Lembaga Kajian Komunikasi “Difusi” Gelar FGD Foto Hoaks

29

EDISIMEDAN.com, MEDAN- Lembaga Kajian Komunikasi Difusi bersama Ikatan Alumni Magister Ilmu Komunikasi UMSU dan Ikatan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UMSU mengelar Focus Group Discussion dengan mengangkat tema Foto Hoaks di Era Digitalisasi, di Hotel Garuda Plaza Medan, Senin (14/5/2018).

Tema tersebut diangkat untuk mengkaji lebih dalam terkait masalah beredarnya foto-foto bohong atau hoaks yang semakin marak di Indonesia akhir-akhir ini, terutama menjelang Pemilu.

Pengamat sosial dan politik, Shohibul Anshor Siregar selaku pemateri dalam diskusi itu mengatakan, fenomena penyebaran berita maupun foto hoaks memang menjadi masalah yang sangat serius di Indonesia.

“Fenomena ini sebenarnya telah terjadi sejak dulu. Hanya istilahnya saja yang berubah dan semakin masif,” paparnya.

Berita dan foto hoaks ini pun menjadi masalah yang hingga kini masih sulit diatasi pemerintah dan aparat penegak hukum. Dia merinci beberapa alasan seseorang merekayasa dan menyebar foto hoaks, di antaranya untuk bersenang-senang, pencitraan hingga menjatuhkan lawan politik.

Ketua KNPI Sumut Sugiat Santoso menambahkan, akhir-akhir ini foto dan berita hoaks menjadi akar masalah perseteruan di masyarakat.
“Elit-elit politik memanfaatkan foto hoaks untuk kepentingan mereka. Sementara masyarakat, dengan pengetahuannya yang masih rendah ikut-ikutan bertengkar, adu argumen yang memecah belah,” ungkapnya.

Masalah ini harus diselesaikan secara serius. Jika tidak, kata dia, masyarakat hanya akan terjebak dalam situasi yang merugikan.
“Hanya orang-orang tertentu yang meraup untung dari masalah ini. Sementara kehidupan masyarakat jadi kacau,” katanya.

Pemateri lainnya, Ferdy Siregar yang merupakan Redaktur Foto Harian Analisa mengatakan, pelaku rekayasa dan penyebar foto hoaks bukan saja dari oknum tertentu atau masyarakat, tetapi juga pernah dilakukan oleh fotografer profesional yang bekerja di media massa.
“Ini dilakukan agar fotonya bisa lebih menarik atau dramatis,” katanya.

Selain itu, kata dia, hasil karya wartawan profesional juga kerap dijadikan bahan untuk penyebaran foto hoaks. Dia memaparkan sejumlah foto wartawan yang diedit sedemikian rupa oleh pihak tertentu untuk menyebar kabar palsu.

Untuk itu, kata dia, pemilik foto asli menjadi salah satu kontrol dalam menekan gerakan ini. “Masyarakat atau pembaca juga menjadi benteng terakhir untuk melawan foto atau berita hoaks. Jika mendapat informasi, terutama dari media sosial, pastikan dulu kebenarannya sebelum ikut menyebarkan,” pungkasnya.

Adapun diskusi ini diikuti oleh sejumlah praktisi media, LBH Medan, aktivis pers mahasiswa, pengamat ekonomi, unsur pemerintah dan mahasiswa serta acara ini di dukung oleh pertamina dan KNPI sumut. Fenomena foto atau berita palsu ini dibahas dari berbagai perspektif untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya dari fenomena yang terjadi.[top]

Apa Tanggapan Anda?