Home / PROFIL / Kisah Arlan Rantau Prapat, Sempat Terlantar di Amplas Akhirnya Jadi Bintang D’Academy

Kisah Arlan Rantau Prapat, Sempat Terlantar di Amplas Akhirnya Jadi Bintang D’Academy


Arlan, peserta D'Academy 4 asal Rantau Prapat saat bersama istri dan dua anaknya serta orangtuanya. Keikutsertaannya di kompetisi ajang pencarian bakat Dangdut nasional ini selain mengharumkan nama daerah, hasil karyanya akan bermanfaat pada orang banyak.

EDISIMEDAN.com, MEDAN – Tekad bulat diiringi semangat baja mengantarkan Arlan (27), warga Jalan Martinus Lubis, Rantau Prapat, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara menjadi salah seorang calon pedangdut populer di tanah air melalui kompetisi ajang pencarian bakat Dangdut Akademi atau D’Academy Indosiar.

Pria kelahiran 13 Juni 1989 ini, beberapa kali mengikuti ajang pencarian bakat yang diselenggaran beberapa televisi swasta nasional, namun gagal saat pertama kali audisi

Semangatnya tak kandas. Bermodal 200 ribu rupiah pada pertengahan November 2016 lalu, ia kembali merajut mimpinya menjadi seorang bintang pentas melalui audisi Dangdut Academy 4 Indosiar yang diadakan di pelataran Universitas Negeri Medan.

Bermodal uang saku tipis, Arlan sempat terlantar di terminal Amplas, karena tak cukup tahu rute trayek angkutan menuju lokasi audisi. Bapak dua anak ini kemudian mencoba memesan transportasi online menuju tempat audisi.

Baca Juga:  Yayah Muslihah, Raih Ratusan Juta dari Bulu Mata

Tak disangka, kebulatan tekadnya meluluhkan hati sang pengemudi yang kemudian menggratiskan tumpangannya bagi Arlan dengan syarat dibolehkan foto bersama Arlan.

Si Tukang Roti yang Hobi Nyanyi
Siapapun tak menyangka, pria pesisir berpendidikan Paket C ini punya jiwa kerja keras yang tinggi. Di balik suara cengkoknya yang khas, Arlan tak pernah belajar menyanyi atau musik. Meski menjuarai beberapa kali kompetisi menyanyi sejak SMP, Arlan tak punya biaya yang cukup untuk sekolah di lintas formal.

BACA JUGA
Mahasiswi UISU Catat Sejarah, Juara di Kontes Kecantikan Internasional

“Sempat sekolah SMA di kampung tapi gak diteruskan karena biaya. Jadi ambil Paket C lah. Nah, waktu dia lolos berangkat ke Jakarta, kami sempat keberatan. Karena kan belum jelas nantinya kayak apa dia, kami yang ditinggal gimana gitu kan?

Baca Juga:  Pandemi DBD di Aeknabara, 3 Balita Meninggal

Yah akhirnya dia gadaikan juga mesin pemeras santan Rp 1,5 juta sama kawannya. Itulah bekalnya, ada juga sisanya buat kami” kenang Hamidah terharu. [BACA HALAMAN SELANJUTNYA]

Terkait


Berita Terbaru
 
Scroll Up