KNPPSI Ke-3 FIB USU: Pembelajaran dan Publikasi Bahasa harus Inovatif

    13

    EDISIMEDAN.COM, MEDAN- Program Studi Linguistik FIB Universitas Sumatera Utara menggelar Konferansi Nasional Pascasarjana Program Studi Linguistik (KNPPSI) Ke-3 di Aula Sekolah Pascasarjana USU pada Sabtu, (30/11/2019).

    KNPPSI dengan tema “Isu dan Aplikasi dalam Linguistik, Sastra dan Budaya” itu dihadiri pembicara kunci dari Universitas Bengkulu Prof. Safnil Arsyad, MA.,Ph.D, dengan materi “Rhetorical Analysis of Academic Genre in English for Specific Purposes Contexts, Methodology Issues” dan Dr. Eddy Setia, M.Ed.,TESP. (dosen FIB USU) dengan materi “Metalinguistik dalam Pembelajaran Bahasa”.
     Wakil Dekan I FIB Prof. Mauly Purba, MA.,Ph.D, dalam Konferensi Nasional itu menyampaikan bahwa  FIB USU sangat mengapresiasi kegiatan KNPPSI Ke-3 ini. Karena  kegiatan ini disambut antusias dengan hadirnya ratusan peserta ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. 
    “Konferensi Nasional yang mengangkat Isu dan Aplikasi dalam Linguistik, Sastra dan Budaya ini harus kita manfaatkan bersama untuk menambah pengetahuan dan skill kita dalam mengembangkan kemampuan berbahasa. Kami pimpinan FIB merasa salut dan bangga, karena Prodi Linguistik ini sangat aktif melakukan kegiatan ilmiah, berbeda dengan Prodi-prodi lainnya,” katanya.
    Lebih lanjut ia berharap Prodi ini akan terus bermanfaat bagi masyarakat luas, terutama bagi pengajar dan praktisi bahasa di Sumetara Utara, karena kehadiran Prodi ini harus berorientasi pada kebermanfaatan bagi masyarakat luas. Melalui konferensi iniia juga berharap kegiatan ini akan mendorong pembelajaran bahasa labih inovatif dan publikasi kajian bahasa akan terus meningkat. 
    Di tempat yang sama, Ketua Panitia, Dr. Thyrhaya Zein, juga menyampaikan harapannya, dengan KNPPSI KE-3 ini akan memberi sumbangsih bagi para dosen, guru, mahasiswa dan praktisi bahasa dalam mengembangkan diri dan skill untuk menguasai konsep yang mutakhir dalam kajian bahasa.
    “Kita mengangkat Isu dan aplikasi linguistik, sastra dan budaya ini dengan tujuan memberikan wadah bagi siapa saja yang menggeluti ketiga bidang ini untuk berkontribusi dalam konferensi ini. Kami berharap KNPPSI Ke-3 ini akan memberikan manfaat baik bagi kita yang hadir selaku pemakalah dan peserta dalam mengembangkan dan meningkatkan pemahaman kajian bahasa, sastra dan budaya,” ungkapnya.
    Sementara itu, Prof. Safnil Arsyad, dalam paparannya mengungkapkan bahwa kajian bahasa, sastra dan budaya saat ini masih kalah dengan bidang sains dan teknik dalam hal publikasi di jurnal-jurnal ilmiah bereputasi Scopus dan jurnal nasional. Permasalahan besarnya adalah jurnal-jurnal Indonesia kalah saing dalam mencapai indeksasi jurnal bereputasi seperi Scopus, begitu juga para ahli dibidang bahasa, sastra dan budaya juga tidak bisa bersaing untuk meloloskan tulisannya untuk terbit di jurnal bereputasi tersebut.
    Tegasnya, bisa jadi salah satu faktornya adalah nilai juang dan etos dirinya dalam hal publikasi mudah menyerah. Dua, tiga kali ditolak oleh publisher, terus tidak mau melanjutkan kembali hingga berhasil dipublikasikan.
    Ia juga membeberkan beberapa trik agar karya tulis ilmiah kita berhasil dipublikasikan di jurnal bereputasi, diantaranya ikuti konferensi dengan luaran publikasi di jurnal terindeks scopus, tunjukkan kontribusi atau signifikansi riset yang dilakukan dan kebaruan temuannya, pahami ekspektasi reviewer dan practice and patience.
    “Agar artikel kita berhasil dipublikasikan di jurnal bereputasi, kita harus memahami struktur research article abstract, yaitu background,  indtoduction,  situation, the purpose of the research, methodology atau materials atau subject of the procedure how research is conducted, results / findings, and conclusions / significance. Jika kita ada kemauan pasti ada jalan menuju publikasi karya kita di jurnal bereputasi internasional,” jelasnya panjang lebar.
    Sementara Dr. Eddy Setia, selaku pemateri kedua memaparkan, pembelajaran bahasa di era disrupsi 4.0 harus lebih inovatif. Pengajar bahasa harus memahami konsep linguistik dan metalingual, baik secara implisit dan eksplisit.
    Hadir dalam kegiatan itu ratusan dosen dari berbagai perguruan tinggi, mahasiswa S2/S3 dan praktisi bahasa dari berbagai daerah, bahkan ada mahasiswa asing. (Mahbubah Lubis)

    Apa Tanggapan Anda?