Lewat Buku Kita Telah Mati, Dadang Darmawan Mengkritisi Zaman

30

EDISIMEDAN.com, MEDAN – Buku Kita Telah Mati karya salah satu bakal calon anggota DPD RI resmi diluncurkan. Melalui buku Kita Telah Mati, Dadang menyuarakan berbagai pendapatnya tentang kehidupan bernegara di Indonesia. Peluncuran dilaksanakan di Aula Kampus Fisip USU pada Senin, 20 Agustus 2018.

“Buku ini bagian dari upaya saya membangun kita dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Segala fenomena yang selama ini saya lihat, dituangkan dalam buku ini”, ujar Dadang disela-sela peluncuran buku.

Dadang menceritakan jika pemilihan judul Kita Telah Mati menggambarkan kematian nurani dan jiwa dalam mayoritas masyarakat Indonesia. Terlihat bagaimana negara memandang secara biasa, kondisi kemiskinan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Usaha yang dilakukan pemerintah pun hanya menjadi sebatas seruan dan rutinitas.

Kondisi demikian dianalogikan Dadang seperti penerapan kawasan bebas asap rokok. Usaha yang dilakukan hanya seperti membuat papan pengumuman. Seandainya ada yang mengindahkan larangan tersebut, maka hanya karena sebuah paksaan, bukan berasal dari kesadaran nuraninya.

Padahal kesadaran nurani menurutnya menjadi kunci dari kehidupan berbangsa.
“Kalau kesadaran nurani yang dikedapankan, tanpa dipaksa pun orang akan mampu bersikap sesuai dengan koridornya”, papar Dadang yang menurut LHKPN menjadi calon senator dengan harta paling sedikit.

Dibagian lain bukunya, Dadang juga mengkritisi bagaimana pemaknaan manusia dalam beragama. Sebagai orang yang beragama dan mempercayai Tuhan, seharusnya Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang paling baik. Karena hakikat agama apapun mengajarkan tentang kebaikan.

Namun kenyataannya, Indonesia saat ini sedang dalam posisi kritis dalam indikator kemoralan. Seperti Indonesia yang sedang berada dalam kondisi darurat pornografi dan darurat narkoba.

“Kenapa kondisi demikian terjadi pada bangsa yang mayoritas masyarakatnya beragama. Ini membuktikan bahwa yang kita kedepankan harusnya kesadaran nurani, bukan bersifat paksaan”, lanjut Dadang.

Ketika disinggung mengenai hubungan peluncuran buku dirinya dan kontestasinya dalam DPD RI, Dadang menolak untuk mengaitkan keduanya.

“Buku ini telah saya siapkan setahun yang lalu. Naskahnya pun sudah saya berikan dari awal tahun ini saat belum merencanakan maju ke DPD. Jadi tidak ada hubungannya”, tegas mantan akademisi Fisip USU tersebut.

Bukti lain tidak ada hubungan antara buku dan kontestasinya di DPD RI, terlihat dari waktu peluncuran bukunya. Dirinya mengatakan banyak teman-teman yang menyarankan untuk melakukan peluncuran buku saat Dadang telah resmi ditetapkan sebagai calon, namun dirinya tegas menolak dan tetap berkomitmen meluncurkan buku sesuai jadwal awal.

Karenanya melalui buku Kita Telah Mati, Dadang berharap bisa memberikan kontribusi bagi negara. “Mudah-mudahan ini menjadi masukan dalam perbaikan kita bernegara. Terimakasih juga kepada teman-teman yang telah mendukung buku ini”, harap Dadang.

Buku Kita Telah Mati menjadi satu dari empat buku yang rencananya akan dikeluarkan dalam setahun kedepan. Naskah salah satu bukunya juga telah selesai dikerjakan dan dalam proses penyelesaian. [mahbubah lubis]

Apa Tanggapan Anda?