di situ paling tinggi, berarti kurang lebih  helikopter harus take off atau berada di ketinggian 5.000 feed meter diatas permukaan laut.

Tapi sebelum helikopter mencapai belok ke kanan lagi, reposisi helikopter ke arah  Silangit, helikopter sudah ngalamin, turnbank atau belok yang berlebih.

Jadi maksud kapten itu, biar asapnya itu dihilangkan dulu, dengan cara ekor baling-baling itu diputar ke kanan ke kiri ke kanan ke kiri, agar yang dimaksud titik tertinggi di kepuluan Samosir itu kelihatan.  Karena kalau di peta, permukaan tertinggi air laut ada di Silangit.

Kemudian helikopter belok ke kanan. Tapi Kapten ga nyadarin belok ke kanan ini terlalu tajam. Jadi bukannya belok, helikopternya malah kebanting ke kanan turun, karena gak ada daya angkatnya dari dia (helikopter). Sebagian melawan arah putaran. Itu faktornya. (penyebab jatuhnya helikopter-red).” [bersambung BAGIAN II] [ded]

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up